Aku bukan orang yang religius. Sama sekali bukan.
Aku liberal, berpikir sesuka hatiku. Aku tidak pernah berpedoman pada nilai-nilai religi yang kuanggap tidak bertemu dengan logikaku. Aku beragama, beribadah, tetapi jauh dari apa yang disebut taat, apalagi religius. Dan kamu tahu itu.
Tapi pagi ini terjadi sesuatu yang kurang lebih berunsur religi.
Sejak sekitar tiga bulan yang lalu, aku mengisi tempat kosong untuk les mengaji di rumahku. Tadinya aku tak ikut karena malas, tapi karena memang tidak ada kerjaan di hari minggu pagi, aku setuju. Memasuki bulan ketiga, aku sampai pada surat An-Nisa. Tepat di bulan ini pula aku lagi-lagi mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan. Ya, aku terpaksa menyetujui permintaanmu untuk berteman saja, karena aku tidak sampai hati untuk memaksamu tetap berperan menjadi lebih dari temanku.
Pada saat aku memasuki surat An-Nisa, guru ngajiku mengatakan hal yang membuatku hanya bisa tersenyum miris.
"Nanti mbak baca surat ini pas menikah," katanya.
Aku tidak berkomentar selain "oh ya?" lalu tertawa kecil. Lucunya, sepertinya ucapan itu terus melekat di benakku hingga setiap hari minggu pagi saat membaca surat itu, aku tidak pernah tidak menangis. Aku tidak paham mengapa menangis, tapi kurang lebih aku pasti merasa ironis membaca surat yang harus kubaca di hari pernikahanku nanti, sedangkan seseorang baru saja menyatakan tidak bisa menjadi lebih dari temanku.
Sampai pada sesi mengaji pagi tadi, aku masih juga membaca surat An-Nisa. Lalu aku sedikit tergelitik pada saat menemukan namamu dalam surat itu. Tentu tidak kusengaja, karena aku menemukannya sambil melafalkan satu ayat yang setelahnya baru kusadari aku mengucapkan namamu. Entah apa artinya, aku tidak ingin menginterpretasikannya lalu berharap dan kecewa.
But if it's me reading the signs...
Hahaha. Tidak, tak akan kulakukan. Aku hanya ingin mengutip line dalam drama Hollywood favoritku, Silver Linings Playbook.
Tapi kuakui, aku kacau semenjak resmi hanya menjadi temanmu. Aku bisa hidup tanpamu, tapi yang kujalani seperti bukan hidup yang kupilih. Entah ini hanya post-breakup syndrome atau apa. Aku merasa seperti menjalani hidup sekedar karena hidup harus berjalan terus. Mungkin seperti lagu Anang, aku merasa separuh jiwaku pergi.
Benarkah yang kamu katakan bahwa kamu tidak jatuh cinta padaku selama ini?
Awalnya aku percaya, dan akhirnya malah mengeluarkan pengakuan bahwa akulah yang selama ini tidak mencintaimu. Tapi kemudian aku berpikir dan mengingat. Lalu aku sampai pada pemikiran bahwa selama ini yang kulihat dan kurasa adalah kamu mencintaiku. Kamu mencintaiku dan membuatku merasa bersalah setiap hari hingga satu-satunya penebusan rasa bersalah yang dapat terpikir olehku hanyalah dengan kebaikan hati.
Ya, kebaikan hati yang katamu entah kenapa tak membuatmu jatuh hati.
Tentu saja. Kebaikan hati tanpa cinta yang tulus tak akan bisa menjatuhkan hatimu.
Mungkin aku lebih mempercayai cintamu daripada acuhmu dengan mata yang melihat senyummu lebih nyata daripada engganmu, dengan telinga yang mendengar detak jantungmu lebih jelas daripada hela nafasmu, dan dengan hati yang menerima ketulusanmu lebih banyak daripada harapan yang katamu tak sanggup kamu beri. Mungkin itulah mengapa saat kamu tidak ada, hatiku seolah mati.
Aku mencintaimu. Meskipun ternyata tidak, akan kubangun cinta untukmu meski harus menghabiskan seluruh sisa hidupku. Dan aku lebih memilih untuk hidup dalam ketidakpastian bersamamu daripada tanpamu.
yang berpisah baik2 memang kadang lebih pedih terasa, tetap istiqomah, insyaallah akan ada pengganti yang terbaik ya fit.. amin.
ReplyDeleteamin :)
ReplyDelete