8/25/12

Kubikel

Pernah jatuh cinta pada rekan kerjamu? Yaaa lebih spesifiknya: teman sekantormu?

Bila kamu bekerja pada kantor yang cukup besar yang di dalamnya terdapat banyak lawan jenis berbentuk rekan kerja, kemungkinan ini tidak kecil. Terlebih bila peraturan perusahaan tidak melarang adanya hubungan asmara antara para karyawannya.

Sebentar, jangankan kantor besar. Dulu saya pernah bekerja di kantor yang sangat kecil dengan jumlah karyawan tidak lebih dari tujuh orang, dan saya ternyata bisa jatuh cinta dengan salah satunya. Dengan mengesampingkan fakta bahwa memang si karyawan ini tipe kesukaan saya dan single. Intinya, memang percintaan di dunia perkantoran tidak menuntut kantor besar atau kecil. Itu terjadi begitu saja.

Ah, yaaah cinta memang selalu terjadi begitu saja. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada notifikasi, warning, atau peringatan, apalagi somasi pertama dan kedua. 

Jangankan peringatan, seringkali objeknya pun tidak terduga. 

Kembali ke cerita saya di atas, cerita cinta saya di kantor kecil itu tidak berakhir indah. Saya malah bertengkar habis-habisan dengan si karyawan yang saya taksir itu, karena saya jengkel dengan sifatnya. Berbekal pengalaman itu, saya bertekad untuk sebisa mungkin menghindari percintaan di kantor. Karena saya yakin, seprofesional apapun saya berusaha, pada akhirnya hubungan emosional itu akan mempengaruhi kinerja saya (dan mungkin dia).

Tekad itu yang saya bawa ketika saya bekerja di kantor baru yang kebetulan besar, dengan jumlah karyawan hampir 30 orang, dan tidak melarang hubungan asmara antar karyawan. Saya pada awalnya bahkan kaget karena ada beberapa pasangan yang sampai menikah. Dengan kondisi seperti itu, saya yang saat itu berstatus single dan berada dalam kondisi 'digantung' oleh seorang teman pria yang saya taksir, hanya bisa pasrah pada kemungkinan saya akan jatuh cinta pada satu atau lebih rekan kerja pria saya.

Saya membidik beberapa rekan kerja pria yang potensial untuk saya sukai, mulai dari segi wajah, kepandaian, postur tubuh, dan cara mereka memperlakukan wanita. Saya adalah satu-satunya wanita yang ditempatkan di divisi saya, sisanya pria. Dan akhirnya, seingat saya, tidak perlu memakan waktu sampai satu bulan, saya menetapkan target pada salah seorang rekan kerja pria yang duduk di kubikel seberang kiri saya, yang sama sekali bukan salah satu dari pria-pria yang saya duga. 

Mungkin 'menetapkan target' adalah istilah yang kurang tepat juga, karena saya hanya secara alami mulai mengamatinya.

Dan itu menyenangkan. Menyukai rekan kerja ternyata adalah salah satu motivasi untuk saya, untuk kita, datang ke kantor ketika sedang tidak ada hal lain yang menjadi motivasi.

Saya terinspirasi dari kondisi 'menyukai rekan kerja' ini untuk menulis puisi baru. Ada cerita lucu di balik penulisan puisi ini. Awalnya, karena sedang mengobrol dengan sahabat saya di BlackBerry Messenger, saya coba menulisnya di notepad iPod saya. Tapi entah kenapa baru dua baris pertama saya merasa mual sendiri membaca apa yang saya tulis, akhirnya saya putuskan untuk menulis di notepad BlackBerry saya. Dan ternyata saya jauh lebih puas. Entah kenapa menulis puisi di notepad BlackBerry jauh lebih bisa memuaskan saya dibanding di media manapun. Aneh.

Jadi inilah puisinya. Karena lokasinya adalah kantor, saya sejak awal memang ingin memberinya judul 'Cubicle'. Dan entah kenapa jadinya malah konyol, padahal awalnya saya ingin menulis yang lucu dan manis. LOL.

Why does the clock still show 10AM in morning?
As a word pops up in my mind: boring!
How long I should do this thing called typing
While all I want to do is only screaming?

So I look to the left, turn my head around
Damn, why is it you again to be found?
All those pieces of cuteness I can't compound
Bury me in this cubicle, not the ground

Okay, now you're looking back at me
Catching myself drowning in stupidity
Fine, get that printer machine and stay busy
So I can pass you by, pretending to get coffee

Oh, no, the boss wants to get my copy
I go back to my desk, being busy suddenly
Wait, why do you come and now help me
Like I didn't know your indifference clearly?

And here we are now, trapped in a meeting
The hell with else, at you my eyes are glancing
Your voice is the only thing I'm listening
All those concepts, strategies you're explaining

I get my coffee to be brought to my desk
You come to this pantry, now where's my mask?
As you have your tea, I list questions to ask
Seeing your crooked smile, I wish were my task

Cubicle again, hello, I'm back
Typing again, yes, on the screen of this Mac
Now I know that this boredom I can crack
As I feel your sight at me behind my back

Oh ya, karena saya ada waktu, kemarin saya sempat streaming beberapa video klip di YouTube dan menemukan lagu original Alex Goot ini. Sesuai dengan pembahasan mengenai jatuh cinta pada teman sekantor, sepertinya video klip ini mewakili.



4 comments:

  1. eh cieeeehhhh :P
    gue pernah tuh nyaris pacaran ama temen sekantor. untungnya temen2 gue ngingetin kalo dia tuh manusia buaya setengah monyet. dan ternyataaa oh memang dia penjahat kelamin XD

    eh, gue kok ga bisa yah nulis puisi. apalagi di notepad blekberi. mungkin karena gue ga bakat nulis puisi, atau karena gue ga punya blekberi juga sih yah....

    ah rumit amat hidup gue...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung lo belom sempet disepikin chib. Cowo yang dulu gue taksir di kantor lama itu juga PK, ikhh males yee PK kelaut aja sana ama cewe matre.

      Kalo puisi sih soal latihan sebenernya. Nulis apa yang dimau aja. Gue juga awalnya ga bisa mantun, tapi trus dengan ga tau malu nekad nyoba di twitter, lama2 bisa meski ancur (lol)

      Thanks for sharing neng :D

      Delete
  2. Sekantor dengan teman kerja dari lawan jenis yang masing single rupanya seru juga ya. Hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan wan, bisa buat motivasi disaat lagi demotivasi. Gue sih setengah yakin anak2 kantor gue pada saling suka karena udah demotivasi ama boss gue nan ajaib itu. Hahahah.

      Thanks for visiting :D

      Delete

Feel free to drop anything! Thank you!