The ones that hurt you are the ones that needed you the most.
Kalimat itu gue baca di postingan text seorang teman di Path. Gue diem waktu baca kalimat itu. Pertama, itu mungkin benar. Kedua, itu tidak masuk di logika gue.
Gue mulai dari alasan nomor dua: tidak masuk di logika. Hello, kalo emang lo butuh kenapa lo nyakitin orang itu? Apa lo berpikir bahwa meski disakitin, orang itu akan selalu ada dan selalu memaafkan lo? Selalu kembali ke elo? Nggak, bro! Setiap manusia punya keterbatasan, dalam hal ini batas kesabaran. Akan ada saatnya mereka muak disakitin sama lo. Oke, kecuali orang tua, keluarga. Tapi dalam pertemanan, percintaan, pekerjaan, lo nggak bisa seperti itu. Lo suka, lo butuh, ya lo perlakukanlah orang sebagaimana mestinya. Nggak usah denial, buat apa denial? Apa akan membuat keadaan jadi lebih baik? Apa akan menunjukkan progress? Menunjukkan kemunduran iya.
Alasan nomor satu: itu mungkin benar. Terkadang cinta yang besar malah bisa berbalik menjadi kebencian, atau penyangkalan (denial). Jujur, gue pernah mengalami ini. Gue punya pacar yang gue cinta banget, bahkan sampai setelah putus, mungkin sampai sekarang saat gue menulis portingan ini. Apa yang gue lakukan? Denial. Berusaha mengusir cinta gue. Waktu putus, gue bertekad gue harus move on segera. Gue sampaikan itu ke seluruh dunia. Kenapa? Karena gue nggak rela punya perasaan cinta buat dia. Gue merasa cinta itu harus lenyap. Akhirnya gue punya pacar baru. Lalu apakah gue move on? Tidak.
Yang gue lakukan selama periode pacaran dengan si pacar baru adalah mem-bully si mantan dengan memamerkan pacar baru gue dan menyindir lewat quote lirik lagu. Itulah bukti gue tidak move on. Bukti gue masih cinta. Si mantan masih menginap di relung hati dan benak gue, meski sebagai obyek kebencian. Aksi-aksi kebencian gue pun sebagai bentuk penyangkalan bahwa gue masih cinta dia dan perasaan gue nggak cukup kuat ke si pacar baru.
Tapi yang gue lakukan murni penyangkalan. Bukannya gue butuh dia.
Untuk pernyataan 'butuh', gue punya contoh lain, yaitu si mantan yang gue bicarakan di atas. Dulu sempat terjadi clash antara gue dan dia pasca putus, dimana gue me-remove dia dari medsos, phonebook, dan BBM contact. Ternyata dia kebakaran jenggot lalu mengerahkan dua sahabatnya (yang juga teman2 baik gue) untuk melobi gue supaya dia balik lagi ke medsos gue, which was also kedok untuk balikan. Akhirnya gue kembalikan dia ke medsos dan hape, lalu kita berusaha menyelesaikan clash itu. Setelahnya gue coba membangun komunikasi yang baik lagi, tapi tanggapan dia nggak ada perubahan dari sebelumnya. Pernah gue ajak dia kumpul2 sama temen2, dia nggak bisa, gue bilang ya udah, eh dia marah2 seolah2 gue bete dia ga bisa. Ya kaliii -_- pernah juga kejadian gue iseng nyapa dia randomly, eh dia jawab lagi nggak mood. Nah, moment 'lagi nggak mood' itu gue jadikan titik akhir pencarian jalan balik, lalu gue pacaran dengan si pacar baru.
Ternyata selama gue pacaran dengan si pacar baru, si mantan labil ini suka nanya2in kabar gue ke temen2 gue dan sering posting2 kata2 atau lagu2 galau di Path. Aih...keliatan banget gagal move on, padahal dulu clash-nya sama gue itu karena dia deket sama cewek lain (sampai foto mesra gandeng2an tangan). AIIIH. Lalu setelah gue putus dengan si pacar baru, gue coba lah bangun komunikasi sama dia. Gak juga loh berubah. Gue tanya nomer hapenya yang notabene hilang karena gue save di BlackBerry yang dihilangin sama service center, jawabnya apa? Dia bilang gue delete nomer dia, dan dia nggak peduli sama penjelasan gue. MATIK.
I know he acts that way to deny that he still loves me. He needs me. It's obvious.
Meanwhile, I'm a fact-minded. Kalo tindakan nyata tidak mencerminkan apa yang diinginkan, ya gue akan anggap dia tidak menginginkan hal itu. So, I walk away and for the second time remove him from all social medias and BBM contact. Perlakuannya ke gue udah gue anggap melewati batas kewajaran dan gue bisa sinting kalo tetap membiarkan dia ada di dunia gue.
So, it might be true that the ones who hurt you most are the ones who need you most. But to me, that kind of statement will be statement, because what I need is action to show that I'm needed, and not anything backwards.
Ternyata selama gue pacaran dengan si pacar baru, si mantan labil ini suka nanya2in kabar gue ke temen2 gue dan sering posting2 kata2 atau lagu2 galau di Path. Aih...keliatan banget gagal move on, padahal dulu clash-nya sama gue itu karena dia deket sama cewek lain (sampai foto mesra gandeng2an tangan). AIIIH. Lalu setelah gue putus dengan si pacar baru, gue coba lah bangun komunikasi sama dia. Gak juga loh berubah. Gue tanya nomer hapenya yang notabene hilang karena gue save di BlackBerry yang dihilangin sama service center, jawabnya apa? Dia bilang gue delete nomer dia, dan dia nggak peduli sama penjelasan gue. MATIK.
I know he acts that way to deny that he still loves me. He needs me. It's obvious.
Meanwhile, I'm a fact-minded. Kalo tindakan nyata tidak mencerminkan apa yang diinginkan, ya gue akan anggap dia tidak menginginkan hal itu. So, I walk away and for the second time remove him from all social medias and BBM contact. Perlakuannya ke gue udah gue anggap melewati batas kewajaran dan gue bisa sinting kalo tetap membiarkan dia ada di dunia gue.
So, it might be true that the ones who hurt you most are the ones who need you most. But to me, that kind of statement will be statement, because what I need is action to show that I'm needed, and not anything backwards.
0 comments:
Post a Comment
Feel free to drop anything! Thank you!