6/20/13

Denial


The ones that hurt you are the ones that needed you the most.

Kalimat itu gue baca di postingan text seorang teman di Path. Gue diem waktu baca kalimat itu. Pertama, itu mungkin benar. Kedua, itu tidak masuk di logika gue.

Gue mulai dari alasan nomor dua: tidak masuk di logika. Hello, kalo emang lo butuh kenapa lo nyakitin orang itu? Apa lo berpikir bahwa meski disakitin, orang itu akan selalu ada dan selalu memaafkan lo? Selalu kembali ke elo? Nggak, bro! Setiap manusia punya keterbatasan, dalam hal ini batas kesabaran. Akan ada saatnya mereka muak disakitin sama lo. Oke, kecuali orang tua, keluarga. Tapi dalam pertemanan, percintaan, pekerjaan, lo nggak bisa seperti itu. Lo suka, lo butuh, ya lo perlakukanlah orang sebagaimana mestinya. Nggak usah denial, buat apa denial? Apa akan membuat keadaan jadi lebih baik? Apa akan menunjukkan progress? Menunjukkan kemunduran iya.

Alasan nomor satu: itu mungkin benar. Terkadang cinta yang besar malah bisa berbalik menjadi kebencian, atau penyangkalan (denial). Jujur, gue pernah mengalami ini. Gue punya pacar yang gue cinta banget, bahkan sampai setelah putus, mungkin sampai sekarang saat gue menulis portingan ini. Apa yang gue lakukan? Denial. Berusaha mengusir cinta gue. Waktu putus, gue bertekad gue harus move on segera. Gue sampaikan itu ke seluruh dunia. Kenapa? Karena gue nggak rela punya perasaan cinta buat dia. Gue merasa cinta itu harus lenyap. Akhirnya gue punya pacar baru. Lalu apakah gue move on? Tidak.

Yang gue lakukan selama periode pacaran dengan si pacar baru adalah mem-bully si mantan dengan memamerkan pacar baru gue dan menyindir lewat quote lirik lagu. Itulah bukti gue tidak move on. Bukti gue masih cinta. Si mantan masih menginap di relung hati dan benak gue, meski sebagai obyek kebencian. Aksi-aksi kebencian gue pun sebagai bentuk penyangkalan bahwa gue masih cinta dia dan perasaan gue nggak cukup kuat ke si pacar baru.

Tapi yang gue lakukan murni penyangkalan. Bukannya gue butuh dia. 

Untuk pernyataan 'butuh', gue punya contoh lain, yaitu si mantan yang gue bicarakan di atas. Dulu sempat terjadi clash antara gue dan dia pasca putus, dimana gue me-remove dia dari medsos, phonebook, dan BBM contact. Ternyata dia kebakaran jenggot lalu mengerahkan dua sahabatnya (yang juga teman2 baik gue) untuk melobi gue supaya dia balik lagi ke medsos gue, which was also kedok untuk balikan. Akhirnya gue kembalikan dia ke medsos dan hape, lalu kita berusaha menyelesaikan clash itu. Setelahnya gue coba membangun komunikasi yang baik lagi, tapi tanggapan dia nggak ada perubahan dari sebelumnya. Pernah gue ajak dia kumpul2 sama temen2, dia nggak bisa, gue bilang ya udah, eh dia marah2 seolah2 gue bete dia ga bisa. Ya kaliii -_- pernah juga kejadian gue iseng nyapa dia randomly, eh dia jawab lagi nggak mood. Nah, moment 'lagi nggak mood' itu gue jadikan titik akhir pencarian jalan balik, lalu gue pacaran dengan si pacar baru.

Ternyata selama gue pacaran dengan si pacar baru, si mantan labil ini suka nanya2in kabar gue ke temen2 gue dan sering posting2 kata2 atau lagu2 galau di Path. Aih...keliatan banget gagal move on, padahal dulu clash-nya sama gue itu karena dia deket sama cewek lain (sampai foto mesra gandeng2an tangan). AIIIH. Lalu setelah gue putus dengan si pacar baru, gue coba lah bangun komunikasi sama dia. Gak juga loh berubah. Gue tanya nomer hapenya yang notabene hilang karena gue save di BlackBerry yang dihilangin sama service center, jawabnya apa? Dia bilang gue delete nomer dia, dan dia nggak peduli sama penjelasan gue. MATIK.

I know he acts that way to deny that he still loves me. He needs me. It's obvious. 

Meanwhile, I'm a fact-minded. Kalo tindakan nyata tidak mencerminkan apa yang diinginkan, ya gue akan anggap dia tidak menginginkan hal itu. So, I walk away and for the second time remove him from all social medias and BBM contact. Perlakuannya ke gue udah gue anggap melewati batas kewajaran dan gue bisa sinting kalo tetap membiarkan dia ada di dunia gue.

So, it might be true that the ones who hurt you most are the ones who need you most. But to me, that kind of statement will be statement, because what I need is action to show that I'm needed, and not anything backwards.

6/9/13

Dua Kaki


Love is a ruthless game unless you play it good and right

Gue setuju sama penggalan lirik State of Grace-nya Taylor Swift di atas. Cinta itu kejam, tinggal tergantung attitude kita terhadapnya.


Belakangan ini entah kenapa gue lihat banyak orang yang 'bermain di dua kaki'. This is not a new term, I guess, but maybe not everyone figure it out. Jadi ini adalah kondisi di mana seseorang yang sudah berpacaran dengan satu orang mengaburkan statusnya untuk mendekati orang lain yang ia sukai.

Gue pribadi memandang ini bukan hal yang seratus persen salah, karena namanya masih pacaran artinya belum ada ikatan yang legal seperti halnya menikah. Gue juga tidak bisa menilai ini hal yang salah, ketika kedua orang yang sepakat untuk berpacaran membuat 'kesepakatan lain' untuk tidak saling mengikat satu sama lain, just in case di tengah-tengah hubungan salah satu atau keduanya akan bertemu dengan orang yang lebih baik.

Tapi, apakah gue setuju?

Jawaban gue adalah tidak.

Bagi gue, ketika gue memutuskan untuk berpacaran dengan seseorang, gue berkomitmen dengan dia dan dengan diri gue sendiri. Memang bukan secara hukum, tapi memangnya setiap komitmen harus dilakukan secara hukum? Gue berkomitmen bahwa dengan gue menjadikan dia pacar gue, gue memberi kesempatan kepada dia dan diri gue sendiri untuk berbagi apa yang tidak kita bagi dengan orang lain. Bahkan dalam kasus gue, gue berhenti memohon, katakanlah berdoa, agar dipertemukan dengan jodoh gue. Kenapa? Karena gue sedang memberi kesempatan kepada pacar gue. Siapa tau pacar gue inilah jodoh gue. Jadi redaksional permohonan/doa gue berubah sedikit, menjadi permohonan agar jalan gue bertemu jodoh dilancarkan.

Jadi, kalau gue menemukan orang yang sudah berpacaran tapi masih mendekati orang lain, ya gue cukup tau aja. Of course I'm going to lack respect, but only in relationship issue, bukan berarti gue berhenti berteman dengan orang itu. 

Dan bagaimana kalau yang didekati oleh orang yang sudah berpacaran itu adalah gue?

Tiada ampun. Bahkan apabila dia dengan pacarnya sudah membuat 'kesepakatan lain' sekalipun. Jangan coba-coba sama gue sebelum dia selesaiin urusannya sama pacarnya.

Bermain di dua kaki boleh-boleh aja. Tapi tempatkan kedua pijakan di posisi yang sama. Satu pijakan aja udah berada di posisi yang lebih tinggi, itu namanya berkhianat. Jujur, gue pernah bisa dibilang melakukan permainan dua kaki ini. Tapi posisi kedua pria itu waktu itu sejajar: bukan pacar gue. Salah satu dari mereka mantan gue, dan satunya lagi semacam target baru. Si target baru ada di sekitar gue dan sering ketemu gue tapi jarang berkomunikasi via alat komunikasi, sedangkan si mantan jauh dari gue dan lebih banyak berkomunikasi via BBM. Posisi mereka sama, tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi, tidak ada yang lebih gue sukai, tidak ada yang lebih gue harapkan. Yang manapun yang nanti jadi pacar gue tergantung pada kejelasan dan ketegasan sikap mereka.

Akhirnya si target baru-lah yang jadi pacar gue karena dia lebih tegas dan jelas. Si mantan harus gue tinggalkan. See? Seperti itulah seharusnya permainan dua kaki dilakukan. Pemain harus berada dalam kondisi tidak berbohong, tidak perlu berbohong, dan tidak masalah bila berbohong. Zero area. Gue tidak berbohong, karena tidak ada yang bertanya. Gue tidak perlu berbohong, karena kondisi gue saat itu sedang sendiri sehingga gue bebas melakukan apa pun. Dan sekalipun gue berbohong, tidak boleh ada yang mempermasalahkan karena gue tidak terikat.

This is a state of grace
This is a worthwhile fight
Love is a ruthless game
Unless you play it good and right

6/6/13

Kode


Kabarnya, cewek itu suka ngasih kode. Benarkah?

Entah. Gue sendiri pernah ngasih kode ke cowok yang gue suka supaya dia jadi pacar gue. Tahun lalu, gue naksir temen sekantor yang sering chat (BBM, WhatsApp) sama gue, tapi nggak kunjung ngajak jalan. Padahal sebentar lagi kontraknya habis dan dia nggak berniat perpanjang. Berhubung gue nggak mau kehilangan kesempatan untuk dapet pacar, gue post lah di Path screenshot dari lock screen iPod gue di bawah ini:




Hasilnya? Yaaah, dia merespon dengan komen yang menyiratkan dia tau maksud gue. Lalu beberapa minggu kemudian, dia jadi pacar gue.

Tapi gimana dengan kemampuan gue sendiri dalam membaca kode?

I say, payah ( ._.)/|

Gue orang yang sangat suka menghubung-hubungkan satu hal dengan lainnya. Iya, itu sifat dasar orang berdarah AB, khususnya gue. Mungkin di beberapa aspek, sifat gue itu menolong, misalnya dalam pekerjaan gue sebagai calon alpuket. Tapi di aspek lain, sifat gue ini gengges. Contoh: dalam membaca kode yang diberikan oleh cowok. Ada satu peristiwa terjadi dengan cowok yang sama yang gue kasih kode dalam gambar di atas (sebut saja dia X). Jadi gini ceritanya:  

Gue dan tim litigasi waktu itu masuk kantor di hari sabtu alias lembur. Si X adalah ketua tim kasus yang lagi kita handle, sedangkan dia nggak hadir lembur. Gue waktu itu satu-satunya cewek di tim. Temen setim gue yang lain, yang notabene cowok (sebut saja dia Y), ngirim SMS ke si X, ngasih tau supaya dateng ke kantor. X menolak, dia bilang nggak bisa. Lalu apa yang gue lakukan? Gue kirim BBM ke si X, maksa dia buat datang karena dia handle dokumen yang nggak dihandle anak2 lainnya. Hasilnya? dia datang.

Beberapa hari kemudian, gue dan Y kirim2an message di inbox Facebook. Y bilang X naksir gue karena dia nurut begitu gue yang nyuruh lembur. Gue menangkis, gue bilang 'lah nyatanya si X nggak pernah ngajak gue jalan tuh? Kalo dia suka, ya dia ajak gue nge-date dong.' 

The truth is, akhirnya toh dia jadi pacar gue. Dan bener kata Y, si X emang naksir gue dan sikap 'nurut'-nya itu salah satu tanda2nya.

Lebih parah lagi, gue bukan cuma nggak bisa baca kode, tapi nggak bisa baca bahasa tubuh cowok untuk bisa tau kalo dia naksir gue apa nggak. Ada cerita tentang ini, lagi2 dengan temen sekantor yang gue taksir (sebut saja dia Q), waktu gue pergi liburan berlima dalam rangka tahun baruan. Begini ceritanya:

Gue dan anak2 mampir ke Gramedia waktu lagi nyari restoran buat makan malam. Gue waktu itu langsung ke bagian komik, kebetulan ada volume terbaru komik berseri yang gue ikutin baru terbit. Waktu gue lagi lihat2 komik, nggak ada angin nggak ada hujan si Q datang lah ke tempat gue, padahal dia bukan pembaca komik. Lalu kita jadi ngobrolin komik di situ. Oh ya, dia bukan cuma datang ke gue, tapi nempel. Jadi ke mana pun gue melangkah, dia ada. Sampai akhirnya karena grogi, gue bayar duluan dan keluar dari Gramedia, nemuin si Y.

Di situ gue curhat sama Y, gue bilang gue grogi si Q deket2 melulu. Si Y ngasih tau gue si Q udah positif naksir gue juga dan sebaiknya gue manfaatin sikap 'nempel'-nya Q buat deketin dia. Gue waktu itu masih setengah yakin, karena Q cuma ngajak gue ngobrol biasa, bukan ngobrol spesial apalagi ngajak nge-date atau berduaan.

The fact is, Q juga jadi pacar gue akhirnya. Dan bener kata Y dan temen gue yang lain, si Q emang naksir gue tapi dia nunggu gue yang aktif buat bisa jadian.  

Mungkin karena akhirnya gue selalu menghubungkan kode-kode dengan fakta lapangan bahwa si cowok nggak melakukan aksi langsung yang menunjukkan dia naksir gue, hingga gue selalu sampai pada penyangkalan: cowok ini nggak pernah ngajak gue jalan atau ngajak berduaan. So, it makes every code 'mental'. Poor guys.

I'm the worst at reading codes |\(._. )