Showing posts with label jodoh. Show all posts
Showing posts with label jodoh. Show all posts

2/2/15

Berat Jodoh, Kenapa?

Siapa yang lagi nyari jodoh? Ayo, angkat tangannya...

*angkat tangan sendiri*

Iya, gue sendiri salah satu yang lagi nyari. Tapi postingan ini bukan bertujuan mempromosikan diri gue sendiri demi menyukseskan misi tersebut, kok. Gue lagi mau ngebahas kesulitan menemukan si jodoh. Atau mungkin jodoh agak berat dan berlebihan ya, menemukan 'pasangan' aja deh. Pacar, gitu.




Gue mau memulai dengan satu cerita sederhana. Jadi sekitar 2 minggu lalu gue sidang, dan di sidang tersebut gue di pihak tergugat. Selain gue, ada beberapa tergugat lainnya yang udah hadir juga, dan lagi ngobrol2 sembari nunggu penggugat yang nggak juga muncul. Nah, salah satu tergugat ini punya kuasa hukum yang cantik banget. Cantik sih emang soal selera ya, tapi cewek ini menurut gue memenuhi segala kriteria kecantikan yang dianut oleh masyarakat, yaitu tinggi, putih, langsing, struktur muka tidak berantakan, dan pandai merias wajah. 

Cewek cantik ini duduk di sebelah gue di lobi pengadilan. Tiba-tiba dia nanya gue udah punya pacar apa belum, dan ketika gue tanya dia balik dia juga bilang belum. Kaget lah gue, cewek secantik itu single. Nah usut punya usut ternyata dia itu maunya sama pria Timur Tengah, dan maunya hanya sama sekitaran Iran, Persia, dan sejenisnya. So, Indonesia jelas out of her league. Furthermore, Saudi Arabia juga out of her league.

Kebayang lah ya, ada berapa sih pria Persia yang berkeliaran di Indonesia? Yang gue tau mah di Puncak banyaknya Arab yang hobi kawin itu. Dia itu nyarinya paling via dating online web, semacam Tinder. Ya wajar, karena memang di dunia nyata sehari-hari sekitarnya, pria yang dia cari itu hampir nggak ada. Dan ini tuh emang seleranya dia, soalnya dia bilang nggak suka sama bule karena sama-sama putih.

Di sini, gue paham kesulitan dia mendapatkan pasangan, yaitu karena kelangkaan 'outer'. Dan gue sulit menyalahkan dia karena, pertama, itu selera. Kedua, dia cantik, pintar, dan kaya raya, jadi ya sulit dibayangkan sih kalo dia mencari pria sembarangan yang rate-nya di bawah dia yang konon katanya sih malah pada minder mau PDKT.

Nah, lalu bagaimana dengan saya?

BWAHAHA.

Pertama, kecantikan gue dibandingkan cewek ini bagaikan butiran asap kendaraan. Kedua, ...

Nggak, nggak, gue bukan mau minder di sini.

Oke, kita serius. Kalo menurut pengamatan gue sih, gue sulit mendapatkan pasangan karena kelangkaan 'inner'. Kalo si cantik tadi itu sulit karena kelangkaan outer, gue karena inner.

Kenapa gue bermasalah dengan kelangkaan inner, adalah karena gue tidak ada masalah dengan outer. Selera gue nggak sesulit itu dicari, nggak perlu pria Kutub Utara yang begitu menjejakkan kaki di Jakarta langsung cari kulkas. Gue juga nggak ada masalah dengan bule barat (Eropa, Amerika, Australia, dll) meskipun warna kulit gue tidak gelap. Pribumi atau bukan, tidak masalah. 

Tapi mungkin ada sedikit masalah outer, di mana gue tidak mau dengan cowok-cowok yang menggunakan atribut agama. Ustad? Skip. Pastor? Skip. Bikshu? Skip. Oke, ini sekedar disclaimer yang sebenarnya berhubungan dengan kelangkaan inner.

Gue, berhubung ini syarat dari orang tua, mencari pria yang beragama Islam. Udah? Belum. Syarat turunannya adalah dia harus Islam KTP. Jadi, gue nggak mau sama cowok-cowok yang religius, yang dikit-dikit omongannya ngutip kitab suci. Yang dikit-dikit nyuruh gue nutup aurat. Yang bisa-bisa suatu hari nanti minta kawin lagi supaya gue dijamin surga. Pret. Gue nggak mau. SKIP.

Susah, 'kan? Mau yang beragama, tapi nggak mau yang religius. Kalaupun ada yang seperti itu, mereka tidak berserakan di lingkungan pergaulan gue, atau sudah sold out

Kemudian, gue mencari pria yang sebetulnya tidak terlalu menjadi favorit ibu-ibu, yaitu pria yang fisiknya cenderung kurus, dan kalau bisa berkacamata. TAPI eh tapi, kalo gue nemu pria macam ini lalu dia mengejar-ngejar gue dengan membabi-buta (tiap detik chat, SMS, telepon, dsj) gue bakalan ketakutan. Iya, ketakutan. Gue takut, loh, dideketin secara agresif sama cowok. Walaupun gue tau cewek-cewek lain lebih suka seperti itu ketimbang mereka harus mulai duluan. Gue juga tidak selalu suka mulai duluan, tapi beneran deh, kalo dikejar-kejar dengan intens, astaga, gue pengen pindah planet aja rasanya (._.).

Intinya, seperti apapun bentuknya, kalo cowok ini tipe ngejar-ngejar, gue nggak bisa.

Susah, 'kan?

Sedangkan konon katanya pria itu punya naluri pemburu. Lah, gue malah ketakutan pas diburu. Ya pantes aja lah susah dapet pasangan.

Belum lagi syarat-syarat lainnya. Contoh lagi, gue suka sama pria cerdas, apalagi kalo cerdas akademis (karena gue oon akademis). TAPI eh tapi gue nggak suka pria yang superior, dominan, dan cenderung membodoh-bodohi orang lain karena mereka lebih pintar. NAH. SUSAH 'KAN? Padahal 'kan kalo orang itu punya kelebihan dibanding orang lain, orang tersebut biasanya akan cenderung bersikap superior dan dominan, dan itu manusiawi. 

Tapi 

gue 

nggak 

suka. 

Nah loh.

Ya mungkin kita bisa menyederhanakan kesulitan karena kelangkaan ini dengan kalimat sakti yang ampuh, yaitu: YAH, EMANG BELUM KETEMU AJA.

Atau mungkin jodohnya cewek.


7/25/13

Jodohmu, Makanan Favoritmu


Dulu pernah ada teman yang bilang begini:

'Daerah asal makanan favoritmu bisa menjadi acuan petunjuk dari daerah mana jodohmu akan berasal'.

Yeah sure, Dude, you already married him.

Tapi mungkin bisa jadi benar. Si teman ini memberi contoh yaitu kakaknya sendiri, yang sangat suka dengan Pempek Palembang dan akhirnya menikah dengan pria Palembang. Contoh berikutnya adalah si teman sendiri, yang sangat suka dengan Bakso Malang dan akhirnya menikah dengan pria Malang.

*sebentar, gue mau ngikik dulu*

Beralaskan cerita teman gue itu, gue mencoba meyakini bahwa mungkin memang jodoh gue bisa ditelusuri dari makanan favorit. Gue sempat berpacaran dengan pria Minang, dan saat itu gue menyadari bahwa gue memang sangat menggilai Nasi Padang, dan gue memiliki kekaguman tersendiri pada detil bumbu pada kuliner asal Sumatra Barat. Saat itu gue berpikir 'oh, benar juga nih' terhadap teori teman gue, mungkin saja 'kan, si pacar waktu itu memang berjodoh dengan gue.

Tapi akhirnya toh kita putus, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda akan kembali baik dalam waktu dekat maupun waktu yang akan datang. 

Setelah itu gue berpacaran dengan pria Cirebon. Alright, Dude, you are so right, karena gue sejak kecil sangat suka dengan udang yang notabene populer dibudidayakan di Cirebon. Setelahnya gue baru mengetahui pula bahwa Empal Gentong yang membuat gue jatuh cinta pada jilatan pertama di acara pernikahan teman gue yang lain juga ternyata berasal dari Cirebon. Fix, jodoh gue pasti pacar gue.

Tapi nyatanya kita putus juga, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kita berjodoh. 

Lalu dari mana jodoh gue akan berasal?

Tentunya gue harus bisa menjawab dulu pertanyaan 'apa makanan favorit gue?'. Sayangnya sampai sekarang gue masih belum bisa menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang tegas ( T _ T )  Terlalu banyak makanan yang gue sukai. Gue suka nasi Padang, udang, telur, cokelat, sushi, pasta, pizza, sandwich, hamburger, soto, sate, gorengan, jeroan, dan masih banyak lagi makanan yang belum bisa disebutkan di sini.

( T _ T )

Sepertinya teori teman gue itu nggak bisa diterapkan untuk gue, hanya bisa untuk dia dan keluarganya. Atau mungkin bisa untuk orang yang punya hanya satu makanan favorit yang benar-benar favorit.

Ngomong-ngomong, gue suka cokelat, seperti halnya nama blog ini, chocofit, nama yang gue ambil dari karakter Sanrio, ChocoCat, kali ini dengan menggabungkan nama salah satu makanan favorit gue dengan nama panggilan gue.




Apa mungkin gue akan mendapat jodoh dari tempat di mana cokelat berasal atau diolah? Mungkin dari Belgia? Atau...dari daerah yang menganggap cokelat adalah makanan para dewa, Suku Inca? :|