6/25/14

Pilpres 2014: Cinta Lama dan Cinta Baru

Ya jadi sehubungan dengan pemilu pilpres yang sudah semakin dekat, walau nggak sedekat ulang tahun gue, tapi tetep mungkin lebih dekat daripada hari pertemuan gue dengan jodoh gue *hiks* gue mau ikutan mainstream bahas capres.

Kagak, gue gak bakalan black campaign maupun ngedukung salah satu dari mereka di postingan ini. Bikin jorok halaman gue aja. Lagian juga emang kalo salah satunya menang hidup gue bakalan berubah drastis, tiba2 gue jadi kaya raya dan nikah sama Hiddles gitu? Kalo bisa sih gue coblos deh capres yang menjamin itu :') /eh

Jadi gini.

Sebetulnya dua capres yang sedang berlaga ini (kok berasa film action) bisa dibilang adalah cinta lama dan cinta baru gue. EIT TUNGGU DULU ini bukannya gue punya fetish terhadap bapak-bapak seperti mereka ya, harap digarisbawahi, italic, dan bold. Tapi sebagai salah satu warga negara yang lahir dan besar di negara ini, mau nggak mau gue nggak bisa selalu indifferent toh terhadap isu-isu panas? Dan terhadap dua orang ini, kita sebut saja capres nomer satu sebagai C1 dan capres nomor dua sebagai C2, gue punya feeling.

Bowo the Asian tiger-wannabe and Joko the plaid trend-setter

Gue udah tau C1 sejak jaman kuliah. Dulu dia hits banget dengan partai politiknya, yang sampe sekarang juga masih ada tapi nggak se-hits dahulu kala, yang gue waktu itu suka banget karena punya visi-misi yang bagus dan baru. Waktu pemilu 2009, gue baca di koran tentang perbandingan visi-misi satu parpol dengan parpol lainnya, dan gue langsung jatuh cinta dengan visi-misi parpol C1 yang detil dan out of the box. Iya, gue selalu suka visi-misi yang lain daripada yang lain, anti-mainstream, tapi tetep di jalur di mana rakyat memang membutuhkannya. Sayangnya dulu parpol dimaksud nggak dapet hasil yang terlalu bagus (kayaknya, gue juga lupa), jadi si C1 ini dulu cuma jadi cawapres untuk capres yang merupakan ketua parpolnya C2.

Gue tau C2 belum lama, tapi nggak baru tau juga, ya semenjak dia jadi media darling pas jadi walikota itu lah. Gue amazed sama apa yang gue baca tentang program dan aksi C2 selama menjabat, apalagi pas gue nge-twit tentang itu ada salah satu warga sana yang reply dan ngasih tau gue bahwa itu bener (terlepas dari dia buzzer apa bukan ya, tapi dulu itu sih masih jauh dari jaman pilpres ini). Gue semakin amazed pas dia jadi gubernur di kota tempat gue numpang kerja, apalagi dia punya wakil yang kurang-lebih sama okenya. Nah pas dia nyapres ini sebetulnya gue agak nggak setuju karena dia masih anak baru lah, terlalu cepet dan semacamnya, tapi ternyata pas di acara debat capres yang sempet gue tonton kemaren dia punya visi-misi yang, meskipun agak dreamy, out of the box dan dibutuhkan negara ini. Walaupun emang penyampaiannya nggak sebagus C1 ya.

Jadi, siapa yang akan gue pilih? 

Cinta lama yang bersemi kembali atau cinta baru yang menawarkan hal-hal yang betul-betul baru?

Ah sudahlah, tulisan ini bukan bertujuan untuk menjawab pertanyaan seperti itu kok. Gue cuma mau membahas sedikit, ya anggap aja gue lagi mainstream. Dan berhubung gue pada dasarnya suka dua-duanya, akhirnya gue doodle deh mereka ._.

Don't judge me ._.

6/23/14

The Liferuiner

Hatchii!

*brb bersin darah alias mimisan seliter*

Sambil ngelap darah mimisan yang berceceran di meja, biarkanlah gue menceritakan siapa pelaku di balik mimisannya gue ini.


Kurang tepat kalo dibilang penyebabnya Arifin Putra, karena yang bikin gue mimisan berliter-liter adalah Adam dan Uco, karakter dia di Rumah Dara dan The Raid 2: Berandal.

Kalo dirunut, sebetulnya (kalo nggak salah inget) udah sejak jaman abege gue udah liat orang ini mondar-mandir di layar kaca, ya main sinetron, (mungkin) iklan, dan semacamnya. Juga di majalah-majalah remaja yang gue sering baca, (kayaknya sih) dia muncul juga beberapa kali di sana. Iya, ingatan gue tentang dia emang samar-samar banget. He was nobody to me until he played Uco.
 
Bahkan ketika ada yang bilang dia dulu VJ MTV, gue cuma bisa nanya 'emang iya ya?' saking samarnya ingatan gue tentang dia. Yang gue inget jelas VJ MTV malah justru Alex Abbad, yang jadi Bejo, partner-in-crime sekaligus backstabber Uco di The Raid 2.

Satu-satunya yang gue ingat, dan itu pun harus gue pastikan lagi dengan googling, adalah dia main jadi pemeran utama cowok di At The Dolphin Bay versi Indonesia -_- iya versi Indonesia, yang akhirnya gue tonton karena gue nonton versi Taiwannya sampe selesai dan emang drama itu bagus banget ceritanya. Pas nonton versi Indonesia gue berharap banyak dong, berharap ceritanya seindah aslinya, berharap akan ada lagu-lagu baru karena drama aslinya tentang penyanyi yang baru debut di dunia hiburan, eh ternyata ya, namanya juga sinetron di mari, semua harapan gue menguap ke angkasa ._.

Lah kok gue jadi ngomongin sinetronnya -_- maap pemirsa, gue selalu emosional kalo bahas sinetron lokal yang menyedihkan itu. Masa iya di sinetron yang lagi tayang di RCTI sekarang, Oka Antara yang jadi Eka yang kewl bingits di The Raid 2 jadi  bipolar disorder tapi lemah letoy gitu, apa banget gak sih. Halah, keterusan. Stop here.

Ya jadi balik lagi ke Arifin, or I'd love to name him Evilfin actually, because the evil villainous him is the one who caused me nosbleeding, setelah gue sebarin ke seluruh dunia betapa gue tergila-gila dengan Uco-nya, barulah gue disuruh-suruh nonton aksi dia di Rumah Dara oleh beberapa teman. Berhubung gue nggak nemu link unduhan full movie-nya, gue nonton streaming lah, thanks to fast internet connection at home.

Dan nggak perlu nunggu lama buat gue mimisan, karena begitu Adam muncul dalam kegelapan aja, bukan cuma filmnya yang penuh dengan darah tapi juga meja dan laptop gue akibat ya itu, mimisan. Those two cold eyes along with sweet dangerous voice, he had butched all my life perfectly. It was kind of different with what Uco did to me, because he shot my deepest heart with his shotgun after he cocked it flawlessly.

Where had he been all his life?

Setelah gue nonton dua film itu, alkisah di suatu siang penuh kegalauan akibat nunggu apakah berkas gue verified atau tidak untuk penyumpahan advokat di Bandung, gue streaming Lost in Love karena siapa tau aja karakter dia di situ bisa bikin gue kejet-kejet lagi. Eh ternyata enggak, pemirsa. Sedikit sih pas dia marah-marah sama pemeran utama wanitanya, karena gue emang suka ngeliatin dia galak *uhuk masokis* tapi pas dia jadi baik ya udah selesai, biasa aja.

So it is obvious that the one who stole my heart is the Evilfin. 

Namanya juga lagi demam ya, kerjaan gue nggak jauh-jauh dari googling image karakter dia dong, dan seringkali hasil yang muncul bersamaan dengan image dia yang nggak lagi akting. Ih sumpah, kok bedanya jauh bingits ya? Even nyokap dan temen gue bilang dia itu nampak blo'on dan klemar-klemer. I can't correct them, I kind of have the same opinion. The ordinary Arifin might be flawless, handsome and such, but he does not have the charm like the Evilfin. Like Adam, like Uco. 


Does it mean this kid is that so-called great actor?

Entahlah. Yang pasti the Evilfin ini telah mengacaukan hidup gue. In the future, gue berharap akan melihatnya lagi dalam karakter jahat flawless yang bermacam-macam dan membuat gue mimisan lagi.

6/13/14

The (Finally) Lawyer


Jadi...

Akhirnya...

Gue lawyer.

*throw confetti*



Some things in life are indeed worth waiting for. Gue bersyukur gue nggak terburu-buru atau nggak sabaran sampai nekad bikin KTP hoax (iya, palsu maksudnya) dan ikut penyumpahan di kota lain macam temen-temen gue yang gaul-gaul itu. Bukannya gue nunggu adem ayem aja juga, banyak galau dan takutnya sebenernya. Takut penyumpahan Bandung nggak diadain tahun ini lah, takut tiba-tiba H-1 batal lah, dan sejenisnya.

Sejak gue mendengar dan mengecek kabar berita penyumpahan, hidup gue nggak tenang. Tiap hari galau dan nangis. Kenapa? Oh, macem-macem. 

Pertama, gue udah ngumpulin data dari November 2013 tapi nama gue nggak masuk ke daftar calon alpukat yang bisa disumpah karena kata koordinatornya emang datanya baru sampe bulan Oktober 2013. Da fuq? Emang dari November sampe Mei verifikatornya sibuk bingits apa sampe buat verify data masuk aja mesti nunggu jadwal penyumpahan? 

Kedua, gue salah input data pas masukin nama di daftar peserta penyumpahan. Gue salah masukin nomer sertifikat UPA, yang gue masukin malah sertifikat PKPA. Gue taunya senin sore, sedangkan selasanya kalo nggak salah hari terakhir pengumpulan data. Beuh gue nangis macam nyawa mau dicabut, lari ke toilet gedung dan masuk ke biliknya cuma buat nangis dan nelpon organisasi yang kemungkinan ngangkat teleponnya itu 1:1.000.000.000. Untungnya, maybe miracle happened, telepon gue diangkat dan gue dikasih tau besoknya masih bisa nyampein perubahan data. 

Ketiga, sampe sehari sebelum keberangkatan gue ke Jogja (iya gue tadinya mau liburan ke Jogja, udah beli tiket kereta pp dan bayar DP hostel), gue ngecek langsung ke organisasi dimaksud dan data gue masih dalam proses verifikasi. Mati gak gue. Gue ngontak temen-temen yang udah pada disumpahin dan semuanya bilang baru dikasih tau infonya H-2, termasuk ketika data mereka belum lengkap. Double dead. Itu hari rabu ya, sedangkan kamis libur dan jumatnya kantor gue diliburkan karena bos gue males kejepit. Meanwhile apabila ada kekurangan data, dan ternyata data itu harus ditandatangan bos gue, lalu apa yang bisa gue lakukan bila jumat libur? Ya sudah, terpaksa gue buat lagi dokumen yang perlu tandatangan pabos, yang untungnya dia bersedia nandatanganin meski bingung (gak usah bapak bingung, saya yang bikin aja bingung kok pak). Dan trip gue ke Jogja? Terpaksa gue batalkan karena takut terjadi hal-hal yang tidak diharapkan ketika gue berada di sana.

Keempat, bahkan sampe hari kamis pagi pun gue nggak ada dihubungin dan dikasih tau tentang status data gue. Gue nelpon bolak-balik dan nggak diangkat (ya maklum, 1:1.000.000.000). Akhirnya sekitar jam 1 siang temen gue dapet info dari temennya yang kerja di organisasi itu kalo data gue verified. Iya, cara taunya gue kayak gitu, bukan dari telepon dan sms. Ngehe kan? Horor. Gue sampe mesti minta screen capture BBM temen gue itu demi nunjukin bukti kalo data gue emang bener udah verified.

Tapi setelah gue transfer pembayaran dan konfirmasi segala macemnya, semuanya lancar.

*have some afternoon tea*

Gue dan sekitar 800 peserta (iya 800 macam bedol desa atau kawin massal) disumpahin tanggal 3 Juni 2014. Karena yang disumpahin jumlahnya hampir satu desa, terpaksa sumpah diucapkan rame-rame. Jadi kurang sakral sih, ya karena rame-rame itu, tapi ya udah lah ya, I've waited all my life juga. 

Dan ternyata perjuangan tidak berhenti sampai di situ, Jendral. Gue masih dibikin mau nangis pas tandatangan Berita Acara Sumpah di meja panitia dari Pengadilan Tinggi Jawa Barat, karena nggak ada antrian, semua orang berkumpul di sekeliling meja, rebutan, oper-operan daftar absen, dan desak-desakan. Panitia PT pun nggak membantu,  tiap ditanya jawaban mereka ngegantung as if gue belum melakukan yang mereka suruh (like: nyari info di meja lain). Akhirnya karena gue sombong dan congkak dan nggak mau ngomong sama sesama peserta (iya gue udah males kalo kondisinya chaotic macem itu, everyone looks asshole), gue harus mengandalkan telinga buat denger info tentang nomer urut dan nomer mana yang dijadiin patokan buat nyari BAS kita. Berhasil? Iya, berhasil, plus feeling kepengen mukul kepala mbak-mbak PT-nya pake baseball bat gegara sok organized dan nancepin palu ke leher peserta lainnya yang desak2an nggak jelas.

And then, it's all wrapped! I'm a lawyer!

So I can charge you with lawyer fee for some legal advices I give you from now. Muhaha.

Nope, just kidding. 25% serious though.

I can see it in the stars across the sky
Dreamed a hundred thousand dreams before
Now I finally realize
You see I've waited all my life
For this moment to arrive
And finally, I believe

(I Believe - Fantasia Barrino)