Showing posts with label waktu. Show all posts
Showing posts with label waktu. Show all posts

8/22/12

Untukmu yang Tak Maju Lebih Dulu

21 Agustus 2012

Kepada Mentari yang Terbit Terakhir
di
Labirin


Bila boleh kuingatkan kembali setiap puing yang tertinggal sejak setahun lalu, pun aku tidak mampu menghitungnya. Terlalu banyak yang terjadi. Bukan dalam kata yang kau ucap kepadaku atau apa yang kusampaikan dalam lisan kepadamu.

Sebagaimana namamu, kau terbit di langitku. Tak kalah dari bintang manapun, termasuk yang bersinar lebih terang darimu. Kau selalu ada, bercahaya, karena aku selalu memenangkanmu meski kamu mentari yang tak biasa. Mentari yang dingin menyerupai gunung es. 

Tapi duniaku selalu melihatmu.

Aku percaya dinginmu akan mencair. Esmu akan meleleh bila aku tak pernah menyerah. Kucoba mencipta apa yang bisa kurangkai dalam kata, bahkan entah bagaimana kubuat pula dalam nada. Semuanya untukmu, semuanya ada karena adamu. 

Ya, aku pernah mencintaimu seperti itu.

Kupintai helaian hari dengan menantimu menginginkanku. Menunggumu mengucap rasa yang sama, memintaku mendampingimu selamanya. Seraya melihatmu berubah dari bongkahan es menjadi cahaya, aku pernah yakin hanya akulah yang gerakkan apa yang kau sebut dunia. Aku menantimu selamanya, dan bahwa kau genggam rasa yang sama aku percaya.

Namun selamanya mulai kurasa terlalu lama. Menunggumu seumur hidup mulai terasa tidak nyata. Aku takkan mau, takkan bisa habiskan waktuku menanti cintamu yang maya. Sementara kulihat cahaya kecil di balik jendela rumah di ujung sana. Sebagaimana aku ingin menantimu, tak kuasa aku menahan kakiku untuk tak melangkah. Aku ingin pulang. Ya, aku lelah mengembara. Bila yang kucari ada di depan mata, haruskah kuabaikan itu demi menantimu? 

Meski mungkin hanya aku yang mampu selamatkan duniamu?

Maaf. 'Tidak' adalah jawabku.

Kucoba sampaikan kepadamu rasaku, namun terhalang oleh waktu. Kucoba meminta lagi waktu kepadamu, namun katamu tak perlu. Maka kuputuskan untuk tidak lagi menantimu. Kubiarkan kau berlalu, tak lagi sinari langitku. Sementara tertatih kucoba susuri jalan pulang, kembali ke mana seharusnya aku berada. Ke tempat dimana tak hanya ada satu rasa, namun dua. 

Kulihat engkau kembali ke dalam labirinmu. Kembali pada dinginmu, kehilangan cahayamu. Kau tertawa, namun bukan yang sesungguhnya. Bila kutanya apakah kau bahagia, dapatkah kau menyambut tanyaku dengan jawabmu?

Bukan aku menghakimimu, karena aku pun tak sempurna. Namun bila kau temukan lagi apa yang kau rasa terhadapku, yang tumbuh dari apa yang kutanamkan dalam duniamu, kumohon jangan lagi kau endapkan tanpa pinta. Tiada satu pun di dunia yang dapat kau miliki tanpa kau ungkap inginmu lewat kata. 

Bila mungkin, ungkaplah pula lewat suara. 

Jangan lagi kau biarkan ia lewat di depan mata tanpa pernah kau meraihnya. Jangan serahkan ia kepada siapapun, berjuanglah untuknya. 

Berjuanglah untuk dirimu.

Terima kasih untuk satu tahun bersama. Tidak milikimu tak menjadi sesal bagiku, begitu banyak yang berharga telah kudapat meski bukan cintamu. Terima kasih telah ajariku mencinta cacat di balik sempurna. Terima kasih untuk nada yang kau lepaskan untuk menjawab pergiku. Terima kasih untuk waktu yang tak pernah kau berikan lagi kepadaku, yang telah mengantarku pulang ke rumah.


Salam,
Aku


p.s: cinta tak dapat menunggumu selamanya, cobalah kau melangkah untuk menggapainya.



4/29/12

Seharusnya Kamu

Bilakah waktu dapat kuulang kembali untuk mencintaimu?



Kukira tugas itu dilimpahkan hanya kepadaku. Ya, tugas untuk mencairkan hatinya. Pria yang bagaikan es, yang kupikir dapat mencair bila kusinari dengan cahayaku. Aku percaya keberadaanku di dunia adalah untuk itu. Aku percaya ialah bukti keberadaanku.

Ya, aku percaya. Karena kamu pun mempercayaiku.

Kamu yang selalu di sisiku. Mempercayaiku. Berkata aku mampu. Menopangku ketika redup cahayaku, agar bersinar selalu. 

Tiga kali aku jatuh dan bangkit kembali. Tiga kali cahayaku meredup, namun kau buat ia terang berkali-kali. Aku muak bersinar terang, setiap detik, tanpa hasil. Aku muak berjuang tanpa hasil. Namun aku sendiri yang memutuskan untuk kembali, selalu aku. Dan kamu selalu berada di sana. Di sisiku, mendukungku. 

Hingga badai itu datang, membawamu pergi dariku.

Kuputuskan untuk mundur, tiada lagi bercahaya untuk sang gunung es. Aku muak. Lelah. Dan aku tahu, tak sedikitpun cahayaku berguna. Apapun yang kulakukan tak berhasil mencairkannya. Kepercayaanku hilang. Hidupku bukan untuknya. 

Dan aku tahu, badai itu tidak berlalu karena kamu melindungiku agar ia tak menyakitiku. Kamu tidak lagi berada di sisiku agar tidak lagi mendukungku, karena kamu tahu dukunganmu pun tidak berarti. Hanya akan membuatku ingin bersinar kembali tanpa bisa mengubah apapun. Hanya akan membuatku sakit.

Lalu aku memilihmu. Aku memilih untuk berhenti agar kamu kembali ke sisiku. Entah bagimu, tapi kamu adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Singkat, namun setiap detik tersimpan rapi dalam waktuku. Caramu melindungiku yang kuharap kutahu sejak awal, namun ketika kutahu, aku tahu aku terlambat.

Tak pernah ku tahu kapan kau akan kembali ke sisiku. Tak mampu pula aku berharap. Aku menghormati keputusanmu untuk tidak berada dekat denganku, tak sanggup mengusikmu. Namun andai waktu dapat kuputar kembali...

...kurasa, aku ingin mencintaimu.

Aku ingin bersinar untukmu. Aku ingin berjuang mendapatkan hatimu. Meski sulit, meski kamu tak seperti pria-pria yang selalu menarik perhatianku. Tapi, mungkin akan jauh lebih berarti. Mengapa tidak? Mengapa tidak mencintaimu, yang selalu berada di sisiku? Mengapa tidak menyayangimu yang selalu menyayangiku? Mengapa tidak mempedulikanmu yang selalu memikirkanku? Mengapa tidak mengejarmu yang tak pernah berhenti mempercayaiku?

Bukan untuk mendapatkan cintamu. Bukan pula semata untuk menjadikanmu kekasihku. Hanya mencintaimu. Hanya itu. Hanya karena kamu pantas mendapatkan hatiku.
 
Hanya karena kamulah yang layak untuk cintaku. Bukan dia.

Namun, seperti yang selalu terjadi pada siapapun, bukan?

Ya.

Penyesalan selalu datang terlambat. 

Teruntuk kalian yang memiliki kisah serupa. Yang mengalami salah alamat saat mengirim sang cinta.