4/29/12

Seharusnya Kamu

Bilakah waktu dapat kuulang kembali untuk mencintaimu?



Kukira tugas itu dilimpahkan hanya kepadaku. Ya, tugas untuk mencairkan hatinya. Pria yang bagaikan es, yang kupikir dapat mencair bila kusinari dengan cahayaku. Aku percaya keberadaanku di dunia adalah untuk itu. Aku percaya ialah bukti keberadaanku.

Ya, aku percaya. Karena kamu pun mempercayaiku.

Kamu yang selalu di sisiku. Mempercayaiku. Berkata aku mampu. Menopangku ketika redup cahayaku, agar bersinar selalu. 

Tiga kali aku jatuh dan bangkit kembali. Tiga kali cahayaku meredup, namun kau buat ia terang berkali-kali. Aku muak bersinar terang, setiap detik, tanpa hasil. Aku muak berjuang tanpa hasil. Namun aku sendiri yang memutuskan untuk kembali, selalu aku. Dan kamu selalu berada di sana. Di sisiku, mendukungku. 

Hingga badai itu datang, membawamu pergi dariku.

Kuputuskan untuk mundur, tiada lagi bercahaya untuk sang gunung es. Aku muak. Lelah. Dan aku tahu, tak sedikitpun cahayaku berguna. Apapun yang kulakukan tak berhasil mencairkannya. Kepercayaanku hilang. Hidupku bukan untuknya. 

Dan aku tahu, badai itu tidak berlalu karena kamu melindungiku agar ia tak menyakitiku. Kamu tidak lagi berada di sisiku agar tidak lagi mendukungku, karena kamu tahu dukunganmu pun tidak berarti. Hanya akan membuatku ingin bersinar kembali tanpa bisa mengubah apapun. Hanya akan membuatku sakit.

Lalu aku memilihmu. Aku memilih untuk berhenti agar kamu kembali ke sisiku. Entah bagimu, tapi kamu adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Singkat, namun setiap detik tersimpan rapi dalam waktuku. Caramu melindungiku yang kuharap kutahu sejak awal, namun ketika kutahu, aku tahu aku terlambat.

Tak pernah ku tahu kapan kau akan kembali ke sisiku. Tak mampu pula aku berharap. Aku menghormati keputusanmu untuk tidak berada dekat denganku, tak sanggup mengusikmu. Namun andai waktu dapat kuputar kembali...

...kurasa, aku ingin mencintaimu.

Aku ingin bersinar untukmu. Aku ingin berjuang mendapatkan hatimu. Meski sulit, meski kamu tak seperti pria-pria yang selalu menarik perhatianku. Tapi, mungkin akan jauh lebih berarti. Mengapa tidak? Mengapa tidak mencintaimu, yang selalu berada di sisiku? Mengapa tidak menyayangimu yang selalu menyayangiku? Mengapa tidak mempedulikanmu yang selalu memikirkanku? Mengapa tidak mengejarmu yang tak pernah berhenti mempercayaiku?

Bukan untuk mendapatkan cintamu. Bukan pula semata untuk menjadikanmu kekasihku. Hanya mencintaimu. Hanya itu. Hanya karena kamu pantas mendapatkan hatiku.
 
Hanya karena kamulah yang layak untuk cintaku. Bukan dia.

Namun, seperti yang selalu terjadi pada siapapun, bukan?

Ya.

Penyesalan selalu datang terlambat. 

Teruntuk kalian yang memiliki kisah serupa. Yang mengalami salah alamat saat mengirim sang cinta.

0 comments:

Post a Comment

Feel free to drop anything! Thank you!