Showing posts with label cubicle. Show all posts
Showing posts with label cubicle. Show all posts

4/5/13

Rekan Semeja


-Pukul 13.30 waktu kantor-

Ya, kantorku seperti punya zona waktu sendiri, yang sepertinya melenceng dari Waktu Indonesia bagian Barat. Membosankan.

Kumundurkan kursiku menjauh dari keyboard komputer, lalu kuhela napas. Aku muak mengerjakan dokumen sidang yang entah kapan akan selesai ini. Sidangnya, bukan dokumennya.

Kukerlingkan mata ke arah serong kiri, ke sudut kubikel. Kamu masih juga duduk di sana, di hadapan komputer, mengetik dokumen yang bukan urusanku, associate di bagian litigasi. Kamu yang datang ke hadapanku saat aku tidak sendiri. Dan kini, saat aku kembali sendiri namun belum sepenuhnya move on, tiap kali melihatmu aku merasa bodoh bila tidak move on juga.

Aku tersenyum geli. Otakku sudah rusak. Usiamu lebih muda empat tahun dariku. Aku sudah harus menikah, tidak seharusnya aku menargetkanmu. Seumur hidupku, seluruh mantan kekasihku pun lebih tua dariku, termasuk yang terakhir. Tapi kamu pintar, lebih dari pria manapun yang pernah kukenal, bahkan yang lebih tua. Pikiranmu terbuka, jiwamu bebas. Kamu tidak akan menghakimi orang selain karena perbuatannya. 

Mana bisa aku tidak jatuh cinta padamu? 

Kutinggalkan kubikelku, aku menuju ruang komputer yang khusus tersambung internet. Ya, sudah kubilang kantorku gila, komputer kami tidak tersambung internet. Aku mengobrol dengan teman-temanku yang juga sedang berkumpul di sana. Lagi-lagi aku menghela napas.

Aku berencana meninggalkan kantor ini pada akhir Januari. Kantor lain sudah menungguku di awal Februari. Tapi bagaimanapun gilanya, aku menyukai teman-temanku di sini. 

Aku juga belum berhasil mendapatkanmu. Setidaknya memastikan perasaanmu padaku.

Kutengok ruang kerja. Holy shit, si managing partner masuk ke ruang kerja kami. Dia tampak mondar-mandir melakukan entah apa di sana, membuatku dan teman-temanku tidak ingin kembali ke ruang kerja. Tapi aku tahu tidak mungkin terus-menerus di sana, lagipula aku penasaran kenapa dia mondar-mandir di sekitar kubikelku tadi. Kulangkahkan kakiku melintasi kubikel demi kubikel.

'Hey...' 

Mendengar suaramu, aku menoleh. Kamu tersenyum canggung.

'Ya?' tanyaku sambil tersenyum. Kamu, dengan senyummu yang canggung, menggerakkan kepalamu seolah ingin menunjukkan sesuatu kepadaku. Aku mengernyit, menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Kamu dengan senyum canggungmu tetap mengarahkan kepalamu ke tempat yang sama. Kulihat diriku sendiri. Tidak ada yang aneh dengan pakaianku.

'Eh, elo pindah ke mana?'

Kudengar suara beberapa temanku saling menanyakan pertanyaan itu. Lalu kulihat managing partner masih sibuk menempelkan sesuatu pada kubikel kami. Aku terkesiap. Kudekati mejamu perlahan, kulihat sisi kubikel tempat inisial nama karyawan ditempelkan.

'Oh!' pekikku. Ada namaku di sana. Di sebelah namamu.

Aku menjadi teman sekubikelmu. Teman semejamu. Deskmate. 

Aku yang selama ini bekerja jauh darimu, hanya bisa memandangimu dari sela-sela komputer teman semejaku, akhirnya datang ke sisimu. Kulirik wajahmu, dan kamu masih tetap dengan senyummu yang canggung. Lalu aku kembali ke kubikelku, duduk. Terbayang di depanku hari-hari kerja yang akan menjadi jauh lebih menyenangkan di kantor gila ini.

-Pukul 14.00 waktu kantor-
 
Andai pengunduran diriku belum kuputuskan...

p.s: Dari kisah nyata pengalaman pribadi tanggal 26 Desember 2012 yang ditulis dalam rangka suatu trimester.


Postingan ini belum selesai. Jangan panggil aku Fitria kalau puas hanya dengan cerita dan gambar. Aku juga sudah menyiapkan puisi dari kejadian yang sama. Tadinya ada dua puisi, satu berjudul Desk & Mate yang kutulis kalau tidak salah di hari kejadian atau sehari setelah kejadian, aku lupa. Satunya lagi baru kutulis, judulnya Suddenly Deskmate. Untuk postingan ini kupilih yang terbaru karena lebih menggambarkan kondisi pada cerita di atas. 

I saw the wicked boss entered main room
I moved away, running from her sight

Bored, thinking of my last months in gloom
While most of my friends were on my side

Time was up, I walked to my chair
As you called my name, I nervously fixed my hair

You said your 'hey' and nodded awkwardly
I had no idea, turned my head anywhere around
As wicked boss sticked something carefully
I moved to your desk, made an 'oh' sound

So we were pronounced as mates of a desk
As you picked me up in the locker next day
Side by side we both lost questions to ask
As time slowly tangled us into the right way

A fateful day turned my days better
I came to work like it did not matter
 

The typed keyboard blended with heartbeat
Was all I heard since we were suddenly deskmates
Your smiling eyes just turned up the heat
As if the air cooked raw meat in my plates

I doubted myself to resign much earlier
While hoping for office hour to be forever 

9/9/12

Nervous

Jarum detik di jam dinding, yang berjarak tiga kubikel dari meja tempatku saat ini duduk, kini terdengar lebih jelas. Seolah sealun dengan bunyi keyboard yang kuketik untuk mengerjakan terjemahan laporan yang kamu buat. 

Mengapa?

Aku belum lama berada di sini. Aku juga belum mengenalmu lebih jauh dari rekan satu tim. Frekuensi berbicara denganmu mungkin bisa kuhitung dengan jari. Tapi kamu yang saat ini duduk di sampingku sambil sibuk dengan BlackBerry di tanganmu, menungguku menyelesaikan terjemahanku, membuat pusing kepalaku dan memacu laju debar jantungku.

Hanya dengan duduk di sampingku. Ya, hanya itu. Duduk di sampingku, menunggu terjemahanku, seolah menemaniku.


Kepalaku terasa berputar. Tuhan...apa bahasa Inggris 'gugatan'? Astaga, sudah berjuta kali aku menerjemahkan dokumen-dokumen dengan kata 'gugatan' di dalamnya, bagaimana mungkin aku melupakannya? 

'Oh, ya, 'LAWSUIT'!'

Segera kembali kuketik kata itu, kutimbulkan lagi suara keyboard yang berbunyi cepat. Dan kamu masih juga sibuk dengan BlackBerry-mu. Semoga kamu tidak menyadari kebodohanku barusan, yang terjadi gara-gara kamu ada di sini. 

'Duh, kenapa kamu harus ada di sini? Bukankah nanti pasti akan kuberi tahu bila sudah selesai?'

Tapi mana bisa aku mengusirmu dengan kata-kata itu. Dudukmu nampak nyaman, apalagi dengan ponsel pintar yang sejak tadi sibuk kamu mainkan itu. Ditambah lagi...yah, aku memang tidak ingin kamu ke mana-mana.

Bodoh memang. Kurasa aku bertepuk sebelah tangan lagi. Biarlah, setidaknya waktu yang singkat ini terasa cukup menyenangkan. 

Akhirnya kuselesaikan terjemahanku. Kuberitahu kamu, lalu kamu beranjak dari meja untuk mengambil buku yang berisi daftar nomor surat. Aku menghela nafas. Akhirnya debar di jantungku berhenti berlarian cepat. Gila. Bagaimana bisa seorang kamu, yang belum lama kukenal, bahkan jarang mengobrol denganku, membuat otak dan hatiku jungkir balik seperti orang bodoh?

Kamu kembali dengan dua buah buku, duduk lagi di sampingku. Kualihkan pandanganku kembali ke monitor agar tak menatapmu, karena debar jantungku sedang bersiap untuk berlari cepat lagi. 

"Lho, kok gue ambil buku supir, sih?"

Pertanyaan yang kamu ajukan kepada dirimu sendiri dengan nada kaget bercampur bingung itu membuatku menoleh kaget.

"Hah?"

Hanya itu yang sempat kukatakan sebelum kamu beranjak lagi untuk mengambil buku yang benar. Aku terkikik geli. Rupanya kamu salah mengambil buku, malah buku daftar pemakaian supir kantor yang kamu bawa tadi. Senyum puas perlahan terukir di wajahku selagi kamu pergi.

Sepertinya yang gugup bukan hanya aku.

8/25/12

Kubikel

Pernah jatuh cinta pada rekan kerjamu? Yaaa lebih spesifiknya: teman sekantormu?

Bila kamu bekerja pada kantor yang cukup besar yang di dalamnya terdapat banyak lawan jenis berbentuk rekan kerja, kemungkinan ini tidak kecil. Terlebih bila peraturan perusahaan tidak melarang adanya hubungan asmara antara para karyawannya.

Sebentar, jangankan kantor besar. Dulu saya pernah bekerja di kantor yang sangat kecil dengan jumlah karyawan tidak lebih dari tujuh orang, dan saya ternyata bisa jatuh cinta dengan salah satunya. Dengan mengesampingkan fakta bahwa memang si karyawan ini tipe kesukaan saya dan single. Intinya, memang percintaan di dunia perkantoran tidak menuntut kantor besar atau kecil. Itu terjadi begitu saja.

Ah, yaaah cinta memang selalu terjadi begitu saja. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada notifikasi, warning, atau peringatan, apalagi somasi pertama dan kedua. 

Jangankan peringatan, seringkali objeknya pun tidak terduga. 

Kembali ke cerita saya di atas, cerita cinta saya di kantor kecil itu tidak berakhir indah. Saya malah bertengkar habis-habisan dengan si karyawan yang saya taksir itu, karena saya jengkel dengan sifatnya. Berbekal pengalaman itu, saya bertekad untuk sebisa mungkin menghindari percintaan di kantor. Karena saya yakin, seprofesional apapun saya berusaha, pada akhirnya hubungan emosional itu akan mempengaruhi kinerja saya (dan mungkin dia).

Tekad itu yang saya bawa ketika saya bekerja di kantor baru yang kebetulan besar, dengan jumlah karyawan hampir 30 orang, dan tidak melarang hubungan asmara antar karyawan. Saya pada awalnya bahkan kaget karena ada beberapa pasangan yang sampai menikah. Dengan kondisi seperti itu, saya yang saat itu berstatus single dan berada dalam kondisi 'digantung' oleh seorang teman pria yang saya taksir, hanya bisa pasrah pada kemungkinan saya akan jatuh cinta pada satu atau lebih rekan kerja pria saya.

Saya membidik beberapa rekan kerja pria yang potensial untuk saya sukai, mulai dari segi wajah, kepandaian, postur tubuh, dan cara mereka memperlakukan wanita. Saya adalah satu-satunya wanita yang ditempatkan di divisi saya, sisanya pria. Dan akhirnya, seingat saya, tidak perlu memakan waktu sampai satu bulan, saya menetapkan target pada salah seorang rekan kerja pria yang duduk di kubikel seberang kiri saya, yang sama sekali bukan salah satu dari pria-pria yang saya duga. 

Mungkin 'menetapkan target' adalah istilah yang kurang tepat juga, karena saya hanya secara alami mulai mengamatinya.

Dan itu menyenangkan. Menyukai rekan kerja ternyata adalah salah satu motivasi untuk saya, untuk kita, datang ke kantor ketika sedang tidak ada hal lain yang menjadi motivasi.

Saya terinspirasi dari kondisi 'menyukai rekan kerja' ini untuk menulis puisi baru. Ada cerita lucu di balik penulisan puisi ini. Awalnya, karena sedang mengobrol dengan sahabat saya di BlackBerry Messenger, saya coba menulisnya di notepad iPod saya. Tapi entah kenapa baru dua baris pertama saya merasa mual sendiri membaca apa yang saya tulis, akhirnya saya putuskan untuk menulis di notepad BlackBerry saya. Dan ternyata saya jauh lebih puas. Entah kenapa menulis puisi di notepad BlackBerry jauh lebih bisa memuaskan saya dibanding di media manapun. Aneh.

Jadi inilah puisinya. Karena lokasinya adalah kantor, saya sejak awal memang ingin memberinya judul 'Cubicle'. Dan entah kenapa jadinya malah konyol, padahal awalnya saya ingin menulis yang lucu dan manis. LOL.

Why does the clock still show 10AM in morning?
As a word pops up in my mind: boring!
How long I should do this thing called typing
While all I want to do is only screaming?

So I look to the left, turn my head around
Damn, why is it you again to be found?
All those pieces of cuteness I can't compound
Bury me in this cubicle, not the ground

Okay, now you're looking back at me
Catching myself drowning in stupidity
Fine, get that printer machine and stay busy
So I can pass you by, pretending to get coffee

Oh, no, the boss wants to get my copy
I go back to my desk, being busy suddenly
Wait, why do you come and now help me
Like I didn't know your indifference clearly?

And here we are now, trapped in a meeting
The hell with else, at you my eyes are glancing
Your voice is the only thing I'm listening
All those concepts, strategies you're explaining

I get my coffee to be brought to my desk
You come to this pantry, now where's my mask?
As you have your tea, I list questions to ask
Seeing your crooked smile, I wish were my task

Cubicle again, hello, I'm back
Typing again, yes, on the screen of this Mac
Now I know that this boredom I can crack
As I feel your sight at me behind my back

Oh ya, karena saya ada waktu, kemarin saya sempat streaming beberapa video klip di YouTube dan menemukan lagu original Alex Goot ini. Sesuai dengan pembahasan mengenai jatuh cinta pada teman sekantor, sepertinya video klip ini mewakili.