Kabarnya, cewek itu suka ngasih kode. Benarkah?
Entah. Gue sendiri pernah ngasih kode ke cowok yang gue suka supaya dia jadi pacar gue. Tahun lalu, gue naksir temen sekantor yang sering chat (BBM, WhatsApp) sama gue, tapi nggak kunjung ngajak jalan. Padahal sebentar lagi kontraknya habis dan dia nggak berniat perpanjang. Berhubung gue nggak mau kehilangan kesempatan untuk dapet pacar, gue post lah di Path screenshot dari lock screen iPod gue di bawah ini:
Hasilnya? Yaaah, dia merespon dengan komen yang menyiratkan dia tau maksud gue. Lalu beberapa minggu kemudian, dia jadi pacar gue.
Tapi gimana dengan kemampuan gue sendiri dalam membaca kode?
I say, payah ( ._.)/|
Gue orang yang sangat suka menghubung-hubungkan satu hal dengan lainnya. Iya, itu sifat dasar orang berdarah AB, khususnya gue. Mungkin di beberapa aspek, sifat gue itu menolong, misalnya dalam pekerjaan gue sebagai calon alpuket. Tapi di aspek lain, sifat gue ini gengges. Contoh: dalam membaca kode yang diberikan oleh cowok. Ada satu peristiwa terjadi dengan cowok yang sama yang gue kasih kode dalam gambar di atas (sebut saja dia X). Jadi gini ceritanya:
Gue dan tim litigasi waktu itu masuk kantor di hari sabtu alias lembur. Si X adalah ketua tim kasus yang lagi kita handle, sedangkan dia nggak hadir lembur. Gue waktu itu satu-satunya cewek di tim. Temen setim gue yang lain, yang notabene cowok (sebut saja dia Y), ngirim SMS ke si X, ngasih tau supaya dateng ke kantor. X menolak, dia bilang nggak bisa. Lalu apa yang gue lakukan? Gue kirim BBM ke si X, maksa dia buat datang karena dia handle dokumen yang nggak dihandle anak2 lainnya. Hasilnya? dia datang.
Beberapa hari kemudian, gue dan Y kirim2an message di inbox Facebook. Y bilang X naksir gue karena dia nurut begitu gue yang nyuruh lembur. Gue menangkis, gue bilang 'lah nyatanya si X nggak pernah ngajak gue jalan tuh? Kalo dia suka, ya dia ajak gue nge-date dong.'
The truth is, akhirnya toh dia jadi pacar gue. Dan bener kata Y, si X emang naksir gue dan sikap 'nurut'-nya itu salah satu tanda2nya.
Lebih parah lagi, gue bukan cuma nggak bisa baca kode, tapi nggak bisa baca bahasa tubuh cowok untuk bisa tau kalo dia naksir gue apa nggak. Ada cerita tentang ini, lagi2 dengan temen sekantor yang gue taksir (sebut saja dia Q), waktu gue pergi liburan berlima dalam rangka tahun baruan. Begini ceritanya:
Gue dan anak2 mampir ke Gramedia waktu lagi nyari restoran buat makan malam. Gue waktu itu langsung ke bagian komik, kebetulan ada volume terbaru komik berseri yang gue ikutin baru terbit. Waktu gue lagi lihat2 komik, nggak ada angin nggak ada hujan si Q datang lah ke tempat gue, padahal dia bukan pembaca komik. Lalu kita jadi ngobrolin komik di situ. Oh ya, dia bukan cuma datang ke gue, tapi nempel. Jadi ke mana pun gue melangkah, dia ada. Sampai akhirnya karena grogi, gue bayar duluan dan keluar dari Gramedia, nemuin si Y.
Di situ gue curhat sama Y, gue bilang gue grogi si Q deket2 melulu. Si Y ngasih tau gue si Q udah positif naksir gue juga dan sebaiknya gue manfaatin sikap 'nempel'-nya Q buat deketin dia. Gue waktu itu masih setengah yakin, karena Q cuma ngajak gue ngobrol biasa, bukan ngobrol spesial apalagi ngajak nge-date atau berduaan.
The fact is, Q juga jadi pacar gue akhirnya. Dan bener kata Y dan temen gue yang lain, si Q emang naksir gue tapi dia nunggu gue yang aktif buat bisa jadian.
Mungkin karena akhirnya gue selalu menghubungkan kode-kode dengan fakta lapangan bahwa si cowok nggak melakukan aksi langsung yang menunjukkan dia naksir gue, hingga gue selalu sampai pada penyangkalan: cowok ini nggak pernah ngajak gue jalan atau ngajak berduaan. So, it makes every code 'mental'. Poor guys.
I'm the worst at reading codes |\(._. )
0 comments:
Post a Comment
Feel free to drop anything! Thank you!