7/25/19

d u f f

Finally, I am a Master of Intellectual Property Law.

After three years. Yep, three straight years. I've always been wondering why post-graduate students sometimes do not make it just in two years, what could be so hard in writing the thesis, but BAM! It happened to me.

I could not make it in the first semester due to the late assignment of lecturer-in-charge. He was assigned on April while the last presentation would be on June or July. I believed I would not make it just in three months, especially because I have lost all the mood and thrills, also I got a lot to do at workplace.

I almost made it in the second semester, but then a loss happened. A big, sudden loss I never experienced, ever. I mean, this sort of loss happened several times, but they never affected me since as you see, I am not sort of a person easily attached to things, to people. But this one loss affected me. Like...

I don't even want to talk about what kind of loss it is. I never do.

So, I decided to give up on that semester and just tried to recover myself by drawing and drawing so much. I even had my debut at a comic market event, the 12th Comic Frontier or Comifuro 12, since I had a lot of drawings scattered so I thought why didn't I just make them into fan-merchandises and sell them. Turns out that the selling was better than expected. I didn't know there are people in this country beside me who would pay enough attention to Marvel's Venom.

In the third semester, I started to think that I don't want to pay a big amount of money anymore to the campus so I started writing. Actually, maybe, the writing itself does not really take three semesters, I can even make some revisions just in two days, but to find the mood was a hard work, really -_- good thing I finally made it. 

And actually, I heard from a friend that my ex lover is currently studying business law in the same campus with mine. When I heard it, I started calculating when he would graduate and whether we would meet at the graduation ceremony. Since I am bad at math (and everything else), I was terrified and finally found another reason to just finish the thesis and graduate. When everything was done, I tried calculating again and found out that actually we would never meet at the ceremony. My last chance to finish the study is the next semester, means I must be graduating by January 2020 or I would got dropped out. Meanwhile, he is a student of class 2018 and the earliest graduation for him is still in July 2020. Not to mention I still do not want to pay more money to the campus, that I'd rather use that amount to go traveling.

Besides, so what if we met? He didn't even pay for my ceremony :p

Still, I do not want to see him. Not anywhere, not especially in the ceremony. The only place where I want to see him is on my screens.

As one of my children, Daffi R. Zainal.


Well then, until the ceremony.

6/5/18

Dear Organda dan Supir-Supir Sialan

Kalian ini emang bener-bener makhluk laknat tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih.

Bertahun-tahun saya pakai jasa kalian, dari mulai harga masih di bawah lima ribu sampai sekarang sudah hampir sepuluh ribu mendekati ongkos bis, kalian sama sekali tidak pernah berubah. Kalian tai semuanya.

Kalian, supir-supir sialan, tidak pernah memberikan pelayanan baik kepada penumpang. Entah apa motif kalian tapi penyakit kalian yang selalu saya lihat dari era ke era itu adalah jika bertemu dengan sesama kalian maka kalian akan kebut-kebutan. Sungguh, itu memuakkan dan tidak berfaedah. Bahkan merugikan penumpang, apalagi jika mobil sedang dalam keadaan kosong. Sekarang mungkin lomba itu sudah tidak kalian lakukan lagi, tapi kebut-kebutan melawan entah apa tetap kalian lakukan. Kalian tidak pernah peduli dengan kondisi jalanan, mau jalanan mulus atau tidak mulus. Kalian tidak pernah peduli dengan penumpang yang terganggu, bahkan terlempar, ketika kalian sedang ngebut. Saya bahkan pernah beberapa kali mendapati ibu-ibu tua terlempar atau apalah ketika kalian ngebut, dan kalian hanya bisa minta maaf padahal jangan-jangan anggota tubuh si ibu sudah bergeser atau terluka apalagi ibu itu sudah tidak muda lagi. Hei kontol Ultron, kalau segala hal bisa diselesaikan dengan maaf lalu apa gunanya ada penegak hukum?

Kebiasaan lainnya yang tidak kalah memuakkan adalah kalian seenaknya menurunkan penumpang sebelum sampai ke tujuan, dengan alasan mobil kosong lah, apa lah, kalian ada keperluan lain lah, peduli setan. Masih mending kalau ketika penumpang diturunkan langsung bisa naik ke mobil berikutnya yang datang, ini seringkali mobil berikutnya datang begitu lama dari saat diturunkan. Kan bangsat. Buang-buang waktu. Kenapa sih kalian harus melakukan itu? Kenapa kalian nggak antarkan kami, penumpang, sampai tujuan apapun yang terjadi karena itu kan tugas kalian? Kenapa kami harus peduli dengan mobil kosong dan urusan kalian yang lebih penting daripada mengantar kami? Kalian sedang bekerja di jam kerja. Kalau memang ada urusan lain, kenapa kalian tetap menyupir angkot dan mengambil penumpang? Nggak usah aja dari awal bisa kan? 

Yah, kalian memang makhluk laknat layak binasa, mana ngerti sih logika semacam ini.

Lalu yang lebih lucu lagi adalah belum lama ini sewaktu ojek dan taksi online mulai menjamur, kalian demo. Kalian, para supir bangsat sialan tidak tahu diri dan tidak berperikepenumpangan ini. Kalian demo karena kalian kehilangan penumpang. Penumpang berkurang, penghasilan berkurang. Heh. Serves you right, peju amuba. Kalian pikir kalian ini siapa? Kalian pikir kalian berhak demo dan protes dengan tuntutan semacam itu? Memang kalian sudah melakukan apa sehingga merasa lebih layak mendapatkan penumpang daripada ojek dan taksi online? Sudah memberi pelayanan yang terbaik untuk penumpang? 

Jangan bikin saya ketawa, deh.

Setelah hype demo-demo ojek online berakhir, saya pikir kalian berubah. Memang sih, kualitas mobil angkot ditingkatkan. Saya hampir udah nggak pernah lagi menemukan mobil tua butut dipakai untuk mengangkut penumpang, semuanya mobil baru. Tapi yah, itu saja. That’s that. Selebihnya, perilaku kalian yang saya bahas di atas tidak berubah sama sekali. Kalian masih ngebut dan seenaknya menurunkan penumpang. Padahal justru penumpang lebih membutuhkan perbaikan perilaku daripada infrastrukturnya. Buat apa mobil baru dan bagus jika kami masih tidak diantarkan sampai ke tujuan?

Organda, pernah nggak kalian peduli dengan keadaan ini? Saya bukannya tidak sadar dan tidak mau tahu, kok, bahwa supir-supir sialan kalian itu berperilaku layaknya manusia purba karena sistem kejar setoran yang kalian terapkan. Kalian nggak ingin melakukan perbaikan apa, gitu, untuk bersaing dengan ojek online dalam memberikan pelayanan terbaik ke penumpang?

Sincerely,
Pengguna angkot selama 18 tahun


11/20/17

There is No Such Thing As 'Pelakor'

Enggak ada itu yang namanya 'pelakor', yang mana adalah singkatan dari 'perebut laki orang'. Istilah yang beken dipake sama ibu-ibu maupun gadis-gadis jaman now, terutama yang aktif berselancar di internet, untuk menyebut wanita yang mendapatkan pasangan (laki-laki) yang sebelumnya adalah pasangan (bisa pacar atau suami) wanita lain. 

Gue sendiri nggak tau kapan istilah ini lahir di kalangan warganet maupun yang bukan warganet, tapi kayaknya sih udah lama, semenjak kasus mamat dhani yang nikah sama mvlan setelah cerai dari istrinya yang udah ngasih 3 anak cakep bener, m4i4. Sori, nama-nama ini terpaksa gue sensor karena males kalo nanti ada yang search nama mereka di Google terus muncul link postingan gue ini. Nah semenjak kasus itu, warganet terutama yang cewek jadi rame-rame nge-bully si mvlan di medsosnya terutama di instagarem. Bahkan sampe ada akun khusus haters-nya dia di instagarem, yang isinya post dan berita jelek-jelek soal dia itu.

Selain mvlan, artis lain yang disebut pelakor dan juga di-bully rame-rame sama warganet di medsosnya itu ayv think think, yang dulu emang sempet digosipin deket sama rapi amat setelah dia jadi lakinya gigi bukan hadid. Bahkan sampe soal dia bikin clothing line yang foto-fotonya ngambil dari situs clothing line luar negeri pun warganet, loh, yang ngasih tau hahahaha banyak kerjaan banget, yah, warganet yang mantengin kehidupan dia. Bahkan di berita artis lain pun bukan nggak mungkin dia tetep disebut-sebut dengan prestasinya sebagai pelakor itu.

Warganet oh, warganet.

Eh tapi sekarang konon katanya nyebutnya udah bukan lagi pelakor tapi 'valakor', plesetan dari Valak, setan di film The Conjuring. Jadi si perebut laki orang itu disamain sama si Valak gitu mungkin, ya. 

Anyway,

Menurut gue, enggak ada itu yang namanya pelakor. Perebut laki orang. Nonsense.

Perebut. Berasal dari kata 'rebut' dan diberi imbuhan pe- di depan, sebagai penanda kata benda. Rebut sendiri menurut KBBI adalah:

re.but /rĂªbut/
  • v rampas, ambil dengan paksa (barang orang)
(1) Rampas, (2) Ambil dengan paksa. Apa yang dirampas dan diambil? Barang milik orang lain. Apa sih arti kata barang menurut KBBI?

ba.rang1
  1. n benda umum (segala sesuatu yang berwujud atau berjasad): -- cair; -- keras
  2. n semua perkakas rumah, perhiasan, dan sebagainya: --nya untuk membayar utang
  3. n bagasi; muatan (kereta api dan sebagainya)
  4. n muatan selain manusia atau ternak: truk yang mengangkut -- terguling di tikungan itu 
Dari definisi nomor 1 sampai 4 nggak ada satu pun yang menyebutkan bahwa barang itu bisa berarti manusia, bahkan di definisi nomor 4 jelas disebut bahwa barang bisa berarti muatan KECUALI manusia atau ternak.

Jadi apakah mungkin yang namanya laki orang, dalam hal ini pacar seseorang atau suami seseorang bisa direbut? Ya mungkin aja, kalo pacar atau suami itu barang. Kan ada tuh orang yang menikahi sex doll. Kalo itu, sih, masuk akal banget. Ketika si sex doll yang udah berstatus suami seseorang ini diambil sama cewek lain dan dinikahi, baru bener itu istilah si cewek itu merebut suami orang. Dan karena sesuatu yang direbut itu haruslah berupa barang milik orang lain, dalam hal ini kan berarti benda mati yah, bukan manusia atau hewan, berarti pada saat direbut maka si barang ini tidak mungkin melakukan perlawanan, toh? 'Kan, benda mati. Kalo manusia atau hewan, pasti masih bisa melawan atau menolak, atau memberontak, atau meronta, apapun namanya yang dilakukan seseorang atau sesehewan ketika dia tidak menerima perlakuan tertentu.

Jelas, 'kan, nggak mungkin suami atau pacar orang itu masuk kategori barang kecuali dia sex doll

Lagian, suami dan pacar orang itu enggak direbut, lah. Kalo barang direbut ya wajar, barang nggak bisa melakukan perlawanan. Lah ini suami dan pacar yang jelas-jelas manusia dan bisa melawan kok bisa direbut? Berarti mereka nggak melakukan perlawanan juga, 'kan? Dan karena manusia, maka nggak melakukan perlawanan itu berarti 'setuju' direbut sama si 'pelakor', yang artinya merekanya emang mau pindah ke cewek baru itu, dan udah nggak mau lagi sama si istri atau pacar. Berarti enggak ada perebutan di sini. Karena merebut itu adalah tindakan aktif satu pihak, sedangkan obyek yang direbut ya pasif aja, nggak melawan. Sedangkan dalam hal suami atau pacar orang berpindah ke lain cewek, artinya 'kan ada persetujuan antara cewek yang baru dengan si suami atau pacar tersebut? Kalo si suami atau pacar itu nggak setuju atau melawan, dan tetep mau bertahan dengan istri atau pacar yang sekarang, maka nggak akan ada toh yang namanya perpindahan ke lain cewek?

Jadi, 'pelakor' itu nggak ada, ya, mbak-mbak, ibu-ibu, dan seluruh warganet yang budiman. Cewek yang kegenitan ngegodain suami dan pacar orang mungkin ada aja (begitu pula cowok), tapi kalo suami dan pacar yang digoda enggak mau sama si cewek itu maka nggak akan ada tuh suami dan pacar yang 'direbut'. Lagipula, 'kan warganet ini udah pada pintar, ya, masa' sih masih harus diajarin lagi kalo yang namanya hubungan percintaan itu melibatkan dua orang?

Kalo cuma satu orang itu namanya bukan percintaan, tapi pengharapan.

Ngerti?

Kalo ngerti, stop menggunakan istilah 'pelakor' ini, yah. Dan stop mem-bully cewek-cewek seperti mvlan, ayv think think, dan sejenisnya. Bully aja lakinya, 'kan mereka yang mau selingkuh? :p 

5/8/17

Farewell, Telkomsel

Dua minggu lalu, website Telkomsel kena hack. Halaman depannya penuh dengan kata-kata kasar tapi masih batas wajar yang isinya protes terhadap harga kuota internet yang mahalnya nggak masuk akal.

Gue sebagai salah satu pengguna setia sejak 2005/2006 cuma bisa bilang:

M
P
O
S
H

WKWKWKWKWKWKWKWKWKWK. 


Karena toh sepertinya lebih banyak orang yang berterima kasih kepada hacker yang melakukan peretasan itu dan menuliskan apa yang selama ini menjadi uneg-uneg kami, isi hati yang nggak pernah bisa kami sampaikan karena kalaupun kami sampaikan kami tahu betul nggak bakalan ada gunanya.

Apa pasal? Yah, jangankan si Telkomsyit. Selain orang-orang yang berterima kasih, masih ada kok orang-orang yang malah ngebelain dengan dalih harga sudah sesuai servis lah, itu strategi marketing, lah, bahkan sampe ngata-ngatain kami miskin gara-gara nggak bisa beli kuota internet.

Maap-maap kate nih ye. Aye mah kaye raye. Duit buat beli kuota mah adeee.

Tapi lo kira gue rela keluarin duit banyak kalo jumlah kuota yang gue terima nggak sebanding dengan harganya? Nih gue kasih liat dulu bunyi protes si hacker di bawah ini.

ini mah kasar tapi masih batas wajar kalo dibandingin kebejatan Telkomsyit

Gue biasa langganan 2GB seharga 95ribu, yang mana adalah harga wilayah karena harga aslinya kalo nggak salah 75ribu. Itu aja udah mahabullshit kan? Lo jual paket harganya 75ribu tapi karena gue tinggal di Bekasi gue kudu bayar 95ribu. Di mana logika hatiku jatuh cinta kepadanya? Yang boleh kagak pake logika itu cuma cinta, karena cinta ini kadang-kadang tak ada logika! Kenapa cuma gara-gara gue tinggal, atau beli kuotanya, di Bekasi maka gue kudu bayar 20ribu lebih mahal? Kenapa kudu ada perbedaan harga untuk setiap area coba? Dulu nggak kaya gitu. Apa karena Telkomsyit nggak punya menara di area tertentu khususnya yang mahal? YA BIKIN LAH PEJU KUDA NIL! Profit lo dari ngeruk duit kami kan gede, masa bangun menara aja nggak bisa?

Kedua, entah kenapa harga 95ribu ini enggak lagi terdiri dari 2GB melainkan 1,5GB flash4G dengan bonus 2GB flash berlaku selama 15 hari, sisanya 5GB Hooq dan Viu. Heh bgst, kalo itu bonus 15 hari udah abis terus 15 hari sisanya gimana? Kami disuruh eman-eman dengan 1,5GB gitu? Kenapa gak dipaketin pol aja sih 2GB berlaku 30 hari gitu? Nyusahin banget. Gara-gara paket sialan ini, gue jadi boros banget. Sebulan bisa berapa kali gue beli itu paket, apalagi kalo gue lagi jarang di rumah dan di kantor yang artinya gue nggak bisa pake wi-fi. Waktu banjir kemaren dan gue kudu hijrah ke lantai dua dan nggak kena wi-fi, kelar idup gue gegara kuota abis melulu.

Nah yang paling bikin gue kesel adalah kuota Hooq dan Viu sebanyak 5GB berlaku sebulan. Gue nggak tau jelas apa itu Hooq dan Viu tapi kurang lebih gue tau itu saluran streaming video semacaman Netflix dan kawan-kawan. Semenjak dahulu kala waktu hape gue masih si Macaron, Galaxy S3 yang layarnya udah cukup banget buat nonton film kayak orang-orang yang suka pada nonton drakor di omprengan itu, gue nggak pernah sekalipun masukin file film ke dalem hape. Sekarang pun gue melakukan hal yang sama pada Alice. Kenapa? Yha karena gue nggak suka nonton film di hape! Gue nggak suka mantengin hape lama-lama buat nonton film sekaligus baca subtitle, mendingan di laptop atau TV sekalian. Terus kalo gue nggak suka, dan nggak pernah nonton, HARUS BANGET GUE PAKE HOOQ DAN VIU GARA-GARA KUOTANYA MASUK KE DALEM PAKET YANG GUE BELI?

OGAH BANGET, KUTIL DINOSAURUS!

Dijualnya kuota Hooq dan Viu, dan sekarang VideoMax, adalah murni PEMAKSAAN. Kami nggak mau pake, kenapa dipaksa? Kalo kami nggak mau, kami nggak punya pilihan lain juga 'kan, karena itu termasuk ke dalem paket yang kami beli? Terus di mana itikad baik Telkomsel? Oke fine kalo emang ternyata di daerah-daerah hiburan masyarakatnya adalah streaming video di ponsel jadi Hooq dan Viu berguna banget buat mereka, nggak masalah. Tapi masa kami yang nggak streaming juga harus ikutan streaming padahal kami nggak mau? 5GB itu kan lumayan banget buat dipake untuk keperluan lain, misalnya mungkin beli tiket pesawat atau kereta atau buka e-mail yang attachment-nya besar atau untuk upload download data penting ke iCloud atau DropBox atau streaming video penting yang ada hubungannya dengan kerjaan dan kuliah di YouTube, dan apapun selain streaming Hooq dan Viu. Masa kami nggak dikasih pilihan untuk beli paket yang nggak termasuk Hooq dan Viu sama sekali?

Si hacker juga nulis soal nggak usah dibedain layanan 2G, 3G, dan 4G, nah ini juga emang aneh banget kenapa kudu dibedain tapi gue nggak seberapa terganggu jadi nggak akan gue bahas.

Di hari website di-hack, kuota gue abis pas gue masih di angkot di jalan menuju kantor. Karena gue biasa turun di terminal Kampung Melayu, gue berencana beli pulsa internet aja di Indomaret tempat gue biasa nunggu ojek online. Akhirnya gue beli lah 100ribu, dapet 1,5GB flash4G plus 2GB flash00-07. Ekspektasi gue waktu itu adalah gue menemukan jalan keluar dari beli paket flash di *363# yaitu beli pulsa internet yang isinya 3,5GB berlaku 30 hari. Problem is solved.

Eh, taunya pas seminggu kemudian kuota 1,5GB itu abis. Ekspektasi gue ya udah, berarti nanti akan motong dari yang 2GB dong. Tapi kok kenapa berkali-kali gue dapet SMS yang isinya 'kuota anda telah habis, pemakaian internet akan dikenai pulsa'? Gue cek pulsa...LAH KOK PULSA GUE ABIS 30RIBU? Gila. Dan pas gue cek sisa kuota yang 2GB dia nggak bergeming sama sekali, 2GB aja terus. Nggak berkurang. Bingung lah gue. Pas gue tanya via twitter sebenernya flash00-07 itu apaan, dijawab apa sodara-sodara?

"Itu kuota internet yang cuma bisa dipake pada jam 00:00 sampe jam 07:00 pagi, Kak."

EANJING.

Palalu meledak! Gue kira gue beli pulsa internet 100rb dapet 3,5GB berlaku 30 hari tanpa syarat dan ketentuan, eh taunya yang 2GB cuma bisa gue pake tengah malem buta? LO KIRA GUE BURUNG HANTU? 

Sejak itu, gue putuskan untuk putus hubungan dengan TelkomsyitFlush. BHAY. Sejenak gue sempet mikir untuk pindah ke KartuHalo karena konon kuota internetnya full kuota murni nggak ada Hooq dan Viu, tapi nggak jadi. Bagaimanapun juga, KartuHalo itu ya Telkomsyit juga. Kalo gue convert dari Simpati, siapa yang bisa jamin gue nggak akan lebih boros daripada sebelumnya? Jangan-jangan gue bayar mahal juga cuma dapet 3-4GB.

So, gue batal mampir di Grapari Mal Ambassador dan langsung fokus nyari toko yang jualan modem Bolt.

Bye, Telkomsel. You have always let me down. You picked me up high once or twice just so I can fall hard, bleeding endlessly, to the earth. It's over now. We're over. Gue hanya akan beli pulsa buat telepon dan SMS, dan beli kuota internet hanya kalo gue meninggalkan Jabodetabek.


You're only gonna let me down
When it counts, you count down
You're only gonna turn me out
As I burn, you burn out

You're only gonna make me feel so crazy
But when I think we could be something
You go and let me down, let me down

(Let Me Down - Kelly Clarkson)

4/27/17

Someone I Can't Have

is it over yet?
can I open my eyes?
is this as hard as it gets?
is this what it feels like to really cry?

(Cry - Kelly Clarkson) 

Do you know how it feels to be me?

Do you know how it feels when you love someone that belongs to someone else, but then suddenly that someone was thrown away because of some illogical reasons, and the saddest part is I know that he is still...

...someone I can't have? 

I am just an outsider. Yes, I am.

He does not even know me, no way. 

But I have been in love since he was paired with his lover. I have seen how much he loves his lover, how he was never afraid, even to die, just to protect his lover. I have also heard from the lover's friends about how glad they are that the lover got him as a partner, because the lover's exes never did it right. The lover's friends are very happy and satisfied, they quit regretting befriending the lover since the lover improves greatly with his favor.

He was loved. He is still, and will always be.

And I envy the lover just because I want to be loved like that.

But then, lover, what have you done?

You let some of your friends, a LOT of them, forget about everything he had done for you. You let them bash, mock, insult him, as if he never did any good thing. As if you improve alone without anyone's help, while everybody else in this country could even see clearer. You let those friends of yours attack him just because...

...he is different.

And even such difference never relates to what he had done. It was something that has no business with performance, with quality of work, or even with his position as YOUR lover.

Look at now.

You let him go.

You release him just because some of your friends did not want him. You throw him away just because some of your friends thought he tarnished their selfish faith, while they were the only ones thinking that way. But you let them do that. You let them haunt you with fear and threat, that you could not stand to hold him still and choose a break-up instead.

Do you know how it feels to be me?

I am an outsider, but I am with you everyday, and seems like I always would. I have seen how far you've grown, how well you're improved, how I'm glad that even though he is not a fully nice person since he never doubt to yell at those who would harm you, even when improving you he made some parts of you not functioning perfectly but it was always for the sake of the better you, never in a day he treated you improperly.

If you, or some of your friends, did not want him because of him being rude or careless, or even selfish, I would be fine, then. If it was all because he broke some of your friends' places or even breaking some vital parts of yours, OKAY. It means he is no more qualified being your lover.

But...tarnished faith, you said? After all this time?

And now, he is spending his last days, still treating you not less properly than ever. Still loving you, not even less than he ever did. And after you two officially break-up some months later, he might be introduced to someone else to take care of, to be loved. To improve, just like what he did to you and his beautiful ex in another island. Well, I have met his ex and I could not find any better word than 'beautiful' to praise.

And, that someone new would never be me.

Forever. Or at least, as long as I live.

This world is a cruel place. This state is. 

Why should I fall for someone I can't have? Why am I befriending someone who always engaged with terrible lovers, who also befriends people like your friends? Your friends who are always echoing and echoing about their faith but never tried to understand how to live properly as human being?

Why,

Jakarta? 

tak mungkin ada aku
di antara kau dan dia
seperti lagu-lagu cinta di dunia

(Cara Lupakanmu - Gisel)