Jarum detik di jam dinding, yang berjarak tiga kubikel dari meja tempatku saat ini duduk, kini terdengar lebih jelas. Seolah sealun dengan bunyi keyboard yang kuketik untuk mengerjakan terjemahan laporan yang kamu buat.
Mengapa?
Aku belum lama berada di sini. Aku juga belum mengenalmu lebih jauh dari rekan satu tim. Frekuensi berbicara denganmu mungkin bisa kuhitung dengan jari. Tapi kamu yang saat ini duduk di sampingku sambil sibuk dengan BlackBerry di tanganmu, menungguku menyelesaikan terjemahanku, membuat pusing kepalaku dan memacu laju debar jantungku.
Hanya dengan duduk di sampingku. Ya, hanya itu. Duduk di sampingku, menunggu terjemahanku, seolah menemaniku.
Kepalaku terasa berputar. Tuhan...apa bahasa Inggris 'gugatan'? Astaga, sudah berjuta kali aku menerjemahkan dokumen-dokumen dengan kata 'gugatan' di dalamnya, bagaimana mungkin aku melupakannya?
'Oh, ya, 'LAWSUIT'!'
Segera kembali kuketik kata itu, kutimbulkan lagi suara keyboard yang berbunyi cepat. Dan kamu masih juga sibuk dengan BlackBerry-mu. Semoga kamu tidak menyadari kebodohanku barusan, yang terjadi gara-gara kamu ada di sini.
'Duh, kenapa kamu harus ada di sini? Bukankah nanti pasti akan kuberi tahu bila sudah selesai?'
Tapi mana bisa aku mengusirmu dengan kata-kata itu. Dudukmu nampak nyaman, apalagi dengan ponsel pintar yang sejak tadi sibuk kamu mainkan itu. Ditambah lagi...yah, aku memang tidak ingin kamu ke mana-mana.
Bodoh memang. Kurasa aku bertepuk sebelah tangan lagi. Biarlah, setidaknya waktu yang singkat ini terasa cukup menyenangkan.
Akhirnya kuselesaikan terjemahanku. Kuberitahu kamu, lalu kamu beranjak dari meja untuk mengambil buku yang berisi daftar nomor surat. Aku menghela nafas. Akhirnya debar di jantungku berhenti berlarian cepat. Gila. Bagaimana bisa seorang kamu, yang belum lama kukenal, bahkan jarang mengobrol denganku, membuat otak dan hatiku jungkir balik seperti orang bodoh?
Kamu kembali dengan dua buah buku, duduk lagi di sampingku. Kualihkan pandanganku kembali ke monitor agar tak menatapmu, karena debar jantungku sedang bersiap untuk berlari cepat lagi.
"Lho, kok gue ambil buku supir, sih?"
Pertanyaan yang kamu ajukan kepada dirimu sendiri dengan nada kaget bercampur bingung itu membuatku menoleh kaget.
"Hah?"
Hanya itu yang sempat kukatakan sebelum kamu beranjak lagi untuk mengambil buku yang benar. Aku terkikik geli. Rupanya kamu salah mengambil buku, malah buku daftar pemakaian supir kantor yang kamu bawa tadi. Senyum puas perlahan terukir di wajahku selagi kamu pergi.
Sepertinya yang gugup bukan hanya aku.

mata ini melirik perlahan isi postingan ini meninggalkan kerjaan yg menumpuk di atas meja... kubaca huruf demi huruf... co cwiiiiit dah.... [cat4] *emot kucing cekikikan*
ReplyDelete-anonim-
Heeeh (lmao) ini mesti plurker juga nih...makasih udah komeng yaa (cozy)
ReplyDelete