8/19/14

On Wednesday We Wear Pink Plaid

"If you love two persons at the same time, choose the second one. Because if you really love the first one, you won't fall for the second one." -Johnny Depp

Presidential election was a piece of cake.

The last time I voted, really voted, for my real favorite president candidate was in the first round of 2009 election.

So far, you surely got who I voted.

Sisanya, paling apa sih? Pilkada? Pilgub? Walikota? Who the fuck cares. Gue nggak tau siapa calonnya, kampanyenya buruk, program-programnya nggak tersosialisasi dengan baik. Again, and again, always, who the fuck cares.

Dan menyambung dengan postingan gue tentang pilpres sebelumnya, digabungkan dengan quote di awal postingan ini, sebetulnya gue masih heran kalo masih ada yang bertanya 'Fit, jadi elo pilih siapa pas pilpres kemaren?' Dude, come on. Am I that mysterious? I thought I already come out quite clearly.

 
I chose you (two)

Memang, sampai dengan hari pemilihan, gue berusaha untuk bungkam dan netral. Gue memandang kedua capres sama bagusnya dan juga sama buruknya, tidak ada yang gue bela. Tidak ada postingan gue di media sosial yang menunjukkan, bahkan menyiratkan, dukungan gue kepada salah satu dari mereka. Meskipun bukan berarti gue tidak peduli, apalagi sampai berniat untuk tidak memilih.

I mean, like, our country had been lead by the current president for 10 years in a row, and we did not even have a new face to lead us five years ago. Well, at least the vice president was new ._.

Menyambung postingan gue sebelumnya yang gue sebutkan di atas, gue menggunakan teori yang sama dalam memilih capres maupun pacar. Gue akan selalu memilih yang terbaru, bukan yang lama. Meski demikian, alasan gue memilih tentunya bukan hanya itu. Bukan hanya soal siapa yang datang duluan dan belakangan.

Dalam fanfiction The Raid yang sekarang sedang gue kerjakan, Salvation Sanctuary, gue menulis tentang pemilihan ketua OSIS, di mana salah satu kandidatnya adalah Eka. Iya, Eka yang ganteng, gagah, dan manly itu, advisor-nya Pak Bangun. 

Eka the president (of Student Council) candidate in fanfic

Dan ada satu punch line dalam speech-nya dia sebagai kandidat, yang baru akan muncul dalam bab 12 (iya, sekarang baru di-upload sampe bab 4, jadi anggap aja ini bonus spoiler) yang bunyinya seperti ini:

"...I believe that whoever you vote for the next Student Council president, your only reason would be the best vision and missions out of the rest, or the most favorite person that you think deserves serving as president."

Jadi, alasan gue memilih orang itu adalah, tentu saja, karena dia punya visi-misi yang bagus. Namun, karena pesaingnya juga punya visi-misi yang tidak kalah bagusnya, maka alasan gue berikutnya adalah gue menyukainya dan menganggapnya layak memimpin negara ini. Kenapa gue suka dan menganggapnya layak? Karena yang bersangkutan dekat dengan masyarakat dan beliau bekerja. He works. I think someone, who works his/her ass off for good, deserves to lead.

Sejujurnya, sempat terlintas di benak gue untuk memilih saingannya. Alasannya karena lima tahun lalu dia tidak terpilih, dan dia merongrongi media massa dengan curhatan-curhatannya tentang ketidakterpilihannya. For God's sake, it was as terrible as seeing daily selfie pictures of an unattractive person being posted in my timeline. Jadi, gue bermaksud memilihnya karena gue nggak mau dia merongrongi media massa lagi. Visi-misi bagus ya alasan standar lah.

But, then, really?

Pidato Eka dalam fanfic gue tulis karena gue memang berpendapat bahwa ketika kita, atau setidak-tidaknya gue, memilih kandidat pemimpin, maka selogis-logisnya alasan adalah karena visi-misi yang bagus dan orang tersebut kita anggap layak menduduki jabatan tersebut. Ketika ada alasan selain dua itu, misalnya karena nggak ada pilihan lain sehingga harus memilih yang terbaik dari para kandidat buruk, atau karena dengan terpilihnya kandidat yang kita dukung maka akan terjadi kerusuhan dan sejenisnya, menurut gue  mendingan nggak usah milih aja sekalian. Atau okelah karena golput itu tidak keren, maka berusahalah untuk mencari alasan yang setidaknya mendekati kedua alasan logis tadi.

I don't want to see myself vote because 'the other candidate(s) is worse' and not because 'this candidate is great and he/she deserves it'.
 
Anyway, bab 12 fanfic itu gue tulis tidak lama setelah pilpres. Jadi momennya memang masih hangat-hangatnya. Dan sekarang gue belum melanjutkannya lagi, padahal seharusnya sudah tidak jauh lagi dari tamat. My bad, selalu stuck setelah nulis klimaks ._.

So, as I silently promised myself before the election result came out, if my voted candidate win, I'll consider to wear plaid every Wednesday. Now that I said so, I remember I don't have enough plaids to be worn each week. Let's go shopping. Of course, after payday ._.

Oh, Dear, yes, I like the president-elect that much.