6/5/18

Dear Organda dan Supir-Supir Sialan

Kalian ini emang bener-bener makhluk laknat tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih.

Bertahun-tahun saya pakai jasa kalian, dari mulai harga masih di bawah lima ribu sampai sekarang sudah hampir sepuluh ribu mendekati ongkos bis, kalian sama sekali tidak pernah berubah. Kalian tai semuanya.

Kalian, supir-supir sialan, tidak pernah memberikan pelayanan baik kepada penumpang. Entah apa motif kalian tapi penyakit kalian yang selalu saya lihat dari era ke era itu adalah jika bertemu dengan sesama kalian maka kalian akan kebut-kebutan. Sungguh, itu memuakkan dan tidak berfaedah. Bahkan merugikan penumpang, apalagi jika mobil sedang dalam keadaan kosong. Sekarang mungkin lomba itu sudah tidak kalian lakukan lagi, tapi kebut-kebutan melawan entah apa tetap kalian lakukan. Kalian tidak pernah peduli dengan kondisi jalanan, mau jalanan mulus atau tidak mulus. Kalian tidak pernah peduli dengan penumpang yang terganggu, bahkan terlempar, ketika kalian sedang ngebut. Saya bahkan pernah beberapa kali mendapati ibu-ibu tua terlempar atau apalah ketika kalian ngebut, dan kalian hanya bisa minta maaf padahal jangan-jangan anggota tubuh si ibu sudah bergeser atau terluka apalagi ibu itu sudah tidak muda lagi. Hei kontol Ultron, kalau segala hal bisa diselesaikan dengan maaf lalu apa gunanya ada penegak hukum?

Kebiasaan lainnya yang tidak kalah memuakkan adalah kalian seenaknya menurunkan penumpang sebelum sampai ke tujuan, dengan alasan mobil kosong lah, apa lah, kalian ada keperluan lain lah, peduli setan. Masih mending kalau ketika penumpang diturunkan langsung bisa naik ke mobil berikutnya yang datang, ini seringkali mobil berikutnya datang begitu lama dari saat diturunkan. Kan bangsat. Buang-buang waktu. Kenapa sih kalian harus melakukan itu? Kenapa kalian nggak antarkan kami, penumpang, sampai tujuan apapun yang terjadi karena itu kan tugas kalian? Kenapa kami harus peduli dengan mobil kosong dan urusan kalian yang lebih penting daripada mengantar kami? Kalian sedang bekerja di jam kerja. Kalau memang ada urusan lain, kenapa kalian tetap menyupir angkot dan mengambil penumpang? Nggak usah aja dari awal bisa kan? 

Yah, kalian memang makhluk laknat layak binasa, mana ngerti sih logika semacam ini.

Lalu yang lebih lucu lagi adalah belum lama ini sewaktu ojek dan taksi online mulai menjamur, kalian demo. Kalian, para supir bangsat sialan tidak tahu diri dan tidak berperikepenumpangan ini. Kalian demo karena kalian kehilangan penumpang. Penumpang berkurang, penghasilan berkurang. Heh. Serves you right, peju amuba. Kalian pikir kalian ini siapa? Kalian pikir kalian berhak demo dan protes dengan tuntutan semacam itu? Memang kalian sudah melakukan apa sehingga merasa lebih layak mendapatkan penumpang daripada ojek dan taksi online? Sudah memberi pelayanan yang terbaik untuk penumpang? 

Jangan bikin saya ketawa, deh.

Setelah hype demo-demo ojek online berakhir, saya pikir kalian berubah. Memang sih, kualitas mobil angkot ditingkatkan. Saya hampir udah nggak pernah lagi menemukan mobil tua butut dipakai untuk mengangkut penumpang, semuanya mobil baru. Tapi yah, itu saja. That’s that. Selebihnya, perilaku kalian yang saya bahas di atas tidak berubah sama sekali. Kalian masih ngebut dan seenaknya menurunkan penumpang. Padahal justru penumpang lebih membutuhkan perbaikan perilaku daripada infrastrukturnya. Buat apa mobil baru dan bagus jika kami masih tidak diantarkan sampai ke tujuan?

Organda, pernah nggak kalian peduli dengan keadaan ini? Saya bukannya tidak sadar dan tidak mau tahu, kok, bahwa supir-supir sialan kalian itu berperilaku layaknya manusia purba karena sistem kejar setoran yang kalian terapkan. Kalian nggak ingin melakukan perbaikan apa, gitu, untuk bersaing dengan ojek online dalam memberikan pelayanan terbaik ke penumpang?

Sincerely,
Pengguna angkot selama 18 tahun