2/2/15

Berat Jodoh, Kenapa?

Siapa yang lagi nyari jodoh? Ayo, angkat tangannya...

*angkat tangan sendiri*

Iya, gue sendiri salah satu yang lagi nyari. Tapi postingan ini bukan bertujuan mempromosikan diri gue sendiri demi menyukseskan misi tersebut, kok. Gue lagi mau ngebahas kesulitan menemukan si jodoh. Atau mungkin jodoh agak berat dan berlebihan ya, menemukan 'pasangan' aja deh. Pacar, gitu.




Gue mau memulai dengan satu cerita sederhana. Jadi sekitar 2 minggu lalu gue sidang, dan di sidang tersebut gue di pihak tergugat. Selain gue, ada beberapa tergugat lainnya yang udah hadir juga, dan lagi ngobrol2 sembari nunggu penggugat yang nggak juga muncul. Nah, salah satu tergugat ini punya kuasa hukum yang cantik banget. Cantik sih emang soal selera ya, tapi cewek ini menurut gue memenuhi segala kriteria kecantikan yang dianut oleh masyarakat, yaitu tinggi, putih, langsing, struktur muka tidak berantakan, dan pandai merias wajah. 

Cewek cantik ini duduk di sebelah gue di lobi pengadilan. Tiba-tiba dia nanya gue udah punya pacar apa belum, dan ketika gue tanya dia balik dia juga bilang belum. Kaget lah gue, cewek secantik itu single. Nah usut punya usut ternyata dia itu maunya sama pria Timur Tengah, dan maunya hanya sama sekitaran Iran, Persia, dan sejenisnya. So, Indonesia jelas out of her league. Furthermore, Saudi Arabia juga out of her league.

Kebayang lah ya, ada berapa sih pria Persia yang berkeliaran di Indonesia? Yang gue tau mah di Puncak banyaknya Arab yang hobi kawin itu. Dia itu nyarinya paling via dating online web, semacam Tinder. Ya wajar, karena memang di dunia nyata sehari-hari sekitarnya, pria yang dia cari itu hampir nggak ada. Dan ini tuh emang seleranya dia, soalnya dia bilang nggak suka sama bule karena sama-sama putih.

Di sini, gue paham kesulitan dia mendapatkan pasangan, yaitu karena kelangkaan 'outer'. Dan gue sulit menyalahkan dia karena, pertama, itu selera. Kedua, dia cantik, pintar, dan kaya raya, jadi ya sulit dibayangkan sih kalo dia mencari pria sembarangan yang rate-nya di bawah dia yang konon katanya sih malah pada minder mau PDKT.

Nah, lalu bagaimana dengan saya?

BWAHAHA.

Pertama, kecantikan gue dibandingkan cewek ini bagaikan butiran asap kendaraan. Kedua, ...

Nggak, nggak, gue bukan mau minder di sini.

Oke, kita serius. Kalo menurut pengamatan gue sih, gue sulit mendapatkan pasangan karena kelangkaan 'inner'. Kalo si cantik tadi itu sulit karena kelangkaan outer, gue karena inner.

Kenapa gue bermasalah dengan kelangkaan inner, adalah karena gue tidak ada masalah dengan outer. Selera gue nggak sesulit itu dicari, nggak perlu pria Kutub Utara yang begitu menjejakkan kaki di Jakarta langsung cari kulkas. Gue juga nggak ada masalah dengan bule barat (Eropa, Amerika, Australia, dll) meskipun warna kulit gue tidak gelap. Pribumi atau bukan, tidak masalah. 

Tapi mungkin ada sedikit masalah outer, di mana gue tidak mau dengan cowok-cowok yang menggunakan atribut agama. Ustad? Skip. Pastor? Skip. Bikshu? Skip. Oke, ini sekedar disclaimer yang sebenarnya berhubungan dengan kelangkaan inner.

Gue, berhubung ini syarat dari orang tua, mencari pria yang beragama Islam. Udah? Belum. Syarat turunannya adalah dia harus Islam KTP. Jadi, gue nggak mau sama cowok-cowok yang religius, yang dikit-dikit omongannya ngutip kitab suci. Yang dikit-dikit nyuruh gue nutup aurat. Yang bisa-bisa suatu hari nanti minta kawin lagi supaya gue dijamin surga. Pret. Gue nggak mau. SKIP.

Susah, 'kan? Mau yang beragama, tapi nggak mau yang religius. Kalaupun ada yang seperti itu, mereka tidak berserakan di lingkungan pergaulan gue, atau sudah sold out

Kemudian, gue mencari pria yang sebetulnya tidak terlalu menjadi favorit ibu-ibu, yaitu pria yang fisiknya cenderung kurus, dan kalau bisa berkacamata. TAPI eh tapi, kalo gue nemu pria macam ini lalu dia mengejar-ngejar gue dengan membabi-buta (tiap detik chat, SMS, telepon, dsj) gue bakalan ketakutan. Iya, ketakutan. Gue takut, loh, dideketin secara agresif sama cowok. Walaupun gue tau cewek-cewek lain lebih suka seperti itu ketimbang mereka harus mulai duluan. Gue juga tidak selalu suka mulai duluan, tapi beneran deh, kalo dikejar-kejar dengan intens, astaga, gue pengen pindah planet aja rasanya (._.).

Intinya, seperti apapun bentuknya, kalo cowok ini tipe ngejar-ngejar, gue nggak bisa.

Susah, 'kan?

Sedangkan konon katanya pria itu punya naluri pemburu. Lah, gue malah ketakutan pas diburu. Ya pantes aja lah susah dapet pasangan.

Belum lagi syarat-syarat lainnya. Contoh lagi, gue suka sama pria cerdas, apalagi kalo cerdas akademis (karena gue oon akademis). TAPI eh tapi gue nggak suka pria yang superior, dominan, dan cenderung membodoh-bodohi orang lain karena mereka lebih pintar. NAH. SUSAH 'KAN? Padahal 'kan kalo orang itu punya kelebihan dibanding orang lain, orang tersebut biasanya akan cenderung bersikap superior dan dominan, dan itu manusiawi. 

Tapi 

gue 

nggak 

suka. 

Nah loh.

Ya mungkin kita bisa menyederhanakan kesulitan karena kelangkaan ini dengan kalimat sakti yang ampuh, yaitu: YAH, EMANG BELUM KETEMU AJA.

Atau mungkin jodohnya cewek.


12/16/14

7 Manusia Harimau: Great Concept under Terrible Package

Boo!

Minggu lalu gue baru aja ngulang ujian Dasar I buat jadi konsultan hukum pasar modal. Iya, gue yang o'on ini nggak lulus ujian sebelumnya, alhasil kudu ngulang, bayar 300 ribu. Semoga aja aing lulus lah, lelah kalo mesti ngeluarin 300 ribu terus ._.

Sebelum ujian, gue janji ke diri sendiri bakal bayar utang-utang doodling, fan-art, fanfic, baca novel, dan bikin blog post. Tapi selesai ujian gue malah nggak nyentuh satu pun dari semua itu ._. gue malah main game, baca komik, dan nonton sinetron seperti sebelum ujian (yang gue lakukan selain belajar ogah-ogahan). Berhubung sekarang gue udah terlanjur sayang online, ya sudah setidaknya gue bayar dulu utang yang ini.

Jadi gini ceritanya. Tiap gue pulang kantor dan nyampe di rumah sebelum jam delapan, gue punya kebiasaan nonton Ini Talk Show di Net sambil makan malem, lalu setelahnya karena hawanya panas banget gue ngadem lah di kamar nyokap gue yang ber-AC. Nah di kamar nyokap itu TV-nya nggak dipasang cable, jadi mau nggak mau gue harus menelan tayangan lokal yang lagi ditonton nyokap. Gue mah udah kenyang lah disuguhin sinetron, FTV, bahkan infotainment nggak penting yang cuma merusak tatanan akal sehat gue. Sampai suatu hari gue sadari nyokap udah nggak lagi intens nonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang bahkan tokoh tukang buburnya udah meninggal dan sisanya tinggal peran-peran lain yang kalo ngomong selalu teriak-teriak bikin gendang telinga hancur berkeping-keping. Yang nyokap lagi rajin tonton sekarang itu sinetron 7 Manusia Harimau.


ya anggap aja saya khilaf

Gue sempet lihat beberapa kali dan meh, astaga, itu macan CGI-nya pengen gue tabok. Belum lagi dialog-dialognya yang aneh lebay dan dangdut level Cita Citata (gue masih heran kenapa nih orang namanya Cita Citata, males mikirnya keliatan banget). Tapi nyokap bilang ternyata itu dari legenda asli daerah Sumatra dan bahkan dari film jaman dulu. Gue googling-lah, dan ternyata filmnya ditayangkan di bioskop-bioskop kesayangan anda pada tahun kelahiran gue yaitu 1986. Pantesan aja gue nggak pernah denger ada film judulnya ini, lah wong pas dia tayang gue baru muncul di dunia -_- dan kayaknya bukan film yang happening bertabur bintang-bintang karena dari sekian banyak pemainnya yang gue tau cuma Ray Sahetapy, si bos Tama di The Raid: Redemption. Lebih parah lagi, filmnya ada di YouTube tapi nggak berhasil gue tonton saking buruknya kualitas gambarnya. Sepanjang film, mau itu siang, malam, subuh, semuanya gelap -_-

Dan ternyata juga, sinetron (dan film itu) diangkat dari novel jaman dulu yang terdiri dari sepuluh seri. Aih, terdengar happening ya, macam Harry Potter aja sampe ber-seri-seri. Eh sebentar, ada donlotannya nih, download dulu ah.

Done

Lama-lama, gue jadi nontonin juga ini sinetron. Gue perhatiin, dibanding sinetron lainnya yang isinya cuma drama, zoom in zoom out, dan berantem teriak-teriak, sinetron macan ini beda. Ya iyalah beda, secara diangkat dari novel lokal yang berlatar belakang legenda dan kebudayaan lokal. Tadinya gue menganggap orang-orang di sinetron ini cara ngomongnya aneh, ternyata dialognya udah dibuat berlogat Sumatra jadinya ya wajar kalo terdengar aneh untuk telinga orang Jakarta, apalagi orang planet Bekasi kayak gue. 

Yang gue juga suka lagi adalah pertunjukan koreografi bela diri-nya. Semenjak fenomena The Raid, gue emang menikmati film lokal yang ada bela diri-nya, dan semakin menikmati ketika The Raid 2: Berandal tayang dan menginspirasi gue untuk menulis beberapa fanfic sekaligus. Semakin menikmati lagi ketika komik lokal favorit gue, NusantaRanger, juga menampilkan bela diri lokal, khususnya yang ditampilkan oleh Naya si Nusa-Yellow dan gue sudah memastikan bahwa tidak ada hubungan antara dia dengan Dijah Yellow yaitu silat harimau. Silat yang sama ditampilkan pula di film Merantau, yang merupakan dedengkotnya The Raid Saga, dan di 7 Manusia Harimau ini. 

Gue suka karena di setiap episodenya, sinetron macan (yeah that's how I call it) ini menampilkan pertunjukan bela diri. Dan bela diri-nya bukan cuma adegan berantem ngelawan preman untuk menyelamatkan cewek cakep macam di FTV, tapi juga dengan sesama teman yang jago bela diri. Gue perhatiin baik-baik, ternyata memang ada beberapa aktor yang punya latar belakang atlet bela diri, makanya begitu masuk ke scene berantem kok gerakan mereka enak dilihat, beda banget sama yang nggak punya latar belakang seperti itu. Ini sih yang juga menurut gue nggak ada di sinetron lainnya. Wait, stop saying it's different, Fit, because it indeed is different without you mention -_-

Sebelum gue masuk ke pembahasan karakter favorit, gue mau menyampaikan terlebih dahulu bahwa 7 Manusia Harimau ini adalah sinetron dengan konsep cerita yang bagus dan terstruktur (karena dari novel sih ya), namun dikemas dengan buruk, dengan segala CGI pas-pasan macam elang Ind*siar dan akting beberapa pemain yang tidak total, terutama yang nggak ngomong dengan menggunakan aksen Sumatra. Hellaw, itu sinetron lokasinya di desa terpencil Sumatra, ya masa iya penduduknya ngomong bahasa Indonesia dengan aksen normal? Dan yang juga buruk adalah kostum pemainnya, dimana mereka menggunakan baju-baju modern macam anak kota. Please, ini pembuat sinetronnya nggak pada riset dulu-kah? Okelah kalo kaos dan celana emang udah sewajarnya, tapi jaket kulit? Hellaw?

Dan, bisa nggak sih, sinetron ini nggak usah stripping supaya jadinya sempurna? -_-

Nah, kita masuk ke karakter favorit gue. Seperti biasa, gue selalu malas sama karakter heroik yang baik hati dan disukai semua orang, dan gue selalu suka karakter anti-hero dan villain. Di sinetron ini kebetulan villain-nya aneh semua, buruk, aktingnya kaku, dialognya pun tidak keren, jadi gue beralih kepada karakter anti-hero berikut ini:

Pitaloka si anak macan

Awalnya gue underestimate sama cewek ini. Ah siapa lah, protagonis standar yang naksir tokoh utama. Tapi di beberapa episode belakangan ini gue suka penampilan dia kecuali pas lagi nangis lebay. Dia nampak tegas dan punya pendirian, bahkan bisa ngomong keras ke cowok yang dia suka ketika si cowok berniat menyelamatkan dia dari bahaya. Aihhh di sinetron dan FTV mana lagi gue bisa menemukan cewek sekeren ini? Lebih lagi, dia academically cerdas dan jago bela diri. Aktris yang memerankannya menurut gue menampilkan karakter ini dengan baik, terlepas dari setting wajahnya yang sebenarnya sudah wajah antagonis. 


Rajo Langit si villain insyaf

Nah kalo yang ini awalnya gue jengah sama cara bicaranya karena beda sendiri dibanding yang lainnya. Ternyata itulah logat Sumatra, dan dia satu-satunya karakter yang ngomong pake logat itu dengan total. Gue suka karakternya yang songong tapi sebenernya baik hati, terutama pas dia ngomong ke villain-nya "sudahlah, kau mengaku kalah saja" dengan muka super belagu sebelum menyerang. Ahzek. Karakter hero di sinetron lainnya mana bisa begitu, yang bisa ngaco gitu mah cuma hero-nya Marvel macem Tony Stark atau Peter Quill. Apalagi aktor yang memerankan karakter ini aslinya punya latar belakang atlet silat. Dan satu lagi yang gue suka dari karakter ini adalah dia satu-satunya karakter yang manggil tokoh utamanya dengan sebutan 'Tuan Guru'.

Sejujurnya, alasan gue menyukai sinetron ini tidak setulus itu. Sinetron ini mengandung unsur The Raid Saga dan NusantaRanger yang sangat pekat, itulah yang membuat gue suka. Bisa jadi suatu hari nanti gue akan nge-fanfic The Raid Saga lagi tapi karakternya jadi karakter sinetron ini, misalnya Alicia 'Hammer Girl' jadi Pitaloka. Bisa aja kan ._.

Terlepas dari fakta bahwa setiap adegan dan dialog dalam sinetron satu ini bikin ketawa dan patut dikatain, gue cukup merasa ini sinetron ini menandai kebangkitan sinetron lokal yang sudah terpuruk sejak 100 tahun sebelum Masehi. Tapi gue akan menarik kata-kata gue ini ketika ternyata sinetron ini dipanjang-panjangin nggak tau arah di saat seharusnya sudah bisa tamat.

Let's see.

11/18/14

Love, Mental Issue, and Decision

Jadi tadi gue abis nonton Interstellar dan gue melihat banyak pasangan yang nonton film itu juga. Eaaa.

Gue emang belakangan ini lagi males-malesnya nyari cowok, jatuh cinta, dan sejenisnya. Bukan apa-apa. I have a mental issue, where I'm an overly attached person to someone I have crush on/love. Jadi ya gue pikir selama penyakit mental ini masih belum sembuh, gue nggak usah dulu lah mikirin jatuh cinta apalagi pacaran soalnya nanti ujung-ujungnya nggak enak kayak yang udah-udah.

Tapi hari ini pemikiran itu sedikit berubah.

Harus gue akui bahwa sendirian itu enak. Bebas. Bisa melakukan apa aja tanpa harus khawatir dilarang pacar, apalagi nggak perlu minta izin segala buat hal printilan kayak potong rambut atau pergi ke mana. Nggak bakalan ada yang ngelarang dengan dalih khawatir, sayang, dan sejenisnya, yang menurut gue bullshit tingkat tinggi karena itu cuma insecurity si pria aja pada akhirnya. Nggak ada yang jadi beban pikiran kapan dia mau nikah sama gue, dia serius apa enggak sama gue, orangtua dia setuju apa nggak dia sama gue, orangtua gue suka nggak sama dia, dan sejenisnya. I'm free. And I love it. 

And I don't feel like leaving this comfort zone.

However, whenever I saw people look happy with their partner, I start to change my mind. I start to think that it's not so bad to fall in love and have someone to share about anything with. They look happy and comfortable, and I've been there too, I know it was delighting. I felt completed and secure to have someone who falls in love with me, whom I fall in love with as well.

It's great being alone, but it's not too bad to have someone to share with.  

Memang pasti bakal nggak enak dan ribet, banyak pikiran, but I think things in life are created that way. You get some, you lose some. Single enak, tapi khawatir kok nggak juga punya partner. Punya partner enak, tapi banyak pikiran. Well, I think both worth the result. Hidup kan nggak melulu tentang hal-hal yang menyenangkan, banyak juga hal-hal menyebalkan dan menyedihkan yang mesti dialami manusia.

Tentang mental issue gue, sepertinya gue nggak akan pernah tau itu bisa sembuh atau tidak selama gue masih tidak bersama siapa-siapa, karena gejalanya baru timbul ketika gue bersama seseorang. Lagipula, sepertinya gue sudah menemukan solusinya sih. Tapi nggak mau gue bahas di sini ah, nanti jadi nggak seru dong. *lah dikira apaan*  

And that way, I think I want to fall in love. Again. 

Or should I say I already do? Pffft.


This is not important, but I'd love to share a little bit of it. Since around April, when my favorite The Raid 2: Berandal was still airing on the cinema, I had a crush on someone I haven't met back then, who loves that movie and loves Uco like I do (although not in a fangirling mode like me). I forgot why and when I exactly started to stalk about him and asked his friends about him, but afterwards things didn't go smooth. 

Gue nggak pernah bisa serius suka sama orang ini. Alasannya, pertama dia waktu itu suka sama orang lain (yang sepertinya gue tau dan tipenya beda banget sama gue), kedua dunia kita sangat sangat berbeda jauh, ini yang menurut gue menentukan. Pergaulan kita nggak satu irisan (ya satu irisan pun bukan yang sering ketemu), selera musik kita beda jauh (selera musik buat gue kayak agama, harus sama), selera film mungkin masih sama tapi tetap ada perbedaan lumayan jauh. Dan yang pasti pekerjaan dan lingkungan pekerjaan kita 100% nggak ada nyambung-nyambungnya.

Tapi di luar dugaan, suatu hari kita ngopi-ngopi cantik berdua, dan kita yang berbeda dunia ini ngobrol non-stop sampai gue susah mau jawab SMS dan WhatsApp dari klien dan rekanan, bahkan begitu kita ketemu gue sempat susah mau beranjak untuk place an order saking begitu ketemu kita langsung ngobrol non-stop. Begitu gue mau beranjak pulang pun susah.

Gue kaget aja karena dua orang yang berbeda dunia kok bisa ngobrol kayak steker dan stop kontak yang kalo nggak dicabut paksa atau dimatiin PLN maka listriknya ngalir terus. 

So I think, in accordance with my current decision, he's my beginning. Will he be my end? I don't know. But all I know is we'll be fine no matter he becomes my end or not.

And after all, I won't hesitate to fall in love.

8/19/14

On Wednesday We Wear Pink Plaid

"If you love two persons at the same time, choose the second one. Because if you really love the first one, you won't fall for the second one." -Johnny Depp

Presidential election was a piece of cake.

The last time I voted, really voted, for my real favorite president candidate was in the first round of 2009 election.

So far, you surely got who I voted.

Sisanya, paling apa sih? Pilkada? Pilgub? Walikota? Who the fuck cares. Gue nggak tau siapa calonnya, kampanyenya buruk, program-programnya nggak tersosialisasi dengan baik. Again, and again, always, who the fuck cares.

Dan menyambung dengan postingan gue tentang pilpres sebelumnya, digabungkan dengan quote di awal postingan ini, sebetulnya gue masih heran kalo masih ada yang bertanya 'Fit, jadi elo pilih siapa pas pilpres kemaren?' Dude, come on. Am I that mysterious? I thought I already come out quite clearly.

 
I chose you (two)

Memang, sampai dengan hari pemilihan, gue berusaha untuk bungkam dan netral. Gue memandang kedua capres sama bagusnya dan juga sama buruknya, tidak ada yang gue bela. Tidak ada postingan gue di media sosial yang menunjukkan, bahkan menyiratkan, dukungan gue kepada salah satu dari mereka. Meskipun bukan berarti gue tidak peduli, apalagi sampai berniat untuk tidak memilih.

I mean, like, our country had been lead by the current president for 10 years in a row, and we did not even have a new face to lead us five years ago. Well, at least the vice president was new ._.

Menyambung postingan gue sebelumnya yang gue sebutkan di atas, gue menggunakan teori yang sama dalam memilih capres maupun pacar. Gue akan selalu memilih yang terbaru, bukan yang lama. Meski demikian, alasan gue memilih tentunya bukan hanya itu. Bukan hanya soal siapa yang datang duluan dan belakangan.

Dalam fanfiction The Raid yang sekarang sedang gue kerjakan, Salvation Sanctuary, gue menulis tentang pemilihan ketua OSIS, di mana salah satu kandidatnya adalah Eka. Iya, Eka yang ganteng, gagah, dan manly itu, advisor-nya Pak Bangun. 

Eka the president (of Student Council) candidate in fanfic

Dan ada satu punch line dalam speech-nya dia sebagai kandidat, yang baru akan muncul dalam bab 12 (iya, sekarang baru di-upload sampe bab 4, jadi anggap aja ini bonus spoiler) yang bunyinya seperti ini:

"...I believe that whoever you vote for the next Student Council president, your only reason would be the best vision and missions out of the rest, or the most favorite person that you think deserves serving as president."

Jadi, alasan gue memilih orang itu adalah, tentu saja, karena dia punya visi-misi yang bagus. Namun, karena pesaingnya juga punya visi-misi yang tidak kalah bagusnya, maka alasan gue berikutnya adalah gue menyukainya dan menganggapnya layak memimpin negara ini. Kenapa gue suka dan menganggapnya layak? Karena yang bersangkutan dekat dengan masyarakat dan beliau bekerja. He works. I think someone, who works his/her ass off for good, deserves to lead.

Sejujurnya, sempat terlintas di benak gue untuk memilih saingannya. Alasannya karena lima tahun lalu dia tidak terpilih, dan dia merongrongi media massa dengan curhatan-curhatannya tentang ketidakterpilihannya. For God's sake, it was as terrible as seeing daily selfie pictures of an unattractive person being posted in my timeline. Jadi, gue bermaksud memilihnya karena gue nggak mau dia merongrongi media massa lagi. Visi-misi bagus ya alasan standar lah.

But, then, really?

Pidato Eka dalam fanfic gue tulis karena gue memang berpendapat bahwa ketika kita, atau setidak-tidaknya gue, memilih kandidat pemimpin, maka selogis-logisnya alasan adalah karena visi-misi yang bagus dan orang tersebut kita anggap layak menduduki jabatan tersebut. Ketika ada alasan selain dua itu, misalnya karena nggak ada pilihan lain sehingga harus memilih yang terbaik dari para kandidat buruk, atau karena dengan terpilihnya kandidat yang kita dukung maka akan terjadi kerusuhan dan sejenisnya, menurut gue  mendingan nggak usah milih aja sekalian. Atau okelah karena golput itu tidak keren, maka berusahalah untuk mencari alasan yang setidaknya mendekati kedua alasan logis tadi.

I don't want to see myself vote because 'the other candidate(s) is worse' and not because 'this candidate is great and he/she deserves it'.
 
Anyway, bab 12 fanfic itu gue tulis tidak lama setelah pilpres. Jadi momennya memang masih hangat-hangatnya. Dan sekarang gue belum melanjutkannya lagi, padahal seharusnya sudah tidak jauh lagi dari tamat. My bad, selalu stuck setelah nulis klimaks ._.

So, as I silently promised myself before the election result came out, if my voted candidate win, I'll consider to wear plaid every Wednesday. Now that I said so, I remember I don't have enough plaids to be worn each week. Let's go shopping. Of course, after payday ._.

Oh, Dear, yes, I like the president-elect that much.

7/10/14

28

So, I just celebrated my birthday for like three times. Four. No, three.



Yang pertama di rumah pas hari H. Tapi waktu itu gue cranky banget, soalnya nggak ada yang bisa foto-in gue tiup lilin properly (I mean like I don't think my mom can shoot the right angle). Dan gak ada apa-apa juga, cuma gue tiup lilin di atas cake-nya Tous Les Jours yang gue taro lego Loki di atasnya buat lucu-lucuan. Sayang gak ada lego Uco. /eh


But to be well-noted, cake yang dimaksud BLEH rasanya. Dibilang enak ya jauh dari enak, dibilang nggak enak ya nyatanya gue masih bisa makan. Tapi yang pasti itu cake terlalu banyak sponge instead of the cream, ditambah sponge-nya kasar pula. Jadi rasanya nanggung banget. Cream-nya pun manisnya nanggung. Serba nanggung. Jangan tertipu lagi dengan toko, bentuk kue, dan kotak kue yang bagus deh ah -_-

Perayaan kedua di Sushi Tei Lotte Shopping Avenue. Hari itu pun gue ngamuk sengamuk-ngamuknya. Bener-bener apes. Jadi gue turun dari APTB di halte deket Karet, dan gue pikir karena dari situ ke LoVe deket, gue milih jalan kaki aja sampe ke pangkalan angkot 44 ketimbang naik taksi. Eh, emang dasar apes, pas gue turun dari trotoar mau naik ke 44, gue salah injek. Batu gede yang gue injek ternyata bukan batu melainkan lumpur tebal. Yah, jadilah sepatu Converse gue yang mahal tapi diskon 50% itu terendam lumpur seutuhnya. Gue teriak sekenceng2nya macem diperkosa. Ya iya lah. Belom juga gue nyampe ke tempat tujuan, sepatu gue udah kena musibah.

Akhirnya gue cuci itu sepatu dengan brutal di toilet LoVe sampe kena-kena baju dan shorts gue. Untungnya gue baru dapet kado duit dari bokap, jadi gue bisa langsung beli baju-shorts-sepatu baru di Uniqlo. Gue masuk ke LoVe dalam keadaan kaki kiri nyeker, dan keluar dari toilet, masuk ke Uniqlo, dalam keadaan nyeker total, sepatu gue tenteng. Dilihatin udah pasti, tapi ya mau apa lagi? Untungnya setelahnya acara berlangsung khidmat (halah), gue berhasil tiup lilin di rice cake Tei, bahkan ada sisaan sushi yang bisa gue bawa pulang buat orang rumah (ya biar pada tau rasanya sushi di resto sushi kesayangan gue).

 saved by Uniqlo, head to toe

Perayaan ketiga di Passer Koeningan Plaza Festival. Tadinya gue pikir pada bawa cake jadi bisa tiup lilin pas acara buka bersama di Lau's Kopitiam, eh ternyata enggak. Jadi setelahnya kita duduk-duduk lucu aja di Passer Koeningan setelah gue beli cake kecil BreadTalk dan tiup lilin, sambil main Uno. 

Yang lucu dari perayaan hari itu adalah gue terima dua kado yang sama dari dua orang yang berbeda yaitu sketch book. Yang satu ukurannya super gede, sampe gue nggak tau mesti diapain, satunya lagi seukuran A4 yang sekarang gue taro di kantor biar nggak ngegambarin used paper melulu. Dikasih kado seperti itu beneran beban moral, Vroh ._.


I am morally burdened with these

Perayaan keempat, terakhir, kemarin di Kedai Pelangi Sabang. Hari itu kita pake dresscode baju khas capres yang kita pilih, karena emang pas banget siangnya kita nyoblos capres pilihan kita di TPS kesayangan kita. /eh Sayangnya satu temen gue krik, dia milih capres Q, tapi karena yang menang sementara itu capres X jadi dia pake dresscode ala capres X. Ish, dresscode crime banget, meskipun kita jadi kembaran semua sih ._.

Di perayaan ini, gue nggak nyangka bakal dibeliin Lollipop Cake-nya Colette & Lola yang lucuk banget dari bentuk dan rasanya. Mungkin karena temen-temen gue ini inget gue suka pink, jadi mereka beli cake warna pink. Di cream cake-nya ada permen yang meletus-letus di lidah itu. Nah sayangnya, pas kita mau pindah tempat ke Blumchen Coffee SCBD, kita terjebak macet di Bunderan HI gara-gara perayaan kemenangan capres. Ada kembang api sih, udah kayak tahun baru aja. Gue cuma heran aja, ini kan kemenangan belum fix ya, kok udah selebrasi aja gitu. Kalo quick count-nya salah gimana hayo? Lah kok jadi lost focus.

because I will always be their Fin

Terlepas dari segala perayaan dan kado-kado yang gue terima di umur gue yang ke-18+10 ini, hadiah yang betul-betul hadiah sebenernya ya penyumpahan advokat, yang ceritanya udah gue tulis di postingan yang lalu. I mean like, I've waited all my life to finally get there, and I got there.

So, I'm a happy birthday lawyer. May the new age brings luck! \o/