12/12/13

Blame Loki Laufeyson!

 
Loki is a little shit.
 
 
Gara-gara jatuh cinta sama karakter ini, gue nggak berhenti ngegambarin dia, kakaknya, dan anggota Avengers lainnya. Tiap nyalain PC, gue nggak bisa nggak buka MS Paint lalu menggambar.
 
Ini semua gara-gara film Thor: The Dark World!
 
Nggak, gue nggak jatuh cinta sama Loki Laufeyson pas nonton film itu, kok. Gue udah jatuh cinta sejak pertama lihat dia di film Avengers. Yes, gue nge-skip nonton film Thor yang pertama gara-gara mikir "apaan sih nih film pasti nggak jelas, cuma orang gede berotot bawa-bawa palu".
 
Jadi, tanpa gue pernah melihat sisi unyu-unyu Loki di film Thor yang pertama, gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pas nonton Avengers bareng keluarga, dan gue masih ingat komentar gue setelah sekitar lima menit lihat adegan-adegan Loki: cowok ini ganteng banget ya.
 
Bitch, please. I should have said something the world does not know.
 
Lalu berhubung Loki adalah Tom Hiddleston di dunia nyata, gue pun mengeset wallpaper di home dan lock screen Macaron (it's my maroon Samsung Galaxy S3) dengan foto Tom. Gue sih agak geli-geli gimana ya tiap nonton adegan Loki dan ingat dia itu Tom, karena mereka physically berbeda sekali. Wajah Loki di film itu wajah psikopat, sedangkan wajah Tom di dunia nyata itu innocent, genuine. Make-up artist di film-film Marvel emang juara deh.
 
Lalu, kenapa gue jadi menulis tentang Loki ya?
 
Truthfully, menggambar Avengers+ (+ Loki, of course) menenangkan hati dan pikiran gue. Menggambar sesuatu yang gue sukai, hal yang manis, lucu, dan menyenangkan selalu membuat gue happy. Marah dan sedih langsung menghilang. Galau dan gelisah sirna. Ini lama-lama kata-kata gue nyerempet lirik lagu-lagu KLA deh. Susah memang move on dari konser mereka. Wait, ini bukannya lagi bahas Loki ya?
 
Gue sudah menggambar sejak usia gue sekitar 3-4 tahun. Dari mulai mencoret-coret, mewarnai, meniru gambar yang sudah ada, sampai akhirnya menemukan karakter gambar gue sendiri. Tapi jangan salah, menggambar bukan passion gue. Gue nggak bisa menjadikan kemampuan menggambar gue yang sangat pas-pasan ini sebagai mata pencaharian. Kenapa? Karena gue moody. Gue hanya akan menggambar saat sedang dapat mood, dapat ide. Makanya gue hampir selalu menolak permintaan orang untuk menggambar sesuai keinginan mereka. Karena gue moody. Hasilnya tidak akan se-memuaskan gambar yang gue buat pada saat gue mood, pada saat gue ingin.
 
Passion gue hukum. Cita-cita gue lawyer.
 
Tapi pada saat gue stress, tertekan, bosan, marah, sedih, kesal, dan merasakan semua hal negatif terhadap pekerjaan gue, menggambar-lah yang akan menyembuhkan.
 
So, after all, I would like to present some Avengers+ doodles that I favorite of all my doodles. Don't expect a tidy one. Never. I always messed everywhere.
 
 





 And that's all so far :3

12/2/13

Golongan Darah, PDKT, dan Avengers+

 
How about being a blood-type person instead of zodiac (and others) person?
 
Entah kenapa gue memilih menjadi blood-type person. Iyah, kalo lihat orang kenapa-kenapa atau gimana-gimana langsung menghubungkan dengan golongan darah, atau menjadikan itu dasar untuk menebak golongan darah mereka. Pas lihat orang ngomong cablak langsung mikir 'pasti B nih' atau pas lihat orang insecure langsung mikir 'emang A banget deh nih orang.'
 
Dan gue biasanya lebih mudah menebak golongan darah orang saat mereka PDKT. Baik itu PDKT ke gue atau ke orang lain. Jadi bagi yang belum tahu golongan darahnya apa dan males ngecek alias takut disuntik, silakan PDKT ke gue atau PDKT di dekat gue supaya bisa gue tebak. Biasanya sih tepat, karena orang yang PDKT akan melakukan hal-hal tertentu yang lebih mudah dideteksi ketimbang orang-orang yang tidak PDKT.
 
#EAAA
 
Curhat ah. Gue nulis postingan ini dalam keadaan kangen sama seorang O. Padahal baru juga minggu lalu nonton konser bareng. #EAAA banget ah.
 
Anyway, udah lama banget gue pengen doodling Avengers+ beserta prediksi golongan darah mereka masing-masing, dan akhirnya keinginan itu terwujud pada hari Minggu lalu. Masalahnya adalah terwujudnya pada hari Minggu pukul 00:00 s/d 02:30. Entah kenapa gue baru pengen ngegambar jam segitu dan akhirnya jam tidur gue jadi berantakan.
 
 
It took quite thoughtful for me to decide what are Loki's, Nat's, and Tony's blood type. Dan beban semakin berat ketika tiba saatnya menggambar Tony, karena gue bakal gagal sebagai fans Iron Man doodler kalo Tony-nya nggak ganteng atau minimal nggak tampak bandel wajahnya.
 
Meskipun gambar itu tidak rapi, gue cukup puas dengan hasilnya, dan yang paling gue suka adalah tanpa sadar gue membuat pose yang sama untuk masing-masing tipe. Baru ngeh pas lihat yang berdiri cuma grup B, sedangkan di grup A sama-sama ada mata tertutup. Group O sama-sama pegangan ke hurufnya. Kya~n...dan mereka semua manis walaupun hanya menurut gue.
 
After all, I think I will stay blood-type person. And doodling :3
 

10/23/13

How Audio?


How audio are you?



Katanya pria itu makhluk visual. Wanita itu makhluk audio. Pria menyukai hal-hal yang enak dilihat, sedangkan wanita menyukai hal-hal yang enak didengar. Itu mengapa pria menyukai wanita cantik (bagi yang straight) dan wanita menyukai pria yang pandai merayu (ya, bagi yang straight juga tentunya).

Katanya.

Benarkah? Seberapa benar?

Mungkin secara garis besar itu memang benar. Sebagaimana wanita yang merupakan makhluk audio, gue memang senang mendengar perkataan indah. Bukan dalam bentuk kata-kata puitis dan kalimat berbunga, karena bagi gue yang juga seorang penyair-wannabe itu hanya akan terdengar sebagai gombalan tidak berarti. Tidak perlu juga sampai menciptakan lagu cinta untuk gue, karena andai gue bisa memainkan alat musik, gue juga pasti sudah menciptakan lagu cinta entah berapa banyak. 

Lalu apa yang senang gue dengar?

Mungkin perkataan yang menenangkan. Mengejutkan. Disampaikan secara tidak terduga. Tidak puitis, tapi lebih kepada lugas dan mudah gue tangkap. Sebagaimana pernah gue tulis di postingan sebelumnya, gue tidak pandai membaca kode. Gue suka berburu, tapi tidak pandai membaca isyarat yang diberikan oleh buruan gue, sekalipun isyarat itu adalah untuk menangkapnya. Kurang lebih sama seperti gue senang jalan-jalan, traveling, tetapi gue tidak bisa membaca arah alias buta arah.

Yah, gue memang menyukai tantangan yang seperti itu.

Dan ternyata ada hal lain yang senang gue dengarkan selain perkataan yang menenangkan dan mengejutkan, yaitu penjelasan yang disampaikan oleh pria dengan tingkat intelektualitas tinggi. Tidak disampaikan dengan menggunakan istilah-istilah teknis suatu bidang, melainkan menggunakan kalimat dalam deskripsi yang bisa gue, atau orang awam, terima. Penjelasan yang tidak membuat gue merasa bodoh, melainkan membuat gue merasa ruang-ruang pengetahuan gue yang kosong akhirnya terisi.

Intinya, gue memang lemah dengan pria cerdas. Dengan para penangkap hati yang  kecerdasannya membuat gue ingin berlari memburu mereka.

Pria cerdas yang pandai bicara, meski bukan berarti pandai bergaul dan social butterfly, biasanya akan berinteraksi sangat baik dengan gue melalui obrolan. Dan tidak ada yang membuat gue ingin memburu seseorang lebih dari obrolan yang menyenangkan, yang membuat gue ingin dan ingin lagi melakukannya, bila perlu dalam 24/7/365. Setampan-tampannya pria, se-ideal apapun bentuk dan ukuran tubuhnya, tidak akan ada artinya jika dia tidak bisa menjaga obrolan yang menyenangkan dengan gue.

Jadi benar, gue memang makhluk audio. Makhluk audio pemburu pria cerdas yang bisa diajak mengobrol sepanjang waktu, obrolan mana tidak akan pernah membosankan karena selalu dan selalu ada bermacam topik baru yang bisa kita bicarakan.

Berangkat dari pemikiran gue tentang topik di atas, gue terinspirasi menulis puisi baru tentang penangkap hati yang gue sebutkan di atas. Here it goes.

I was about to text you 'good morning'
Yet your long messages blew it away
About BBM for Android you kept texting
Drowned in long talk as we've been this way

One month passed without we notice
We passed by, remembering all these

We were both strangers to each other
While our places have been the same forever
Who knew we turn to share every laughter
And the songs we sing have made it better?

I studied where you did, live where you do
Like peas in one pod, we are that same two
Patapoko puzzle that now you're so into
Did you play it for you know I love to?

I was afraid you'd kidnap me when we meet
Instead, your speech got my heart abducted

Your eyes stole mine when you slash Microsoft
I asked questions like kissing your sight
Line Offline locked us in our own croft
Into cakes and ale tying us tightly side by side

Clovers you sent now are not enough
Heartcaptor, in my world you're turning rough

(Heartcaptor, October 22, 2013)

8/27/13

(Akhirnya) Puisi Baru Lagi


YAHOOOO!

Tadinya gue mengira gue udah nggak bisa lagi menulis puisi. Terakhir gue buat itu sekitar awal April pasca dramatic break-up terakhir gue, itu pun semacam...yaaah, formalitas. Isinya kurang emosional.

TAPI!

Ternyata kejadian lucu di pesta pernikahan sahabat gue minggu malam kemarin malah membuat gue terinspirasi. Bukan, bukan pernikahannya yang menginspirasi, tapi siapa yang gue temui dan bagaimana kami semua berinteraksi kemarin. Yah, tidak penting untuk menyebut detil pernikahan siapa dan siapa saja yang gue temui, pokoknya seperti itulah.

Mungkin gue ingin mengutip sepatah dua patah lirik dari lagu Whitney Houston yang kebetulan baru gue ketahui pada saat mendengarkan Glee cast menyanyikannya.

I get so emotional, Baby
Everytime I think of you
I get so emotional, Baby
And it's shocking what love can do

Ya, gue akui, setiap berinteraksi dengan orang ini gue selalu merasa emosional. Entah dalam artian positif atau negatif, karena kebetulan gue sudah pernah merasakan keduanya. Tapi kali ini gue merasakan emosi positif, makanya gue bisa mengeluarkan frasa baru yang sangat gue suka hingga gue jadikan status di BBM: Last Puzzle Piece.


Berangkat dari tweet siang tadi yang tidak mencapai 140 karakter, yang juga mengandung frasa itu, gue tertarik untuk sekali lagi mencoba berpuisi. Sayangnya mungkin hasilnya tidak...sesuai. Maksudnya antara isi dan judulnya tidak sinkron. Yah, tadinya gue berencana untuk membuat kerangka tema dengan mem-breakdown kata dan kalimat apa saja yang harus muncul, tapi ternyata gue keburu malas. Keburu memegang BlackBerry dan membuka aplikasi NotePad untuk menulis puisi baru.

Last Puzzle Piece sebenarnya ingin menyampaikan bagaimana seseorang, dengan caranya yang tidak dapat diterka logika, menjadi potongan puzzle yang melengkapi sebuah gambar puzzle, dalam hal ini melengkapi hati dan hidup si subyek pertama dalam puisi. Sayangnya sepertinya gue terlalu asyik bermain pada sisi historis kedua subyek puisi, sehingga 'cara yang tidak dapat diterka logika' tersebut tidak sempat terungkap. Yah, memang gue sendiri nggak punya ide untuk mengungkapkan itu. 

Memang menyedihkan kalau punya bakat nanggung. Ah bakat apaan, ini kan hanya coretan iseng untuk mengisi waktu luang (T_T)

Ya sudah, selamat menikmati Last Puzzle Piece. Do you like it or hate it?

It has been more than one year ago
More than the day that we first met
I have not forget how you choose to go
Leaving a hole in my earth like a comet

But nothing changes since that day
We never really said hello to goodbye

I burned all the pictures of us to ashes
Hatred overwhelmed us to stab each other
While in the ocean we failed to find fishes
Inseparably we were stuck with each other

I saw you again as I caught your eyes
Every dispute disappeared in one single blink
As if you brought the last of my puzzle pieces
When you were near, you kept my ship sink

This is the moment to admit honestly
We never really moved out of you and me

Farewell to pretendings we committed
I watch you from here, acknowledging my love
Singing my lullaby loud for you to be kept
Through your heartpod, creep into your cave

With you within, my life is whole
The empty space is filled by your role

(Last Puzzle Piece - August 26th '13)

7/25/13

Jodohmu, Makanan Favoritmu


Dulu pernah ada teman yang bilang begini:

'Daerah asal makanan favoritmu bisa menjadi acuan petunjuk dari daerah mana jodohmu akan berasal'.

Yeah sure, Dude, you already married him.

Tapi mungkin bisa jadi benar. Si teman ini memberi contoh yaitu kakaknya sendiri, yang sangat suka dengan Pempek Palembang dan akhirnya menikah dengan pria Palembang. Contoh berikutnya adalah si teman sendiri, yang sangat suka dengan Bakso Malang dan akhirnya menikah dengan pria Malang.

*sebentar, gue mau ngikik dulu*

Beralaskan cerita teman gue itu, gue mencoba meyakini bahwa mungkin memang jodoh gue bisa ditelusuri dari makanan favorit. Gue sempat berpacaran dengan pria Minang, dan saat itu gue menyadari bahwa gue memang sangat menggilai Nasi Padang, dan gue memiliki kekaguman tersendiri pada detil bumbu pada kuliner asal Sumatra Barat. Saat itu gue berpikir 'oh, benar juga nih' terhadap teori teman gue, mungkin saja 'kan, si pacar waktu itu memang berjodoh dengan gue.

Tapi akhirnya toh kita putus, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda akan kembali baik dalam waktu dekat maupun waktu yang akan datang. 

Setelah itu gue berpacaran dengan pria Cirebon. Alright, Dude, you are so right, karena gue sejak kecil sangat suka dengan udang yang notabene populer dibudidayakan di Cirebon. Setelahnya gue baru mengetahui pula bahwa Empal Gentong yang membuat gue jatuh cinta pada jilatan pertama di acara pernikahan teman gue yang lain juga ternyata berasal dari Cirebon. Fix, jodoh gue pasti pacar gue.

Tapi nyatanya kita putus juga, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kita berjodoh. 

Lalu dari mana jodoh gue akan berasal?

Tentunya gue harus bisa menjawab dulu pertanyaan 'apa makanan favorit gue?'. Sayangnya sampai sekarang gue masih belum bisa menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang tegas ( T _ T )  Terlalu banyak makanan yang gue sukai. Gue suka nasi Padang, udang, telur, cokelat, sushi, pasta, pizza, sandwich, hamburger, soto, sate, gorengan, jeroan, dan masih banyak lagi makanan yang belum bisa disebutkan di sini.

( T _ T )

Sepertinya teori teman gue itu nggak bisa diterapkan untuk gue, hanya bisa untuk dia dan keluarganya. Atau mungkin bisa untuk orang yang punya hanya satu makanan favorit yang benar-benar favorit.

Ngomong-ngomong, gue suka cokelat, seperti halnya nama blog ini, chocofit, nama yang gue ambil dari karakter Sanrio, ChocoCat, kali ini dengan menggabungkan nama salah satu makanan favorit gue dengan nama panggilan gue.




Apa mungkin gue akan mendapat jodoh dari tempat di mana cokelat berasal atau diolah? Mungkin dari Belgia? Atau...dari daerah yang menganggap cokelat adalah makanan para dewa, Suku Inca? :|