Showing posts with label parameter. Show all posts
Showing posts with label parameter. Show all posts

8/24/12

Parameter Maaf

Tidak ada yang tidak baik dari memberi dan meminta maaf.

Memang tidak. Memberi maaf itu mulia, meminta maaf itu ksatria. Alangkah baiknya bila setiap manusia saling berbuat salah kemudian saling meminta maaf kepada satu sama lainnya. Saya juga berpendapat sama, tidak kurang dan tidak lebih.

Tapi sebagaimana setiap manusia itu berbeda dan unik, setiap permasalahan pun demikian. Saya berpendapat tidak ada yang salah dengan memberi dan meminta maaf. Namun di sisi lain saya juga berpendapat bahwa hanya keledai yang bisa dua kali jatuh ke lubang yang sama.

Sampai di mana maaf perlu diminta dan diberi?


Setiap orang memiliki parameter berbeda. Pun saya sebagai salah satu manusia yang tidak sempurna. Bagi saya memberi maaf itu mudah, tapi jangan pernah berharap saya meLUPAkan apa yang telah saya terima.

Sebutlah saya pernah melakukan sebuah kesalahan, yang sebetulnya menurut logika saya pun saya tidak mengerti di mana salahnya. Pokoknya SALAH, karena kenyataannya seseorang tersinggung dengan perbuatan saya. Kemudian saya berusaha meminta maaf dan memperbaiki keadaan, namun ternyata yang bersangkutan menolak memperbaiki, hanya bersedia memaafkan. Saya tidak keberatan dan tidak bisa memaksa, memang siapa saya? Sampai di sana, seharusnya masalah selesai.

Tapi kemudian apa perlu saya kembali meminta atau memberi maaf, atau berusaha memperbaiki keadaan ketika dimana seharusnya masalah sudah selesai, yang bersangkutan malah mengungkit-ungkitnya dengan menghina-dina saya, bahkan mengajak orang-orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah untuk membenci saya? 

Keputusan saya bulat: tidak perlu. Saya tidak tolol, bodoh, apalagi idiot. Hanya keledai yang dua kali jatuh ke lubang yang sama.

Mungkin saya egois dan arogan, tapi akal sehat dan hati nurani saya sudah memutuskan hal yang sama. Entah mau berapa kali Idul Fitri berlalu. Baiklah, saya MEMANG egois dan arogan. 

Lalu?

Manusia adalah makhluk dengan segala keterbatasan. Termasuk saya. 

Meminta dan memberi maaf adalah dua tindakan yang tidak ada salahnya, dan betapa mulia dan ksatrianya saya bila menyanggupi keduanya. Tapi seperti manusia lainnya, saya juga punya parameter.  Dan orang dalam cerita di atas saya kategorikan TIDAK LAYAK untuk saya beri maupun mintakan maaf.

Saya manusia, bukan keledai.

4/8/12

Mengukur Tekad

Bagaimana cara mengetahui seberapa besar tekadmu untuk meraih sesuatu? Bagaimana cara mengukur dalamnya perasaanmu terhadap hal yang kamu inginkan?

Mudah.

Saat seluruh dunia memintamu, bahkan memaksamu, bahkan melakukan hal-hal yang sangat ofensif untuk membuatmu mundur dari perjuanganmu, namun kamu tetap tidak mau dan tidak bisa mundur.

Kamu mungkin saat itu tidak paham kenapa kamu begitu menginginkannya. Tapi kamu merasakan 'kebenaran' disana. Kamu tahu kamu lahir di dunia ini untuk berada di sana. Untuk mendapatkannya. Meski seluruh dunia menentang, termasuk orang-orang yang kamu percaya, kamu tidak mundur. Kamu maju, dan kamu berusaha keras meyakinkan dunia bahwa inilah jalanmu. Bahwa kamu bisa, kamu mampu, kamu layak mendapatkannya.

Atau mungkin bisa juga diukur dengan ujian sederhana. Saat sesuatu yang kamu inginkan itu nampak begitu mustahil untuk kamu raih. Saat kamu merasa tidak mampu mendapatkannya. Tapi kamu tetap tidak berhenti melangkah. Apapun kamu lakukan untuk berada di sana, entah mengubah strategi atau berjuang lebih keras lagi.

Bila kamu memutuskan untuk mundur dengan mudah, artinya tekadmu memang tidak besar. Perasaanmu tidak cukup dalam. Dan mungkin kamu merasakan bahwa hal itu tidak cukup berharga untuk kamu kejar, kemudian kamu mencari hal lain yang lebih berharga.

Hidup itu perjuangan tanpa akhir. Satu masalah selesai, masalah lain menunggu di depan mata. Seberapa kuat kamu bisa menghadapi semuanya?

Semakin banyak kamu memperjuangkan hidupmu, semakin kamu akan bisa melihat mana hal yang layak kamu perjuangkan dan yang lebih baik kamu tinggalkan.