12/29/13

Berpakaian yang Baik


Hari ini gue ingin coba menulis tentang "berpakaian".

Kemarin di perjalanan pulang dari Bogor ke Jakarta, di dalam Commuter Line, salah seorang sahabat lawyer cerita tentang pertemuan dia dengan seorang rekan lawyer di suatu pengadilan. Iya, rekan kita, dulunya satu kantor juga dengan kita semua yang kemarin pergi ke Bogor. Jadi, cukup jelas bagaimana kita yang seprofesi mengenal rekan lawyer yang satu ini.

Sahabat gue bilang dia ketemu orang ini, yang katanya akan mengikuti sidang, dalam pakaian yang tampak "murah". Tampak murah di sini maksudnya adalah meskipun ternyata pakaian itu mahal, tetap saja tidak kelihatan mahal ketika dikenakan orang itu. Padahal yang dikenakan itu adalah jas yang cukup bagus dan pas di badan orang itu. Dan memang, lawyer adalah profesi yang dinilai dari pakaian, sama seperti selebriti. Jadi orang itu pasti memakai jas yang bagus, dan mungkin mahal, agar tampak seperti lawyer yang qualified.

Sayangnya, sebagaimana sahabat gue jelaskan, usaha itu tidak berhasil.

Lalu gue, bertiga dengan sahabat-sahabat lawyer gue, termasuk yang punya cerita, menganalisa mengapa seseorang bisa tampak tidak elegan meski sudah memakai pakaian mahal. Karena jujur saja, kita cukup sering melihat rekan seprofesi lainnya yang berpakaian tidak mahal tetapi tetap tampak bagus, pantas, dan worthy ketika dikenakan. Ada beberapa kemungkinan. 

Pertama, orang itu tidak tahu fashion. Artinya orang ini main memilih pakaian bagus, dan mungkin mahal, tanpa memikirkan apakah pakaian itu cocok untuknya atau tidak. Bahasa kasarnya sih "sok-sokan". Dengan berpedoman pada "lawyer adalah profesi yang dinilai dari pakaian" saja, dia membeli baju mahal tanpa menyesuaikan dengan bentuk dan tinggi badannya. Ini kemungkinan yang paling menyedihkan.

Kedua, orang itu memerlukan perbaikan penampilan yang lain selain pakaian. Mungkin model rambut, mungkin harus menumbuhkan kumis, mungkin harus menyukur jambang, mungkin harus merapikan gigi dengan kawat, mungkin harus melepas kacamata, dan mungkin-mungkin yang lainnya agar cocok dengan suatu jenis pakaian.

Ketiga, orang itu harus lebih banyak mengeluarkan aura positif. Kalau mengambil contoh dari rekan yang gagal berpakaian mahal itu, salah seorang sahabat gue bilang dia harus lebih banyak senyum dan berhenti bergaya sok cool. Pendapat sahabat gue ini sempat gue sanggah karena pada saat di keramaian, atau di pengadilan, gue seringkali pasang gaya cool juga dan tetap dipuji cantik oleh staf-staf pengadilan. Tapi kemudian gue ingat bahwa "cool beauty" tidak sama dengan "sok cool", which makes my best friend's opinion turns valid.

Keempat, ini pendapat gue, orang itu harus mengasah kualitas dirinya. Pendapat ini muncul karena gue, dan dua sahabat gue itu, tahu betul betapa orang itu memang sudah berlisensi advokat tetapi sama sekali bukan advokat yang qualified. Apa maksudnya? Maksudnya adalah kita tidak pernah melihat hasil kerja dia yang merupakan buah pemikiran, seperti draft gugatan atau draft memori. Pun setelah kita tidak sekantor, kabar yang gue dengar dari orang-orang yang pernah bekerjasama dengan orang itu pun adalah kabar menyedihkan bahwa orang itu pernah mencuri draft buatan lawyer lain (yang kebetulan sahabat gue juga) kemudian dia membuat seolah-olah itu draft buatannya, dan pernah meminta lawyer lain (yang bahkan waktu itu belum berlisensi) untuk membuat draft yang seharusnya dibuat oleh dia. So, it is obvious that he is quite low qualified and we laughed to a fact that he obtained a license.

Lho, terus apa hubungannya kualitas diri dengan pakaian mahal, Fit?

Ada. Orang yang terus-menerus mengasah dirinya dengan belajar, bekerja keras, melakukan hal yang berarti, membantu orang lain dalam kebaikan, dan melakukan segala hal-hal baik akan memiliki aura berbeda dengan orang yang sekedar mencuri pekerjaan orang lain untuk diakui sebagai pekerjaannya. Kebaikan dan kecerdasan orang itu akan terpancar dengan sendirinya tanpa ia harus memakai pakaian bagus dan mahal, bahkan tanpa berbicara. Orang dengan kualitas seperti itu, pun ketika mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja, akan tetap tampak bersinar. Orang lain tidak akan lagi melihat apa yang dikenakannya, tapi seluruh dirinya. Apalagi kalau orang ini memang tahu fashion dan memancarkan aura positif, semakin enak dilihatlah dia.


Terlepas dari soal aura, berpakaian bagus juga sebenarnya butuh latihan dan uji mental. Gue pribadi untuk sampai ke tahap bisa berpakaian bagus, lucu, cantik, seksi, dan sejenisnya pun tidak sejak lahir. Dan bagaimana agar tetap bisa berpakaian seperti itu dengan kepala menengadah pun butuh mengasah otak dan hati untuk tidak memedulikan pandangan dan cibiran orang lain. Intinya ya tidak boleh insecure. Kalaupun insecure, insecurity itu hanya boleh membuat gue berpakaian lebih cantik lagi, bukannya malah batal berpakaian cantik. Yah, memang tidak gampang, tapi menyenangkan sekali kalau sudah bisa melewati semua tahap latihan itu :3

Oh ya, kembali ke pembahasan tentang si rekan lawyer yang gagal memakai baju mahal itu, gue memikirkan kemungkinan kelima yaitu: dia memang butuh fashion stylist.

Sekian dan sampai jumpa tahun depan! (^.^)/

12/12/13

Blame Loki Laufeyson!

 
Loki is a little shit.
 
 
Gara-gara jatuh cinta sama karakter ini, gue nggak berhenti ngegambarin dia, kakaknya, dan anggota Avengers lainnya. Tiap nyalain PC, gue nggak bisa nggak buka MS Paint lalu menggambar.
 
Ini semua gara-gara film Thor: The Dark World!
 
Nggak, gue nggak jatuh cinta sama Loki Laufeyson pas nonton film itu, kok. Gue udah jatuh cinta sejak pertama lihat dia di film Avengers. Yes, gue nge-skip nonton film Thor yang pertama gara-gara mikir "apaan sih nih film pasti nggak jelas, cuma orang gede berotot bawa-bawa palu".
 
Jadi, tanpa gue pernah melihat sisi unyu-unyu Loki di film Thor yang pertama, gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pas nonton Avengers bareng keluarga, dan gue masih ingat komentar gue setelah sekitar lima menit lihat adegan-adegan Loki: cowok ini ganteng banget ya.
 
Bitch, please. I should have said something the world does not know.
 
Lalu berhubung Loki adalah Tom Hiddleston di dunia nyata, gue pun mengeset wallpaper di home dan lock screen Macaron (it's my maroon Samsung Galaxy S3) dengan foto Tom. Gue sih agak geli-geli gimana ya tiap nonton adegan Loki dan ingat dia itu Tom, karena mereka physically berbeda sekali. Wajah Loki di film itu wajah psikopat, sedangkan wajah Tom di dunia nyata itu innocent, genuine. Make-up artist di film-film Marvel emang juara deh.
 
Lalu, kenapa gue jadi menulis tentang Loki ya?
 
Truthfully, menggambar Avengers+ (+ Loki, of course) menenangkan hati dan pikiran gue. Menggambar sesuatu yang gue sukai, hal yang manis, lucu, dan menyenangkan selalu membuat gue happy. Marah dan sedih langsung menghilang. Galau dan gelisah sirna. Ini lama-lama kata-kata gue nyerempet lirik lagu-lagu KLA deh. Susah memang move on dari konser mereka. Wait, ini bukannya lagi bahas Loki ya?
 
Gue sudah menggambar sejak usia gue sekitar 3-4 tahun. Dari mulai mencoret-coret, mewarnai, meniru gambar yang sudah ada, sampai akhirnya menemukan karakter gambar gue sendiri. Tapi jangan salah, menggambar bukan passion gue. Gue nggak bisa menjadikan kemampuan menggambar gue yang sangat pas-pasan ini sebagai mata pencaharian. Kenapa? Karena gue moody. Gue hanya akan menggambar saat sedang dapat mood, dapat ide. Makanya gue hampir selalu menolak permintaan orang untuk menggambar sesuai keinginan mereka. Karena gue moody. Hasilnya tidak akan se-memuaskan gambar yang gue buat pada saat gue mood, pada saat gue ingin.
 
Passion gue hukum. Cita-cita gue lawyer.
 
Tapi pada saat gue stress, tertekan, bosan, marah, sedih, kesal, dan merasakan semua hal negatif terhadap pekerjaan gue, menggambar-lah yang akan menyembuhkan.
 
So, after all, I would like to present some Avengers+ doodles that I favorite of all my doodles. Don't expect a tidy one. Never. I always messed everywhere.
 
 





 And that's all so far :3

12/2/13

Golongan Darah, PDKT, dan Avengers+

 
How about being a blood-type person instead of zodiac (and others) person?
 
Entah kenapa gue memilih menjadi blood-type person. Iyah, kalo lihat orang kenapa-kenapa atau gimana-gimana langsung menghubungkan dengan golongan darah, atau menjadikan itu dasar untuk menebak golongan darah mereka. Pas lihat orang ngomong cablak langsung mikir 'pasti B nih' atau pas lihat orang insecure langsung mikir 'emang A banget deh nih orang.'
 
Dan gue biasanya lebih mudah menebak golongan darah orang saat mereka PDKT. Baik itu PDKT ke gue atau ke orang lain. Jadi bagi yang belum tahu golongan darahnya apa dan males ngecek alias takut disuntik, silakan PDKT ke gue atau PDKT di dekat gue supaya bisa gue tebak. Biasanya sih tepat, karena orang yang PDKT akan melakukan hal-hal tertentu yang lebih mudah dideteksi ketimbang orang-orang yang tidak PDKT.
 
#EAAA
 
Curhat ah. Gue nulis postingan ini dalam keadaan kangen sama seorang O. Padahal baru juga minggu lalu nonton konser bareng. #EAAA banget ah.
 
Anyway, udah lama banget gue pengen doodling Avengers+ beserta prediksi golongan darah mereka masing-masing, dan akhirnya keinginan itu terwujud pada hari Minggu lalu. Masalahnya adalah terwujudnya pada hari Minggu pukul 00:00 s/d 02:30. Entah kenapa gue baru pengen ngegambar jam segitu dan akhirnya jam tidur gue jadi berantakan.
 
 
It took quite thoughtful for me to decide what are Loki's, Nat's, and Tony's blood type. Dan beban semakin berat ketika tiba saatnya menggambar Tony, karena gue bakal gagal sebagai fans Iron Man doodler kalo Tony-nya nggak ganteng atau minimal nggak tampak bandel wajahnya.
 
Meskipun gambar itu tidak rapi, gue cukup puas dengan hasilnya, dan yang paling gue suka adalah tanpa sadar gue membuat pose yang sama untuk masing-masing tipe. Baru ngeh pas lihat yang berdiri cuma grup B, sedangkan di grup A sama-sama ada mata tertutup. Group O sama-sama pegangan ke hurufnya. Kya~n...dan mereka semua manis walaupun hanya menurut gue.
 
After all, I think I will stay blood-type person. And doodling :3
 

10/23/13

How Audio?


How audio are you?



Katanya pria itu makhluk visual. Wanita itu makhluk audio. Pria menyukai hal-hal yang enak dilihat, sedangkan wanita menyukai hal-hal yang enak didengar. Itu mengapa pria menyukai wanita cantik (bagi yang straight) dan wanita menyukai pria yang pandai merayu (ya, bagi yang straight juga tentunya).

Katanya.

Benarkah? Seberapa benar?

Mungkin secara garis besar itu memang benar. Sebagaimana wanita yang merupakan makhluk audio, gue memang senang mendengar perkataan indah. Bukan dalam bentuk kata-kata puitis dan kalimat berbunga, karena bagi gue yang juga seorang penyair-wannabe itu hanya akan terdengar sebagai gombalan tidak berarti. Tidak perlu juga sampai menciptakan lagu cinta untuk gue, karena andai gue bisa memainkan alat musik, gue juga pasti sudah menciptakan lagu cinta entah berapa banyak. 

Lalu apa yang senang gue dengar?

Mungkin perkataan yang menenangkan. Mengejutkan. Disampaikan secara tidak terduga. Tidak puitis, tapi lebih kepada lugas dan mudah gue tangkap. Sebagaimana pernah gue tulis di postingan sebelumnya, gue tidak pandai membaca kode. Gue suka berburu, tapi tidak pandai membaca isyarat yang diberikan oleh buruan gue, sekalipun isyarat itu adalah untuk menangkapnya. Kurang lebih sama seperti gue senang jalan-jalan, traveling, tetapi gue tidak bisa membaca arah alias buta arah.

Yah, gue memang menyukai tantangan yang seperti itu.

Dan ternyata ada hal lain yang senang gue dengarkan selain perkataan yang menenangkan dan mengejutkan, yaitu penjelasan yang disampaikan oleh pria dengan tingkat intelektualitas tinggi. Tidak disampaikan dengan menggunakan istilah-istilah teknis suatu bidang, melainkan menggunakan kalimat dalam deskripsi yang bisa gue, atau orang awam, terima. Penjelasan yang tidak membuat gue merasa bodoh, melainkan membuat gue merasa ruang-ruang pengetahuan gue yang kosong akhirnya terisi.

Intinya, gue memang lemah dengan pria cerdas. Dengan para penangkap hati yang  kecerdasannya membuat gue ingin berlari memburu mereka.

Pria cerdas yang pandai bicara, meski bukan berarti pandai bergaul dan social butterfly, biasanya akan berinteraksi sangat baik dengan gue melalui obrolan. Dan tidak ada yang membuat gue ingin memburu seseorang lebih dari obrolan yang menyenangkan, yang membuat gue ingin dan ingin lagi melakukannya, bila perlu dalam 24/7/365. Setampan-tampannya pria, se-ideal apapun bentuk dan ukuran tubuhnya, tidak akan ada artinya jika dia tidak bisa menjaga obrolan yang menyenangkan dengan gue.

Jadi benar, gue memang makhluk audio. Makhluk audio pemburu pria cerdas yang bisa diajak mengobrol sepanjang waktu, obrolan mana tidak akan pernah membosankan karena selalu dan selalu ada bermacam topik baru yang bisa kita bicarakan.

Berangkat dari pemikiran gue tentang topik di atas, gue terinspirasi menulis puisi baru tentang penangkap hati yang gue sebutkan di atas. Here it goes.

I was about to text you 'good morning'
Yet your long messages blew it away
About BBM for Android you kept texting
Drowned in long talk as we've been this way

One month passed without we notice
We passed by, remembering all these

We were both strangers to each other
While our places have been the same forever
Who knew we turn to share every laughter
And the songs we sing have made it better?

I studied where you did, live where you do
Like peas in one pod, we are that same two
Patapoko puzzle that now you're so into
Did you play it for you know I love to?

I was afraid you'd kidnap me when we meet
Instead, your speech got my heart abducted

Your eyes stole mine when you slash Microsoft
I asked questions like kissing your sight
Line Offline locked us in our own croft
Into cakes and ale tying us tightly side by side

Clovers you sent now are not enough
Heartcaptor, in my world you're turning rough

(Heartcaptor, October 22, 2013)

8/27/13

(Akhirnya) Puisi Baru Lagi


YAHOOOO!

Tadinya gue mengira gue udah nggak bisa lagi menulis puisi. Terakhir gue buat itu sekitar awal April pasca dramatic break-up terakhir gue, itu pun semacam...yaaah, formalitas. Isinya kurang emosional.

TAPI!

Ternyata kejadian lucu di pesta pernikahan sahabat gue minggu malam kemarin malah membuat gue terinspirasi. Bukan, bukan pernikahannya yang menginspirasi, tapi siapa yang gue temui dan bagaimana kami semua berinteraksi kemarin. Yah, tidak penting untuk menyebut detil pernikahan siapa dan siapa saja yang gue temui, pokoknya seperti itulah.

Mungkin gue ingin mengutip sepatah dua patah lirik dari lagu Whitney Houston yang kebetulan baru gue ketahui pada saat mendengarkan Glee cast menyanyikannya.

I get so emotional, Baby
Everytime I think of you
I get so emotional, Baby
And it's shocking what love can do

Ya, gue akui, setiap berinteraksi dengan orang ini gue selalu merasa emosional. Entah dalam artian positif atau negatif, karena kebetulan gue sudah pernah merasakan keduanya. Tapi kali ini gue merasakan emosi positif, makanya gue bisa mengeluarkan frasa baru yang sangat gue suka hingga gue jadikan status di BBM: Last Puzzle Piece.


Berangkat dari tweet siang tadi yang tidak mencapai 140 karakter, yang juga mengandung frasa itu, gue tertarik untuk sekali lagi mencoba berpuisi. Sayangnya mungkin hasilnya tidak...sesuai. Maksudnya antara isi dan judulnya tidak sinkron. Yah, tadinya gue berencana untuk membuat kerangka tema dengan mem-breakdown kata dan kalimat apa saja yang harus muncul, tapi ternyata gue keburu malas. Keburu memegang BlackBerry dan membuka aplikasi NotePad untuk menulis puisi baru.

Last Puzzle Piece sebenarnya ingin menyampaikan bagaimana seseorang, dengan caranya yang tidak dapat diterka logika, menjadi potongan puzzle yang melengkapi sebuah gambar puzzle, dalam hal ini melengkapi hati dan hidup si subyek pertama dalam puisi. Sayangnya sepertinya gue terlalu asyik bermain pada sisi historis kedua subyek puisi, sehingga 'cara yang tidak dapat diterka logika' tersebut tidak sempat terungkap. Yah, memang gue sendiri nggak punya ide untuk mengungkapkan itu. 

Memang menyedihkan kalau punya bakat nanggung. Ah bakat apaan, ini kan hanya coretan iseng untuk mengisi waktu luang (T_T)

Ya sudah, selamat menikmati Last Puzzle Piece. Do you like it or hate it?

It has been more than one year ago
More than the day that we first met
I have not forget how you choose to go
Leaving a hole in my earth like a comet

But nothing changes since that day
We never really said hello to goodbye

I burned all the pictures of us to ashes
Hatred overwhelmed us to stab each other
While in the ocean we failed to find fishes
Inseparably we were stuck with each other

I saw you again as I caught your eyes
Every dispute disappeared in one single blink
As if you brought the last of my puzzle pieces
When you were near, you kept my ship sink

This is the moment to admit honestly
We never really moved out of you and me

Farewell to pretendings we committed
I watch you from here, acknowledging my love
Singing my lullaby loud for you to be kept
Through your heartpod, creep into your cave

With you within, my life is whole
The empty space is filled by your role

(Last Puzzle Piece - August 26th '13)

7/25/13

Jodohmu, Makanan Favoritmu


Dulu pernah ada teman yang bilang begini:

'Daerah asal makanan favoritmu bisa menjadi acuan petunjuk dari daerah mana jodohmu akan berasal'.

Yeah sure, Dude, you already married him.

Tapi mungkin bisa jadi benar. Si teman ini memberi contoh yaitu kakaknya sendiri, yang sangat suka dengan Pempek Palembang dan akhirnya menikah dengan pria Palembang. Contoh berikutnya adalah si teman sendiri, yang sangat suka dengan Bakso Malang dan akhirnya menikah dengan pria Malang.

*sebentar, gue mau ngikik dulu*

Beralaskan cerita teman gue itu, gue mencoba meyakini bahwa mungkin memang jodoh gue bisa ditelusuri dari makanan favorit. Gue sempat berpacaran dengan pria Minang, dan saat itu gue menyadari bahwa gue memang sangat menggilai Nasi Padang, dan gue memiliki kekaguman tersendiri pada detil bumbu pada kuliner asal Sumatra Barat. Saat itu gue berpikir 'oh, benar juga nih' terhadap teori teman gue, mungkin saja 'kan, si pacar waktu itu memang berjodoh dengan gue.

Tapi akhirnya toh kita putus, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda akan kembali baik dalam waktu dekat maupun waktu yang akan datang. 

Setelah itu gue berpacaran dengan pria Cirebon. Alright, Dude, you are so right, karena gue sejak kecil sangat suka dengan udang yang notabene populer dibudidayakan di Cirebon. Setelahnya gue baru mengetahui pula bahwa Empal Gentong yang membuat gue jatuh cinta pada jilatan pertama di acara pernikahan teman gue yang lain juga ternyata berasal dari Cirebon. Fix, jodoh gue pasti pacar gue.

Tapi nyatanya kita putus juga, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kita berjodoh. 

Lalu dari mana jodoh gue akan berasal?

Tentunya gue harus bisa menjawab dulu pertanyaan 'apa makanan favorit gue?'. Sayangnya sampai sekarang gue masih belum bisa menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang tegas ( T _ T )  Terlalu banyak makanan yang gue sukai. Gue suka nasi Padang, udang, telur, cokelat, sushi, pasta, pizza, sandwich, hamburger, soto, sate, gorengan, jeroan, dan masih banyak lagi makanan yang belum bisa disebutkan di sini.

( T _ T )

Sepertinya teori teman gue itu nggak bisa diterapkan untuk gue, hanya bisa untuk dia dan keluarganya. Atau mungkin bisa untuk orang yang punya hanya satu makanan favorit yang benar-benar favorit.

Ngomong-ngomong, gue suka cokelat, seperti halnya nama blog ini, chocofit, nama yang gue ambil dari karakter Sanrio, ChocoCat, kali ini dengan menggabungkan nama salah satu makanan favorit gue dengan nama panggilan gue.




Apa mungkin gue akan mendapat jodoh dari tempat di mana cokelat berasal atau diolah? Mungkin dari Belgia? Atau...dari daerah yang menganggap cokelat adalah makanan para dewa, Suku Inca? :|

6/20/13

Denial


The ones that hurt you are the ones that needed you the most.

Kalimat itu gue baca di postingan text seorang teman di Path. Gue diem waktu baca kalimat itu. Pertama, itu mungkin benar. Kedua, itu tidak masuk di logika gue.

Gue mulai dari alasan nomor dua: tidak masuk di logika. Hello, kalo emang lo butuh kenapa lo nyakitin orang itu? Apa lo berpikir bahwa meski disakitin, orang itu akan selalu ada dan selalu memaafkan lo? Selalu kembali ke elo? Nggak, bro! Setiap manusia punya keterbatasan, dalam hal ini batas kesabaran. Akan ada saatnya mereka muak disakitin sama lo. Oke, kecuali orang tua, keluarga. Tapi dalam pertemanan, percintaan, pekerjaan, lo nggak bisa seperti itu. Lo suka, lo butuh, ya lo perlakukanlah orang sebagaimana mestinya. Nggak usah denial, buat apa denial? Apa akan membuat keadaan jadi lebih baik? Apa akan menunjukkan progress? Menunjukkan kemunduran iya.

Alasan nomor satu: itu mungkin benar. Terkadang cinta yang besar malah bisa berbalik menjadi kebencian, atau penyangkalan (denial). Jujur, gue pernah mengalami ini. Gue punya pacar yang gue cinta banget, bahkan sampai setelah putus, mungkin sampai sekarang saat gue menulis portingan ini. Apa yang gue lakukan? Denial. Berusaha mengusir cinta gue. Waktu putus, gue bertekad gue harus move on segera. Gue sampaikan itu ke seluruh dunia. Kenapa? Karena gue nggak rela punya perasaan cinta buat dia. Gue merasa cinta itu harus lenyap. Akhirnya gue punya pacar baru. Lalu apakah gue move on? Tidak.

Yang gue lakukan selama periode pacaran dengan si pacar baru adalah mem-bully si mantan dengan memamerkan pacar baru gue dan menyindir lewat quote lirik lagu. Itulah bukti gue tidak move on. Bukti gue masih cinta. Si mantan masih menginap di relung hati dan benak gue, meski sebagai obyek kebencian. Aksi-aksi kebencian gue pun sebagai bentuk penyangkalan bahwa gue masih cinta dia dan perasaan gue nggak cukup kuat ke si pacar baru.

Tapi yang gue lakukan murni penyangkalan. Bukannya gue butuh dia. 

Untuk pernyataan 'butuh', gue punya contoh lain, yaitu si mantan yang gue bicarakan di atas. Dulu sempat terjadi clash antara gue dan dia pasca putus, dimana gue me-remove dia dari medsos, phonebook, dan BBM contact. Ternyata dia kebakaran jenggot lalu mengerahkan dua sahabatnya (yang juga teman2 baik gue) untuk melobi gue supaya dia balik lagi ke medsos gue, which was also kedok untuk balikan. Akhirnya gue kembalikan dia ke medsos dan hape, lalu kita berusaha menyelesaikan clash itu. Setelahnya gue coba membangun komunikasi yang baik lagi, tapi tanggapan dia nggak ada perubahan dari sebelumnya. Pernah gue ajak dia kumpul2 sama temen2, dia nggak bisa, gue bilang ya udah, eh dia marah2 seolah2 gue bete dia ga bisa. Ya kaliii -_- pernah juga kejadian gue iseng nyapa dia randomly, eh dia jawab lagi nggak mood. Nah, moment 'lagi nggak mood' itu gue jadikan titik akhir pencarian jalan balik, lalu gue pacaran dengan si pacar baru.

Ternyata selama gue pacaran dengan si pacar baru, si mantan labil ini suka nanya2in kabar gue ke temen2 gue dan sering posting2 kata2 atau lagu2 galau di Path. Aih...keliatan banget gagal move on, padahal dulu clash-nya sama gue itu karena dia deket sama cewek lain (sampai foto mesra gandeng2an tangan). AIIIH. Lalu setelah gue putus dengan si pacar baru, gue coba lah bangun komunikasi sama dia. Gak juga loh berubah. Gue tanya nomer hapenya yang notabene hilang karena gue save di BlackBerry yang dihilangin sama service center, jawabnya apa? Dia bilang gue delete nomer dia, dan dia nggak peduli sama penjelasan gue. MATIK.

I know he acts that way to deny that he still loves me. He needs me. It's obvious. 

Meanwhile, I'm a fact-minded. Kalo tindakan nyata tidak mencerminkan apa yang diinginkan, ya gue akan anggap dia tidak menginginkan hal itu. So, I walk away and for the second time remove him from all social medias and BBM contact. Perlakuannya ke gue udah gue anggap melewati batas kewajaran dan gue bisa sinting kalo tetap membiarkan dia ada di dunia gue.

So, it might be true that the ones who hurt you most are the ones who need you most. But to me, that kind of statement will be statement, because what I need is action to show that I'm needed, and not anything backwards.

6/9/13

Dua Kaki


Love is a ruthless game unless you play it good and right

Gue setuju sama penggalan lirik State of Grace-nya Taylor Swift di atas. Cinta itu kejam, tinggal tergantung attitude kita terhadapnya.


Belakangan ini entah kenapa gue lihat banyak orang yang 'bermain di dua kaki'. This is not a new term, I guess, but maybe not everyone figure it out. Jadi ini adalah kondisi di mana seseorang yang sudah berpacaran dengan satu orang mengaburkan statusnya untuk mendekati orang lain yang ia sukai.

Gue pribadi memandang ini bukan hal yang seratus persen salah, karena namanya masih pacaran artinya belum ada ikatan yang legal seperti halnya menikah. Gue juga tidak bisa menilai ini hal yang salah, ketika kedua orang yang sepakat untuk berpacaran membuat 'kesepakatan lain' untuk tidak saling mengikat satu sama lain, just in case di tengah-tengah hubungan salah satu atau keduanya akan bertemu dengan orang yang lebih baik.

Tapi, apakah gue setuju?

Jawaban gue adalah tidak.

Bagi gue, ketika gue memutuskan untuk berpacaran dengan seseorang, gue berkomitmen dengan dia dan dengan diri gue sendiri. Memang bukan secara hukum, tapi memangnya setiap komitmen harus dilakukan secara hukum? Gue berkomitmen bahwa dengan gue menjadikan dia pacar gue, gue memberi kesempatan kepada dia dan diri gue sendiri untuk berbagi apa yang tidak kita bagi dengan orang lain. Bahkan dalam kasus gue, gue berhenti memohon, katakanlah berdoa, agar dipertemukan dengan jodoh gue. Kenapa? Karena gue sedang memberi kesempatan kepada pacar gue. Siapa tau pacar gue inilah jodoh gue. Jadi redaksional permohonan/doa gue berubah sedikit, menjadi permohonan agar jalan gue bertemu jodoh dilancarkan.

Jadi, kalau gue menemukan orang yang sudah berpacaran tapi masih mendekati orang lain, ya gue cukup tau aja. Of course I'm going to lack respect, but only in relationship issue, bukan berarti gue berhenti berteman dengan orang itu. 

Dan bagaimana kalau yang didekati oleh orang yang sudah berpacaran itu adalah gue?

Tiada ampun. Bahkan apabila dia dengan pacarnya sudah membuat 'kesepakatan lain' sekalipun. Jangan coba-coba sama gue sebelum dia selesaiin urusannya sama pacarnya.

Bermain di dua kaki boleh-boleh aja. Tapi tempatkan kedua pijakan di posisi yang sama. Satu pijakan aja udah berada di posisi yang lebih tinggi, itu namanya berkhianat. Jujur, gue pernah bisa dibilang melakukan permainan dua kaki ini. Tapi posisi kedua pria itu waktu itu sejajar: bukan pacar gue. Salah satu dari mereka mantan gue, dan satunya lagi semacam target baru. Si target baru ada di sekitar gue dan sering ketemu gue tapi jarang berkomunikasi via alat komunikasi, sedangkan si mantan jauh dari gue dan lebih banyak berkomunikasi via BBM. Posisi mereka sama, tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi, tidak ada yang lebih gue sukai, tidak ada yang lebih gue harapkan. Yang manapun yang nanti jadi pacar gue tergantung pada kejelasan dan ketegasan sikap mereka.

Akhirnya si target baru-lah yang jadi pacar gue karena dia lebih tegas dan jelas. Si mantan harus gue tinggalkan. See? Seperti itulah seharusnya permainan dua kaki dilakukan. Pemain harus berada dalam kondisi tidak berbohong, tidak perlu berbohong, dan tidak masalah bila berbohong. Zero area. Gue tidak berbohong, karena tidak ada yang bertanya. Gue tidak perlu berbohong, karena kondisi gue saat itu sedang sendiri sehingga gue bebas melakukan apa pun. Dan sekalipun gue berbohong, tidak boleh ada yang mempermasalahkan karena gue tidak terikat.

This is a state of grace
This is a worthwhile fight
Love is a ruthless game
Unless you play it good and right

6/6/13

Kode


Kabarnya, cewek itu suka ngasih kode. Benarkah?

Entah. Gue sendiri pernah ngasih kode ke cowok yang gue suka supaya dia jadi pacar gue. Tahun lalu, gue naksir temen sekantor yang sering chat (BBM, WhatsApp) sama gue, tapi nggak kunjung ngajak jalan. Padahal sebentar lagi kontraknya habis dan dia nggak berniat perpanjang. Berhubung gue nggak mau kehilangan kesempatan untuk dapet pacar, gue post lah di Path screenshot dari lock screen iPod gue di bawah ini:




Hasilnya? Yaaah, dia merespon dengan komen yang menyiratkan dia tau maksud gue. Lalu beberapa minggu kemudian, dia jadi pacar gue.

Tapi gimana dengan kemampuan gue sendiri dalam membaca kode?

I say, payah ( ._.)/|

Gue orang yang sangat suka menghubung-hubungkan satu hal dengan lainnya. Iya, itu sifat dasar orang berdarah AB, khususnya gue. Mungkin di beberapa aspek, sifat gue itu menolong, misalnya dalam pekerjaan gue sebagai calon alpuket. Tapi di aspek lain, sifat gue ini gengges. Contoh: dalam membaca kode yang diberikan oleh cowok. Ada satu peristiwa terjadi dengan cowok yang sama yang gue kasih kode dalam gambar di atas (sebut saja dia X). Jadi gini ceritanya:  

Gue dan tim litigasi waktu itu masuk kantor di hari sabtu alias lembur. Si X adalah ketua tim kasus yang lagi kita handle, sedangkan dia nggak hadir lembur. Gue waktu itu satu-satunya cewek di tim. Temen setim gue yang lain, yang notabene cowok (sebut saja dia Y), ngirim SMS ke si X, ngasih tau supaya dateng ke kantor. X menolak, dia bilang nggak bisa. Lalu apa yang gue lakukan? Gue kirim BBM ke si X, maksa dia buat datang karena dia handle dokumen yang nggak dihandle anak2 lainnya. Hasilnya? dia datang.

Beberapa hari kemudian, gue dan Y kirim2an message di inbox Facebook. Y bilang X naksir gue karena dia nurut begitu gue yang nyuruh lembur. Gue menangkis, gue bilang 'lah nyatanya si X nggak pernah ngajak gue jalan tuh? Kalo dia suka, ya dia ajak gue nge-date dong.' 

The truth is, akhirnya toh dia jadi pacar gue. Dan bener kata Y, si X emang naksir gue dan sikap 'nurut'-nya itu salah satu tanda2nya.

Lebih parah lagi, gue bukan cuma nggak bisa baca kode, tapi nggak bisa baca bahasa tubuh cowok untuk bisa tau kalo dia naksir gue apa nggak. Ada cerita tentang ini, lagi2 dengan temen sekantor yang gue taksir (sebut saja dia Q), waktu gue pergi liburan berlima dalam rangka tahun baruan. Begini ceritanya:

Gue dan anak2 mampir ke Gramedia waktu lagi nyari restoran buat makan malam. Gue waktu itu langsung ke bagian komik, kebetulan ada volume terbaru komik berseri yang gue ikutin baru terbit. Waktu gue lagi lihat2 komik, nggak ada angin nggak ada hujan si Q datang lah ke tempat gue, padahal dia bukan pembaca komik. Lalu kita jadi ngobrolin komik di situ. Oh ya, dia bukan cuma datang ke gue, tapi nempel. Jadi ke mana pun gue melangkah, dia ada. Sampai akhirnya karena grogi, gue bayar duluan dan keluar dari Gramedia, nemuin si Y.

Di situ gue curhat sama Y, gue bilang gue grogi si Q deket2 melulu. Si Y ngasih tau gue si Q udah positif naksir gue juga dan sebaiknya gue manfaatin sikap 'nempel'-nya Q buat deketin dia. Gue waktu itu masih setengah yakin, karena Q cuma ngajak gue ngobrol biasa, bukan ngobrol spesial apalagi ngajak nge-date atau berduaan.

The fact is, Q juga jadi pacar gue akhirnya. Dan bener kata Y dan temen gue yang lain, si Q emang naksir gue tapi dia nunggu gue yang aktif buat bisa jadian.  

Mungkin karena akhirnya gue selalu menghubungkan kode-kode dengan fakta lapangan bahwa si cowok nggak melakukan aksi langsung yang menunjukkan dia naksir gue, hingga gue selalu sampai pada penyangkalan: cowok ini nggak pernah ngajak gue jalan atau ngajak berduaan. So, it makes every code 'mental'. Poor guys.

I'm the worst at reading codes |\(._. )