Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

2/19/16

H2O Reborn: The Beautifully Sophisticated Indonesia

Gue bukan penggemar cerita robot. Nggak pernah berminat nonton film yang karakternya penuh dengan robot, yang menurut semua orang di dunia ini keren semacam Transformers atau Pacific Rim

Tapi waktu gue baca H2O yang mana adalah cikal bakal H2O Reborn, gue jatuh cinta. Sayangnya ceritanya berhenti di tengah, yang untungnya diganti sama H2O Reborn. Kalo enggak ada penggantinya, beuh, sakitnya tuh di sini.

Nggak, ini nggak lebay. Ini beneran T-T

Oke, yang sudah lalu biarlah berlalu. Postingan ini dibuat bukan untuk mengingat yang sudah tidak ada, kok. Bukan untuk membangkitkan rasa yang dulu pernah ada. Lagian gue serius mengincar hadiah kaos dan merchandise kok, jadi gue harus memastikan postingan ini layak menang. /yha


H2O Reborn menurut gue adalah komik yang sangat indah, baik dari segi visual, plot cerita, karakter, sampai ke dialog para karakter. Gue udah deg-degan sejak baca prolog-nya, yang menurut gue film-able banget. Kalo suatu hari nanti ini komik bisa jadi anime atau movie, adegan di prolog itu wajib ada. Make sure you note this, creators. /ihik

Lalu masuk ke awal cerita yang dibuka dengan bot fight. Detil penggambaran adegan bot fight di H2O Reborn ini menurut gue sangat menarik, dan gue merasa bisa mendengar suara orang-orang di bangku penonton, bahkan suara mesin-mesin yang beradu. Bukan, ini bukan gombal. Ini beneran. Dan gue membayangkan bot fight beneran bisa terjadi di Indonesia, dilakukan oleh orang-orang Indonesia. 

Waktu gue nonton Real Steel dan Big Hero 6, mana gue kepikiran kalo bot fight bisa dilakukan oleh orang negeri ini? Pft.

Semakin masuk ke dalam cerita, semakin banyak karakter menarik dengan kisahnya masing-masing. Selagi gue penasaran sama kelanjutan nasib B-Bop dan para driver-nya, gue juga pengen tau masa lalu Dru yang bikin dia lengket banget sama Mana. Tapi yang sebetulnya paling menyentuh hati adalah perkembangan hubungan Sita dan Hans, sih, yang diceritakan dengan sangat cantik dimana anak yang skeptis sama robot "dipaksa" untuk berteman sama robot yang baru lahir.

Oh, and, satu hal menarik lainnya adalah karakter anak-anak disable yang hidup selayaknya orang biasa, bahkan punya kemampuan yang melebihi anak-anak seusia mereka. Ini sangat cantik menurut gue, seolah mengajarkan kepada kita bahwa mereka juga bisa hidup seperti orang biasa dan membaur dengan orang biasa. A very high appreciation to disable people.

Lalu cerita menjadi semakin seru dengan dimulainya bab pengkhianatan. This is all getting more sophisticated, and I just can't wait for each new chapters.

Komik ini adalah perwujudan Indonesia yang modern secara estetik. Adegan-adegan yang sebelumnya mungkin hanya bisa kita lihat di film-film dan komik-komik Amerika atau Jepang, ternyata bisa diaplikasikan ke karakter-karakter berlatarbelakang Indonesia dengan menggunakan nama-nama yang sangat khas Indonesia. Salute to the author, setelah dulu mencuri hati gue dengan NusantaRanger-nya yang dikemas cantik menggunakan aspek-aspek yang Indonesia-related, ternyata tidak berhenti di situ aja melainkan tetap konsisten melakukannya pada karya-karya lainnya, salah satunya H2O Reborn ini.

Last words, pilihlah aku jadi pemenang.

/plak      

Dan semoga komik ini bernasib baik ke depannya, karena gue semacam nggak mau lagi melihat ada komik bagus yang berhenti di tengah-tengah apalagi pas lagi seru-serunya. Sakitnya tuh di sini, di hati yang berharap ini T-T

12/16/14

7 Manusia Harimau: Great Concept under Terrible Package

Boo!

Minggu lalu gue baru aja ngulang ujian Dasar I buat jadi konsultan hukum pasar modal. Iya, gue yang o'on ini nggak lulus ujian sebelumnya, alhasil kudu ngulang, bayar 300 ribu. Semoga aja aing lulus lah, lelah kalo mesti ngeluarin 300 ribu terus ._.

Sebelum ujian, gue janji ke diri sendiri bakal bayar utang-utang doodling, fan-art, fanfic, baca novel, dan bikin blog post. Tapi selesai ujian gue malah nggak nyentuh satu pun dari semua itu ._. gue malah main game, baca komik, dan nonton sinetron seperti sebelum ujian (yang gue lakukan selain belajar ogah-ogahan). Berhubung sekarang gue udah terlanjur sayang online, ya sudah setidaknya gue bayar dulu utang yang ini.

Jadi gini ceritanya. Tiap gue pulang kantor dan nyampe di rumah sebelum jam delapan, gue punya kebiasaan nonton Ini Talk Show di Net sambil makan malem, lalu setelahnya karena hawanya panas banget gue ngadem lah di kamar nyokap gue yang ber-AC. Nah di kamar nyokap itu TV-nya nggak dipasang cable, jadi mau nggak mau gue harus menelan tayangan lokal yang lagi ditonton nyokap. Gue mah udah kenyang lah disuguhin sinetron, FTV, bahkan infotainment nggak penting yang cuma merusak tatanan akal sehat gue. Sampai suatu hari gue sadari nyokap udah nggak lagi intens nonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang bahkan tokoh tukang buburnya udah meninggal dan sisanya tinggal peran-peran lain yang kalo ngomong selalu teriak-teriak bikin gendang telinga hancur berkeping-keping. Yang nyokap lagi rajin tonton sekarang itu sinetron 7 Manusia Harimau.


ya anggap aja saya khilaf

Gue sempet lihat beberapa kali dan meh, astaga, itu macan CGI-nya pengen gue tabok. Belum lagi dialog-dialognya yang aneh lebay dan dangdut level Cita Citata (gue masih heran kenapa nih orang namanya Cita Citata, males mikirnya keliatan banget). Tapi nyokap bilang ternyata itu dari legenda asli daerah Sumatra dan bahkan dari film jaman dulu. Gue googling-lah, dan ternyata filmnya ditayangkan di bioskop-bioskop kesayangan anda pada tahun kelahiran gue yaitu 1986. Pantesan aja gue nggak pernah denger ada film judulnya ini, lah wong pas dia tayang gue baru muncul di dunia -_- dan kayaknya bukan film yang happening bertabur bintang-bintang karena dari sekian banyak pemainnya yang gue tau cuma Ray Sahetapy, si bos Tama di The Raid: Redemption. Lebih parah lagi, filmnya ada di YouTube tapi nggak berhasil gue tonton saking buruknya kualitas gambarnya. Sepanjang film, mau itu siang, malam, subuh, semuanya gelap -_-

Dan ternyata juga, sinetron (dan film itu) diangkat dari novel jaman dulu yang terdiri dari sepuluh seri. Aih, terdengar happening ya, macam Harry Potter aja sampe ber-seri-seri. Eh sebentar, ada donlotannya nih, download dulu ah.

Done

Lama-lama, gue jadi nontonin juga ini sinetron. Gue perhatiin, dibanding sinetron lainnya yang isinya cuma drama, zoom in zoom out, dan berantem teriak-teriak, sinetron macan ini beda. Ya iyalah beda, secara diangkat dari novel lokal yang berlatar belakang legenda dan kebudayaan lokal. Tadinya gue menganggap orang-orang di sinetron ini cara ngomongnya aneh, ternyata dialognya udah dibuat berlogat Sumatra jadinya ya wajar kalo terdengar aneh untuk telinga orang Jakarta, apalagi orang planet Bekasi kayak gue. 

Yang gue juga suka lagi adalah pertunjukan koreografi bela diri-nya. Semenjak fenomena The Raid, gue emang menikmati film lokal yang ada bela diri-nya, dan semakin menikmati ketika The Raid 2: Berandal tayang dan menginspirasi gue untuk menulis beberapa fanfic sekaligus. Semakin menikmati lagi ketika komik lokal favorit gue, NusantaRanger, juga menampilkan bela diri lokal, khususnya yang ditampilkan oleh Naya si Nusa-Yellow dan gue sudah memastikan bahwa tidak ada hubungan antara dia dengan Dijah Yellow yaitu silat harimau. Silat yang sama ditampilkan pula di film Merantau, yang merupakan dedengkotnya The Raid Saga, dan di 7 Manusia Harimau ini. 

Gue suka karena di setiap episodenya, sinetron macan (yeah that's how I call it) ini menampilkan pertunjukan bela diri. Dan bela diri-nya bukan cuma adegan berantem ngelawan preman untuk menyelamatkan cewek cakep macam di FTV, tapi juga dengan sesama teman yang jago bela diri. Gue perhatiin baik-baik, ternyata memang ada beberapa aktor yang punya latar belakang atlet bela diri, makanya begitu masuk ke scene berantem kok gerakan mereka enak dilihat, beda banget sama yang nggak punya latar belakang seperti itu. Ini sih yang juga menurut gue nggak ada di sinetron lainnya. Wait, stop saying it's different, Fit, because it indeed is different without you mention -_-

Sebelum gue masuk ke pembahasan karakter favorit, gue mau menyampaikan terlebih dahulu bahwa 7 Manusia Harimau ini adalah sinetron dengan konsep cerita yang bagus dan terstruktur (karena dari novel sih ya), namun dikemas dengan buruk, dengan segala CGI pas-pasan macam elang Ind*siar dan akting beberapa pemain yang tidak total, terutama yang nggak ngomong dengan menggunakan aksen Sumatra. Hellaw, itu sinetron lokasinya di desa terpencil Sumatra, ya masa iya penduduknya ngomong bahasa Indonesia dengan aksen normal? Dan yang juga buruk adalah kostum pemainnya, dimana mereka menggunakan baju-baju modern macam anak kota. Please, ini pembuat sinetronnya nggak pada riset dulu-kah? Okelah kalo kaos dan celana emang udah sewajarnya, tapi jaket kulit? Hellaw?

Dan, bisa nggak sih, sinetron ini nggak usah stripping supaya jadinya sempurna? -_-

Nah, kita masuk ke karakter favorit gue. Seperti biasa, gue selalu malas sama karakter heroik yang baik hati dan disukai semua orang, dan gue selalu suka karakter anti-hero dan villain. Di sinetron ini kebetulan villain-nya aneh semua, buruk, aktingnya kaku, dialognya pun tidak keren, jadi gue beralih kepada karakter anti-hero berikut ini:

Pitaloka si anak macan

Awalnya gue underestimate sama cewek ini. Ah siapa lah, protagonis standar yang naksir tokoh utama. Tapi di beberapa episode belakangan ini gue suka penampilan dia kecuali pas lagi nangis lebay. Dia nampak tegas dan punya pendirian, bahkan bisa ngomong keras ke cowok yang dia suka ketika si cowok berniat menyelamatkan dia dari bahaya. Aihhh di sinetron dan FTV mana lagi gue bisa menemukan cewek sekeren ini? Lebih lagi, dia academically cerdas dan jago bela diri. Aktris yang memerankannya menurut gue menampilkan karakter ini dengan baik, terlepas dari setting wajahnya yang sebenarnya sudah wajah antagonis. 


Rajo Langit si villain insyaf

Nah kalo yang ini awalnya gue jengah sama cara bicaranya karena beda sendiri dibanding yang lainnya. Ternyata itulah logat Sumatra, dan dia satu-satunya karakter yang ngomong pake logat itu dengan total. Gue suka karakternya yang songong tapi sebenernya baik hati, terutama pas dia ngomong ke villain-nya "sudahlah, kau mengaku kalah saja" dengan muka super belagu sebelum menyerang. Ahzek. Karakter hero di sinetron lainnya mana bisa begitu, yang bisa ngaco gitu mah cuma hero-nya Marvel macem Tony Stark atau Peter Quill. Apalagi aktor yang memerankan karakter ini aslinya punya latar belakang atlet silat. Dan satu lagi yang gue suka dari karakter ini adalah dia satu-satunya karakter yang manggil tokoh utamanya dengan sebutan 'Tuan Guru'.

Sejujurnya, alasan gue menyukai sinetron ini tidak setulus itu. Sinetron ini mengandung unsur The Raid Saga dan NusantaRanger yang sangat pekat, itulah yang membuat gue suka. Bisa jadi suatu hari nanti gue akan nge-fanfic The Raid Saga lagi tapi karakternya jadi karakter sinetron ini, misalnya Alicia 'Hammer Girl' jadi Pitaloka. Bisa aja kan ._.

Terlepas dari fakta bahwa setiap adegan dan dialog dalam sinetron satu ini bikin ketawa dan patut dikatain, gue cukup merasa ini sinetron ini menandai kebangkitan sinetron lokal yang sudah terpuruk sejak 100 tahun sebelum Masehi. Tapi gue akan menarik kata-kata gue ini ketika ternyata sinetron ini dipanjang-panjangin nggak tau arah di saat seharusnya sudah bisa tamat.

Let's see.

6/25/14

Pilpres 2014: Cinta Lama dan Cinta Baru

Ya jadi sehubungan dengan pemilu pilpres yang sudah semakin dekat, walau nggak sedekat ulang tahun gue, tapi tetep mungkin lebih dekat daripada hari pertemuan gue dengan jodoh gue *hiks* gue mau ikutan mainstream bahas capres.

Kagak, gue gak bakalan black campaign maupun ngedukung salah satu dari mereka di postingan ini. Bikin jorok halaman gue aja. Lagian juga emang kalo salah satunya menang hidup gue bakalan berubah drastis, tiba2 gue jadi kaya raya dan nikah sama Hiddles gitu? Kalo bisa sih gue coblos deh capres yang menjamin itu :') /eh

Jadi gini.

Sebetulnya dua capres yang sedang berlaga ini (kok berasa film action) bisa dibilang adalah cinta lama dan cinta baru gue. EIT TUNGGU DULU ini bukannya gue punya fetish terhadap bapak-bapak seperti mereka ya, harap digarisbawahi, italic, dan bold. Tapi sebagai salah satu warga negara yang lahir dan besar di negara ini, mau nggak mau gue nggak bisa selalu indifferent toh terhadap isu-isu panas? Dan terhadap dua orang ini, kita sebut saja capres nomer satu sebagai C1 dan capres nomor dua sebagai C2, gue punya feeling.

Bowo the Asian tiger-wannabe and Joko the plaid trend-setter

Gue udah tau C1 sejak jaman kuliah. Dulu dia hits banget dengan partai politiknya, yang sampe sekarang juga masih ada tapi nggak se-hits dahulu kala, yang gue waktu itu suka banget karena punya visi-misi yang bagus dan baru. Waktu pemilu 2009, gue baca di koran tentang perbandingan visi-misi satu parpol dengan parpol lainnya, dan gue langsung jatuh cinta dengan visi-misi parpol C1 yang detil dan out of the box. Iya, gue selalu suka visi-misi yang lain daripada yang lain, anti-mainstream, tapi tetep di jalur di mana rakyat memang membutuhkannya. Sayangnya dulu parpol dimaksud nggak dapet hasil yang terlalu bagus (kayaknya, gue juga lupa), jadi si C1 ini dulu cuma jadi cawapres untuk capres yang merupakan ketua parpolnya C2.

Gue tau C2 belum lama, tapi nggak baru tau juga, ya semenjak dia jadi media darling pas jadi walikota itu lah. Gue amazed sama apa yang gue baca tentang program dan aksi C2 selama menjabat, apalagi pas gue nge-twit tentang itu ada salah satu warga sana yang reply dan ngasih tau gue bahwa itu bener (terlepas dari dia buzzer apa bukan ya, tapi dulu itu sih masih jauh dari jaman pilpres ini). Gue semakin amazed pas dia jadi gubernur di kota tempat gue numpang kerja, apalagi dia punya wakil yang kurang-lebih sama okenya. Nah pas dia nyapres ini sebetulnya gue agak nggak setuju karena dia masih anak baru lah, terlalu cepet dan semacamnya, tapi ternyata pas di acara debat capres yang sempet gue tonton kemaren dia punya visi-misi yang, meskipun agak dreamy, out of the box dan dibutuhkan negara ini. Walaupun emang penyampaiannya nggak sebagus C1 ya.

Jadi, siapa yang akan gue pilih? 

Cinta lama yang bersemi kembali atau cinta baru yang menawarkan hal-hal yang betul-betul baru?

Ah sudahlah, tulisan ini bukan bertujuan untuk menjawab pertanyaan seperti itu kok. Gue cuma mau membahas sedikit, ya anggap aja gue lagi mainstream. Dan berhubung gue pada dasarnya suka dua-duanya, akhirnya gue doodle deh mereka ._.

Don't judge me ._.

1/19/12

To: Ice Mountain

Hm. Jadi pagi ini sebenarnya saya ada pekerjaan Legal Opinion, tapi karena agak tidak mood, jadi saya menulis ini saja.

Semalam, sepulang dari berkaraoke dengan teman-teman, saya tidak langsung tidur. Saya duduk di sofa dan mem-browse beberapa social media. Tapi karena pergerakan social media di malam hari lambat, mengingat pada umumnya orang2 beranjak tidur sebelum jam 12 malam, sedangkan browsing saya lakukan setelah jam 12 malam, maka saya gunakan sela-sela waktu untuk menulis. 

Lalu, saya mencoba membuat puisi balasan terhadap Letter to The Sun. Kembali saya memposisikan diri saya sebagai orang yang berjuang untuk mendapatkan sesuatu, atau seseorang. Saya tidak terlalu ingat jelas isi Letter to The Sun, tapi setidaknya beberapa bagian yang saya ingat cukup membantu saya menyusun kalimat sehingga tidak melenceng jauh sebagai puisi dengan konsep 'balasan'.

 
Sayangnya, meski puisi ini mengandung beberapa kata dan frasa yang menurut saya orisinil, saya tidak terlalu menyukainya. Ada ketidakpuasan dan sesuatu yang hilang, yang sepertinya belum saya sampaikan, tapi saya tidak tahu apa itu. Jadi saya pikir ya sudahlah, saya post saja puisi itu di sini dengan judul Dear Ice Mountain.

Kamu suka? Tidak suka? 

Dear ice mountain
I am the sun
My task is to shine
Be the one you depend on

I am strong and bright
My light is valid
I sparkle through every space
Giving hope to the darkness

Even your hard winter
Can never stand on my way

I see through your icy wall
That weak heart of yours
My love shines brightest
Through that solid rock
Please, ice mountain
Trap and freeze me into you
Lock my ray inside you
Until you perfectly melt

I know you are afraid
Of being liquid and get hurt
I tell you that it's no need
'Cause you really need a start

You will turn into water
You will lose all your snow
While you'll still be beautiful
Not even less than before

No, you're not wrong at all
I definitely love you

Release all your fears
Set yourself free
If you don't know love
I will teach, just ask me
Believe me, you need me
Throw all your shields away
This time, love me
And make yourself an ocean

1/17/12

Surat Kepada Mentari

Mari kita berbahasa Indonesia.

Jadi kemarin sore di perjalanan pulang dari kantor ke rumah, saya mencoba berpuisi. Idenya sebenarnya sudah ada sejak di kantor, tapi baru saya realisasikan di dalam mobil omprengan karena saya ada pekerjaan Duplik yang terbengkalai karena saya sibuk bermain dengan theme blog di pagi dan siang hari.

Kali ini saya mencoba menulis dari sudut pandang berbeda. Bila kemarin saya berpuisi tentang meraih sesuatu atau seseorang, berusaha, bekerja keras, dan pantang menyerah demi mendapatkannya, kali ini sebaliknya. 

Saya mencoba menulis dari sudut pandang sesuatu atau seseorang yang ingin diraih, dimana sesuatu atau seseorang ini tergolong sangat sulit didapatkan. Mengapa sulit? Ternyata alasannya ada pada sesuatu atau seseorang ini sendiri, yang tidak ingin menyerahkan dirinya kepada siapapun. Namun ketika seseorang berusaha meraihnya dengan segala daya dan upaya, sesuatu atau seseorang ini tergerak. Tetapi sifat dasar dan masalah yang dihadapi sesuatu atau seseorang ini pada akhirnya membuat sesuatu atau seseorang ini tidak bisa meminta atau menyerahkan diri untuk dimiliki oleh seseorang yang berusaha demi dirinya itu.


Eh...kok nggak enak sih? Jadi muter2 gini penjelasan gue kalo pake bahasa yang baik dan benar. Shit lah...skip aja yes yang di atas. Kita langsung aja ke pokok pembahasan yaitu puisi. Judulnya sendiri adalah Letter to The Sun, atau seperti judul postingan ini, Surat Kepada Mentari. Gue pribadi kaget ternyata bisa menulis dari sudut pandang sesuatu atau seseorang yang diperjuangkan, mengingat yes gue adalah orang yang biasa berjuang. 

Jadi, kamu suka? Atau benci? Ditunggu komentarnya yes Kakak...

Dear sunshine
I am an ice mountain
I only knew cold and frozen
Until in mƐ yőυ shine on

Yőυ light мγ morning up
With a warm sincerity
Even moon reflects yőυ at night
To keep away the darkness

What makes yőυ stand still
Through the winter?

Yőυ throw away мγ loneliness
Pull mƐ out from a distance
I come to turn into water
I start to remember how it hurts
But, sunshine
Tell mƐ why this feels so right
While I'm still afraid to melt
From solid into liquid

Yőυ taught mƐ how to laugh
Introduced mƐ to the spring
Told mƐ how beautiful I am
Saw мγ weakness through мγ wall

I replied yoυя ray with snow
Treated yőυ with no gratitude
But when yőυ seem to want to go
I unconsciously mind мγ attitude

Is it just mƐ
Or do yőυ really Ľovε mƐ?

I don't want black in мγ sky
But what am I to do?
I wish yőυ stay forever
But how should I ask yőυ?
I know nothing of affection
So please don't leave mƐ alone
Teach mƐ about it forever
Until I'm gone, be an ocean 

Oh iya puisinya emang tetap berbahasa linggis, meski pengantarnya berbahasa endonesa.

9/21/11

Simple is Beautiful

Lately I feel so hard to find good local songs. Well seriously their themes are only around broken hearts, uneasy feelings, and wanting to die. What can be taught to people, especially children, with such kind of lyrics?

I really miss old local songs, when musicians wrote about beautiful love, sweet life, admiration to adorable people, to lovers, and such things, with beautiful words like poems.


But beautiful words like poems don't seem to be the nowadays trend. Musicians now are more into simple words, straight to the point. Well I can't say it's a bad thing too, because people do change, they like things said straight to the point more. Besides, simple words can still be beautiful depends on the content of the lyrics and how the music goes.

So, I surprisingly found two local songs with simple lyrics but still cute, still beautiful, and still teaching good things.




this video above is Yang Kunanti performed by the handsome singer Ello. He , with his beautiful voice, sings (and composed, maybe?) a song about finding a perfect person after getting hurt so many times. The perfect person who completes him and makes him believe in love again. Such a simple beautiful lyrics in beautiful cheerful music. This song teaches positive things to people, especially to broken-hearted ones, not to stop believing in love. Not to stop knowing that there's somebody out there destined to each of us.






the video above is not a video, because the song hasn't been a clip video. it's titled Pertanda Cinta performed by Vierra, a group motored by an amazing sweet pianist Kevin Aprilio. the song itself is about falling in love (with a boy, because the vocalist is a girl) and she wants him to notice her signs of love. She wants him to do this and that because she falls in love with him and wants to be with him, but all she can do is just giving signs. Cute one, and positive too, so cheering and full of youth love. The simple lyrics match the cheerful music, and this teaches something about showing love to the opposites we have crush on.


So, simple lyrics can still be beautiful, equal as the poetic lyrics. But it depends on the content of the lyrics. I hope there would be more and more Indonesian musicians who will compose positive songs like songs I talked about above :)

5/30/11

I am Ashamed to be Useless (and Dammit, It's Not Overrated)!

To be honest, I was jobless for so long. Seriously, so long.


I was graduated in the middle of 2008. Even before the ceremony started, I have applied for jobs to some companies and law firms. Some called me for interviews and test, but I only passed some. Some that didn't give me appropriate salary. And when I said it was inappropriate, it really was. I mean it was under Regional Minimum Wage in Jakarta. WTH? I'm a bachelor degree, and I got bachelor of law after my name, how did they do that to me?

That kind of things happened over and over again. If I were not accepted, I was accepted with inappropriate salary. I was jobless for almost 6 months, while all my friends have been accepted and worked. I was ashamed, I didn't even want to attend events where all my friends were invited. I felt like I couldn't face them if I haven't got a job, even though they wouldn't matter with that.

I once told my friend, honestly my crush, that there were times when I wanted to commit suicide during those jobless days. But he said I was overrated. He wondered why we have to be so ashamed like that. I think he just didn't get the point. And I knew why, because he was never been in my shoes. If I'm not wrong, not long after his graduation day, he was accepted to work in a manufacturing company that belongs to Japan. Dammit! How the heck he would understand how it feels to be in MY shoes, heh? He was absolutely never there. And for more information, if I'm not wrong again, he's still working in that company until now, and I think he's got a high position there since last year he worked in Japan.

Okay, the point is I TOTALLY ENVY HIM ABOUT THAT JAPAN STUFF! Happy?

But it's not what I wanna talk about in this post. My point is 'it's very normal and human that we feel ashamed when we are useless.'

I felt totally ashamed when I was jobless. It means I was useless. I wasn't productive. I didn't work, I didn't make money, I didn't apply all my knowledge and everything I've studied all the time, since I was kind until I graduated from university. And there's nothing good with being useless. It wasn't good at all, in my case. I didn't make money when I should, so my parents didn't easily give me money if I didn't give good reason or I didn't need it so badly. Life was hard for me. I thank God that I still have place to home, to sleep, to eat. Imagine if I didn't? I would sleep by the corner of the street, eat from dust cans, and beg people for money. I had no savings at all, because how did I save? How did I got the money to save? I was just a newly graduate!

I couldn't face my friends. I only met them who haven't graduated, not them who had found jobs. I once thought that there was no use that I went to university, because I have friends who still got jobs even though they are just high-school graduates. I wanted to commit suicide. I was thinking about the best ways that won't hurt me and straight kill me, from cutting arm until jumping off the roof. I was ashamed when I met my relatives and they asked where I worked, and I became sarcastic when talking about it to them. I was a total bitch. I became a total bitch because I was ashamed of being useless.

And I wonder why people don't get that feeling. I know no one in this world was born to be useless except he/she makes him/herself so, but everyone must find moments when he/she was useless. When others around him/her have been more advanced, and he/she is still standing on the same place from before. When others around him/her have been able to do something for people, while he/she is only sitting in his/her house, doing nothing.

Okay, maybe not everyone would act 'overrated' like me. But...being jobless while the others got jobs? Come on, it's shameful. Although things like that is usually about time, still we must feel ashamed of being jobless, useless. And I thinks it's very normal and human. It's not overrated. People who said it's overrated must be very Indonesia. Sorry, I don't mean to diss this country and its people, but seriously it's like that.

I once heard a story that in developed countries, no one is homeless. The government afford them, although it was just for daily needs. I mean it was just enough for food and clothes, those poor people can't do shopping and pay for entertainment like rich people. It's not so bad, at least they have place to home, to sleep, to eat, and are not naked. but then, do they accept everything and enjoy it? NO.

They look for jobs. They're ashamed of being feed by government, and they must not feel enough only by a place to home, to eat, etc. They have PRIDE. They know they can't just stay lazy, do nothing, and take everything from the government. They work until the government knows they can afford themselves. Oh my God, they just have PRIDE. And it's the high one. Their damn pride is just fuckin' high.

Compared to Indonesian people, what would they do if the government afford their lives? Of course, they would take it happily and never thought to look for job so that the government would afford them until they die. I just learn from what I see, like when the district government gave nine main materials (sembako), the people didn't stay calmly in queue. They just break it just to get the free sembako, so that some people are usually killed in such moments. And do they give a damn to the died people? I am never sure about that, since their purpose is just the free sembako, and they got it successfully.

Please, people, have a high pride! Be ashamed when you're useless! There's nothing wrong with having high pride and feeling ashamed when you're useless, it's not overrated at all. It's normal, it's very human. Please stop depending on other people, just try to stand on your own two feet! Don't sweat the small stuff, just do the best to be not useless anymore. And I think that's what people in developed countries do, so that their countries can be so damn developed.

I'm bored that Indonesia is only a developing country. Since I was kid, since I was studying about this country in elementary school, Indonesia has always been a developING country, until now. It has never been developED. And I'm BO to the RED, since my age will be a quarter of a century by next month.

2/21/11

Indonesia Can Make It

Have you ever noticed Indonesia by comparing it to other countries?

I have. And here is my analysis.

I am so very sad to see Indonesia's TV load. Look at those miserable dumb TV series and reality shows. And don't forget the talent contest that annoy us. Why can't people in TV make better programs? Don't they have better ideas?

I believe we, Indonesian people, are creative and talented. We still have great ideas in art, technology, and other majors. I believe we all can be great inventors and artists. But where are we, who have such hidden talents?

If they who have real talent are hired by TV to make good programs, I think it's no more impossible that TV Series in Indonesia are no more crappy like Cinta Fitri, Putri yang Tertukar, or worse, Supergirl. I believe we'll have great TV series like Hollywood's How I Met Your Mother or Parenthood, like Korea's Full House or Princess Hours, like Japan's Yamada Taro Monogatari, like else.

So why don't you, TV people, watch and learn from those foreign series?

I feel so pitiful to see Indonesian musician/singer/whatever it's called nowadays. They are so LACK of VOCAL quality. That's why they keep on doing lipsync when performing on live music programs. So pitiful, they can't sing, even compose lame songs, but they record albums. They RECORD albums, OMG.

Where are they, singers from talent contests who have awesome, amazing vocals? Why don't they record albums? They even deserve stage a lot more than trashy 'musicians' who can only do lipsync with their lame songs.

I believe Indonesian music will go international if we record albums only from qualified singers. They won't put us in shame if their songs are in chart outside Indonesia. They won't embarrass us when they perform live because they have amazing vocal and won't do lipsync. I do believe.

And, did you notice Japan's Sanrio or Hollywood's Disney? They have OMG ASDGFJSKA superb brilliantly amazing CUTE CUTE characters!!! And what do they do with that? They make the TV films, movies, and sell the cute cute merchandises. I keep envying them who have created such amazing things. So many characters with different shapes and names, and different stories.

Can't Indonesia make it? I believe we can. We have so many amazing illustrators and cartoonist. We have so many people who can create characters. We have a lot of creative people.

I don't make fun with this, seriously. When I went to design school, before I was accepted in law school, I was shown the seniors' works and I was like o_O. They created characters, cartoons, and the pictures were moving. I was o_O and :O when watching them moving and thought design wasn't my place because I won't let myself pushed to create such amazing moving pictures. I mean it's not my passion. But I will never forget that o_O experience, that made me believe how Indonesia have big assets: the talented people.

So why don't this country explore its people's talent? Why don't they search people with pure talent, not them with half talent? Why can't producers pay high for good creations, not trash? Why can't this country help paying these talented people's needs and on the contrary they will give their best creations to this country?

I don't understand why producers, or whatever it's called, want to pay so high for trash. For anything that's not artistic at all. But I somehow hope there are still some sane people who will realize, soon, that this condition is terrible. I hope they can turn everything bad into good. From trash into something precious. And if they need my support, I will try my best to give them. Ah but, right now, maybe not financially. LOL

Do you believe we can make it?

I believe.