Love is a ruthless game unless you play it good and right
Gue setuju sama penggalan lirik State of Grace-nya Taylor Swift di atas. Cinta itu kejam, tinggal tergantung attitude kita terhadapnya.
Belakangan ini entah kenapa gue lihat banyak orang yang 'bermain di dua kaki'. This is not a new term, I guess, but maybe not everyone figure it out. Jadi ini adalah kondisi di mana seseorang yang sudah berpacaran dengan satu orang mengaburkan statusnya untuk mendekati orang lain yang ia sukai.
Gue pribadi memandang ini bukan hal yang seratus persen salah, karena namanya masih pacaran artinya belum ada ikatan yang legal seperti halnya menikah. Gue juga tidak bisa menilai ini hal yang salah, ketika kedua orang yang sepakat untuk berpacaran membuat 'kesepakatan lain' untuk tidak saling mengikat satu sama lain, just in case di tengah-tengah hubungan salah satu atau keduanya akan bertemu dengan orang yang lebih baik.
Tapi, apakah gue setuju?
Jawaban gue adalah tidak.
Bagi gue, ketika gue memutuskan untuk berpacaran dengan seseorang, gue berkomitmen dengan dia dan dengan diri gue sendiri. Memang bukan secara hukum, tapi memangnya setiap komitmen harus dilakukan secara hukum? Gue berkomitmen bahwa dengan gue menjadikan dia pacar gue, gue memberi kesempatan kepada dia dan diri gue sendiri untuk berbagi apa yang tidak kita bagi dengan orang lain. Bahkan dalam kasus gue, gue berhenti memohon, katakanlah berdoa, agar dipertemukan dengan jodoh gue. Kenapa? Karena gue sedang memberi kesempatan kepada pacar gue. Siapa tau pacar gue inilah jodoh gue. Jadi redaksional permohonan/doa gue berubah sedikit, menjadi permohonan agar jalan gue bertemu jodoh dilancarkan.
Jadi, kalau gue menemukan orang yang sudah berpacaran tapi masih mendekati orang lain, ya gue cukup tau aja. Of course I'm going to lack respect, but only in relationship issue, bukan berarti gue berhenti berteman dengan orang itu.
Dan bagaimana kalau yang didekati oleh orang yang sudah berpacaran itu adalah gue?
Tiada ampun. Bahkan apabila dia dengan pacarnya sudah membuat 'kesepakatan lain' sekalipun. Jangan coba-coba sama gue sebelum dia selesaiin urusannya sama pacarnya.
Bermain di dua kaki boleh-boleh aja. Tapi tempatkan kedua pijakan di posisi yang sama. Satu pijakan aja udah berada di posisi yang lebih tinggi, itu namanya berkhianat. Jujur, gue pernah bisa dibilang melakukan permainan dua kaki ini. Tapi posisi kedua pria itu waktu itu sejajar: bukan pacar gue. Salah satu dari mereka mantan gue, dan satunya lagi semacam target baru. Si target baru ada di sekitar gue dan sering ketemu gue tapi jarang berkomunikasi via alat komunikasi, sedangkan si mantan jauh dari gue dan lebih banyak berkomunikasi via BBM. Posisi mereka sama, tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi, tidak ada yang lebih gue sukai, tidak ada yang lebih gue harapkan. Yang manapun yang nanti jadi pacar gue tergantung pada kejelasan dan ketegasan sikap mereka.
Akhirnya si target baru-lah yang jadi pacar gue karena dia lebih tegas dan jelas. Si mantan harus gue tinggalkan. See? Seperti itulah seharusnya permainan dua kaki dilakukan. Pemain harus berada dalam kondisi tidak berbohong, tidak perlu berbohong, dan tidak masalah bila berbohong. Zero area. Gue tidak berbohong, karena tidak ada yang bertanya. Gue tidak perlu berbohong, karena kondisi gue saat itu sedang sendiri sehingga gue bebas melakukan apa pun. Dan sekalipun gue berbohong, tidak boleh ada yang mempermasalahkan karena gue tidak terikat.
This is a state of grace
This is a worthwhile fight
Love is a ruthless game
Unless you play it good and right
0 comments:
Post a Comment
Feel free to drop anything! Thank you!