Tidak ada yang tidak baik dari memberi dan meminta maaf.
Memang tidak. Memberi maaf itu mulia, meminta maaf itu ksatria. Alangkah baiknya bila setiap manusia saling berbuat salah kemudian saling meminta maaf kepada satu sama lainnya. Saya juga berpendapat sama, tidak kurang dan tidak lebih.
Tapi sebagaimana setiap manusia itu berbeda dan unik, setiap permasalahan pun demikian. Saya berpendapat tidak ada yang salah dengan memberi dan meminta maaf. Namun di sisi lain saya juga berpendapat bahwa hanya keledai yang bisa dua kali jatuh ke lubang yang sama.
Sampai di mana maaf perlu diminta dan diberi?
Setiap orang memiliki parameter berbeda. Pun saya sebagai salah satu manusia yang tidak sempurna. Bagi saya memberi maaf itu mudah, tapi jangan pernah berharap saya meLUPAkan apa yang telah saya terima.
Sebutlah saya pernah melakukan sebuah kesalahan, yang sebetulnya menurut logika saya pun saya tidak mengerti di mana salahnya. Pokoknya SALAH, karena kenyataannya seseorang tersinggung dengan perbuatan saya. Kemudian saya berusaha meminta maaf dan memperbaiki keadaan, namun ternyata yang bersangkutan menolak memperbaiki, hanya bersedia memaafkan. Saya tidak keberatan dan tidak bisa memaksa, memang siapa saya? Sampai di sana, seharusnya masalah selesai.
Tapi kemudian apa perlu saya kembali meminta atau memberi maaf, atau berusaha memperbaiki keadaan ketika dimana seharusnya masalah sudah selesai, yang bersangkutan malah mengungkit-ungkitnya dengan menghina-dina saya, bahkan mengajak orang-orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah untuk membenci saya?
Keputusan saya bulat: tidak perlu. Saya tidak tolol, bodoh, apalagi idiot. Hanya keledai yang dua kali jatuh ke lubang yang sama.
Mungkin saya egois dan arogan, tapi akal sehat dan hati nurani saya sudah memutuskan hal yang sama. Entah mau berapa kali Idul Fitri berlalu. Baiklah, saya MEMANG egois dan arogan.
Lalu?
Manusia adalah makhluk dengan segala keterbatasan. Termasuk saya.
Meminta dan memberi maaf adalah dua tindakan yang tidak ada salahnya, dan betapa mulia dan ksatrianya saya bila menyanggupi keduanya. Tapi seperti manusia lainnya, saya juga punya parameter. Dan orang dalam cerita di atas saya kategorikan TIDAK LAYAK untuk saya beri maupun mintakan maaf.
Saya manusia, bukan keledai.

tiap orang beda2 kok fit.. gue malah salut sama lo yg punya sikap tegas, karena tiap orang beda2, makanya kita bisa belajar macem2. (gue ngomong apa siii) intinya gue ngerti deh, hehehe
ReplyDeleteMakasih nda, yang gue putuskan ini sebenernya salah tapi mau apa lagi, kalo dipaksain gue lagi yang sakit hati. Thanks for sharing jeng ;)
Deleteeh tumbeeen nulisnya pake bahasa indonesia, akhirnya saya bisa baca! *halah komennya gak nyambung* :)))
ReplyDeletehihi...
kalo kata saya, biarkanlah waktu yang memaafkan keadaan :p
Boong banget lo pied baru bisa baca setelah gue nulis pake bahasa endonesa xD *atau jangan2 inggris gue acakadul sampe lo kaga ngerti*
Deleteiya gue juga biasanya menyerahkan kepada waktu sih. Tapi mesti didukung sama kemauan dari diri sendiri kan, nah itu yang gue udah ga punya. Nyeheheh egois yak.
Thanks for visiting jeng ;)