Boo!
Minggu lalu gue baru aja ngulang ujian Dasar I buat jadi konsultan hukum pasar modal. Iya, gue yang o'on ini nggak lulus ujian sebelumnya, alhasil kudu ngulang, bayar 300 ribu. Semoga aja aing lulus lah, lelah kalo mesti ngeluarin 300 ribu terus ._.
Sebelum ujian, gue janji ke diri sendiri bakal bayar utang-utang doodling, fan-art, fanfic, baca novel, dan bikin blog post. Tapi selesai ujian gue malah nggak nyentuh satu pun dari semua itu ._. gue malah main game, baca komik, dan nonton sinetron seperti sebelum ujian (yang gue lakukan selain belajar ogah-ogahan). Berhubung sekarang gue udah terlanjur sayang online, ya sudah setidaknya gue bayar dulu utang yang ini.
Jadi gini ceritanya. Tiap gue pulang kantor dan nyampe di rumah sebelum jam delapan, gue punya kebiasaan nonton Ini Talk Show di Net sambil makan malem, lalu setelahnya karena hawanya panas banget gue ngadem lah di kamar nyokap gue yang ber-AC. Nah di kamar nyokap itu TV-nya nggak dipasang cable, jadi mau nggak mau gue harus menelan tayangan lokal yang lagi ditonton nyokap. Gue mah udah kenyang lah disuguhin sinetron, FTV, bahkan infotainment nggak penting yang cuma merusak tatanan akal sehat gue. Sampai suatu hari gue sadari nyokap udah nggak lagi intens nonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang bahkan tokoh tukang buburnya udah meninggal dan sisanya tinggal peran-peran lain yang kalo ngomong selalu teriak-teriak bikin gendang telinga hancur berkeping-keping. Yang nyokap lagi rajin tonton sekarang itu sinetron 7 Manusia Harimau.
Gue sempet lihat beberapa kali dan meh, astaga, itu macan CGI-nya pengen gue tabok. Belum lagi dialog-dialognya yang aneh lebay dan dangdut level Cita Citata (gue masih heran kenapa nih orang namanya Cita Citata, males mikirnya keliatan banget). Tapi nyokap bilang ternyata itu dari legenda asli daerah Sumatra dan bahkan dari film jaman dulu. Gue googling-lah, dan ternyata filmnya ditayangkan di bioskop-bioskop kesayangan anda pada tahun kelahiran gue yaitu 1986. Pantesan aja gue nggak pernah denger ada film judulnya ini, lah wong pas dia tayang gue baru muncul di dunia -_- dan kayaknya bukan film yang happening bertabur bintang-bintang karena dari sekian banyak pemainnya yang gue tau cuma Ray Sahetapy, si bos Tama di The Raid: Redemption. Lebih parah lagi, filmnya ada di YouTube tapi nggak berhasil gue tonton saking buruknya kualitas gambarnya. Sepanjang film, mau itu siang, malam, subuh, semuanya gelap -_-
Dan ternyata juga, sinetron (dan film itu) diangkat dari novel jaman dulu yang terdiri dari sepuluh seri. Aih, terdengar happening ya, macam Harry Potter aja sampe ber-seri-seri. Eh sebentar, ada donlotannya nih, download dulu ah.
Done.
Lama-lama, gue jadi nontonin juga ini sinetron. Gue perhatiin, dibanding sinetron lainnya yang isinya cuma drama, zoom in zoom out, dan berantem teriak-teriak, sinetron macan ini beda. Ya iyalah beda, secara diangkat dari novel lokal yang berlatar belakang legenda dan kebudayaan lokal. Tadinya gue menganggap orang-orang di sinetron ini cara ngomongnya aneh, ternyata dialognya udah dibuat berlogat Sumatra jadinya ya wajar kalo terdengar aneh untuk telinga orang Jakarta, apalagi orang planet Bekasi kayak gue.
Yang gue juga suka lagi adalah pertunjukan koreografi bela diri-nya. Semenjak fenomena The Raid, gue emang menikmati film lokal yang ada bela diri-nya, dan semakin menikmati ketika The Raid 2: Berandal tayang dan menginspirasi gue untuk menulis beberapa fanfic sekaligus. Semakin menikmati lagi ketika komik lokal favorit gue, NusantaRanger, juga menampilkan bela diri lokal, khususnya yang ditampilkan oleh Naya si Nusa-Yellow dan gue sudah memastikan bahwa tidak ada hubungan antara dia dengan Dijah Yellow yaitu silat harimau. Silat yang sama ditampilkan pula di film Merantau, yang merupakan dedengkotnya The Raid Saga, dan di 7 Manusia Harimau ini.
Gue suka karena di setiap episodenya, sinetron macan (yeah that's how I call it) ini menampilkan pertunjukan bela diri. Dan bela diri-nya bukan cuma adegan berantem ngelawan preman untuk menyelamatkan cewek cakep macam di FTV, tapi juga dengan sesama teman yang jago bela diri. Gue perhatiin baik-baik, ternyata memang ada beberapa aktor yang punya latar belakang atlet bela diri, makanya begitu masuk ke scene berantem kok gerakan mereka enak dilihat, beda banget sama yang nggak punya latar belakang seperti itu. Ini sih yang juga menurut gue nggak ada di sinetron lainnya. Wait, stop saying it's different, Fit, because it indeed is different without you mention -_-
Sebelum gue masuk ke pembahasan karakter favorit, gue mau menyampaikan terlebih dahulu bahwa 7 Manusia Harimau ini adalah sinetron dengan konsep cerita yang bagus dan terstruktur (karena dari novel sih ya), namun dikemas dengan buruk, dengan segala CGI pas-pasan macam elang Ind*siar dan akting beberapa pemain yang tidak total, terutama yang nggak ngomong dengan menggunakan aksen Sumatra. Hellaw, itu sinetron lokasinya di desa terpencil Sumatra, ya masa iya penduduknya ngomong bahasa Indonesia dengan aksen normal? Dan yang juga buruk adalah kostum pemainnya, dimana mereka menggunakan baju-baju modern macam anak kota. Please, ini pembuat sinetronnya nggak pada riset dulu-kah? Okelah kalo kaos dan celana emang udah sewajarnya, tapi jaket kulit? Hellaw?
Dan, bisa nggak sih, sinetron ini nggak usah stripping supaya jadinya sempurna? -_-
Nah, kita masuk ke karakter favorit gue. Seperti biasa, gue selalu malas sama karakter heroik yang baik hati dan disukai semua orang, dan gue selalu suka karakter anti-hero dan villain. Di sinetron ini kebetulan villain-nya aneh semua, buruk, aktingnya kaku, dialognya pun tidak keren, jadi gue beralih kepada karakter anti-hero berikut ini:
Pitaloka si anak macan
Awalnya gue underestimate sama cewek ini. Ah siapa lah, protagonis standar yang naksir tokoh utama. Tapi di beberapa episode belakangan ini gue suka penampilan dia kecuali pas lagi nangis lebay. Dia nampak tegas dan punya pendirian, bahkan bisa ngomong keras ke cowok yang dia suka ketika si cowok berniat menyelamatkan dia dari bahaya. Aihhh di sinetron dan FTV mana lagi gue bisa menemukan cewek sekeren ini? Lebih lagi, dia academically cerdas dan jago bela diri. Aktris yang memerankannya menurut gue menampilkan karakter ini dengan baik, terlepas dari setting wajahnya yang sebenarnya sudah wajah antagonis.
Rajo Langit si villain insyaf
Nah kalo yang ini awalnya gue jengah sama cara bicaranya karena beda sendiri dibanding yang lainnya. Ternyata itulah logat Sumatra, dan dia satu-satunya karakter yang ngomong pake logat itu dengan total. Gue suka karakternya yang songong tapi sebenernya baik hati, terutama pas dia ngomong ke villain-nya "sudahlah, kau mengaku kalah saja" dengan muka super belagu sebelum menyerang. Ahzek. Karakter hero di sinetron lainnya mana bisa begitu, yang bisa ngaco gitu mah cuma hero-nya Marvel macem Tony Stark atau Peter Quill. Apalagi aktor yang memerankan karakter ini aslinya punya latar belakang atlet silat. Dan satu lagi yang gue suka dari karakter ini adalah dia satu-satunya karakter yang manggil tokoh utamanya dengan sebutan 'Tuan Guru'.
Sejujurnya, alasan gue menyukai sinetron ini tidak setulus itu. Sinetron ini mengandung unsur The Raid Saga dan NusantaRanger yang sangat pekat, itulah yang membuat gue suka. Bisa jadi suatu hari nanti gue akan nge-fanfic The Raid Saga lagi tapi karakternya jadi karakter sinetron ini, misalnya Alicia 'Hammer Girl' jadi Pitaloka. Bisa aja kan ._.
Terlepas dari fakta bahwa setiap adegan dan dialog dalam sinetron satu ini bikin ketawa dan patut dikatain, gue cukup merasa ini sinetron ini menandai kebangkitan sinetron lokal yang sudah terpuruk sejak 100 tahun sebelum Masehi. Tapi gue akan menarik kata-kata gue ini ketika ternyata sinetron ini dipanjang-panjangin nggak tau arah di saat seharusnya sudah bisa tamat.
Let's see.
0 comments:
Post a Comment
Feel free to drop anything! Thank you!