Bolehkah aku merindu?
Padamu yang pernah beri warna di hari-hariku.
Sebut aku labil, atau panggil saja aku dengan istilah apapun yang kamu tahu. Karena aku tidak peduli katamu. Apa yang kurasa tak dapat berubah hanya dengan hinamu. Aku rindu. Aku merindu. Aku ingin kembali pada kita di saat itu.
Tak sampai satu tahun kamu di sisiku maupun aku di sisimu. Aku datang tak jauh sebelum pergimu, satu per satu. Pedih menguasaiku. Perpisahan tak pernah menjadi momen favorit dalam hidupku. Saat aku mulai pahamimu dan kau mulai menerimaku, aku dipaksa untuk menerima bahwa kau tak putuskan untuk tetap di sisiku.
Bolehkah aku merindu?
Pada kita yang jalani hari bersama dalam waktu.
Lalu datang lagi dirimu yang baru. Dalam luka kuterima dan kucoba persembahkan cintaku. Aku tak pernah lupa senyummu. Tak sedikitpun kamu pernah kecewakanku. Rasa yang kuberi dengan keretakan hati kau terima tanpa syaratmu.
Namun kali itu giliranku. Bertahan di sana semakin mustahil bagiku. Ini bukan tentang dirimu. Bukan juga tentang rasaku padamu. Kepergian adalah satu-satunya pilihan bagiku. Dan aku tak bisa menunggu. Meski sungguh, adamu menahan langkahku. Betapa ingin aku tetap di sampingmu, lewati waktu.
Bolehkah aku merindu?
Padaku di sisimu, dan padamu di sisiku.
Karena kini kita terpisah, tak lagi satu.
Karena kini kita terurai menjadi serpihan debu.
Bolehkah aku merindu?
p.s: untuk kalian yang tak sampai setahun bersamaku di sana, menemani hari-hariku, beri mentari pada mendungku, menjadi pelangi setelah hujanku.
0 comments:
Post a Comment
Feel free to drop anything! Thank you!