"Dia menyukaimu karena kamu berbakat."
Begitulah bunyi jawaban kartu ramalan teman baikku ketika aku bertanya apakah kamu pernah menyukaiku, lalu kutarik satu lembar dari banyak kartu yang berserakan. Aku tertawa. Dua teman baikku yang lain juga tertawa.
"Wajar," kataku, "Memang begitulah aku di matanya selama ini."
Aku bertemu kamu di penghujung tahun lalu. Kesan yang kutangkap ada dua: kamu secerdas yang pernah diceritakan kepadaku, dan kamu menguasai bidang keahlianmu. Secara fisik, minus kacamata, kamu sempurna sebagai tipe pria kesukaanku. Namun di hari pertemuan itu, aku sudah jatuh cinta pada salah satu teman baikku.
Bukannya aku tidak melihatmu sama sekali, meski begitu. Bagaimana bisa? Yang mewujudkan mimpiku adalah kamu. Yah, mimpi itu. Mimpi tentang kata yang kurangkai, yang mengalur bersama nada. Tentu kamu jelas terlihat di mataku. Tidak kabur, apalagi berbayang. Sosokmu terang, nyata.
Aku mengagumi kamu. Tidak bisa tidak.
Sayangnya, saat bekerja denganku, kamu bukan si nomor satu di hati dan benakku.
Kemudian kamu memperlihatkan kepada seluruh dunia tentang ketertarikanmu pada seseorang. Ya, seseorang yang tidak kukenal, mamun aku tahu dia sama sekali tidak seperti aku. Dengan kata lain, bukan aku. Aku terdiam. Terbersit kekecewaan yang lalu berhasil kutepis.
Aku. Hanya. Penggemarmu.
Karenanya, aku tidak berhak cemburu pada seseorang itu. Ditambah lagi aku sadar aku tidak pernah jatuh cinta padamu, yang mendorongku untuk menuangkan pemikiranku tentang 'cinta yang tidak selalu dimulai dari penampilan fisik atau tipe kesukaan'. Kutulis pemikiranku, dan kusebarkan kepada publik. Entah kamu membacanya atau tidak.
Ya, saat itu aku sadar aku tidak pernah jatuh cinta padamu. Meski kamu tipe kesukaanku, meski kamu yang membantu mewujudkan mimpiku.
Tapi pagi ini aku merasa aneh. Kudengar lagu kesukaanku yang kamu ingat, lalu tiba-tiba...aku menginginkanmu. Tiba-tiba kamu masuk ke benakku. Tentu hal ini bukan yang pertama kali, mengingat aku penggemarmu, tapi tetap aku merasa aneh.
Aku tiba-tiba menyukaimu.
Dan aku kesal ramalanku mengatakan kamu melihatku hanya karena aku berbakat, yang juga tidak seberapa. Aku bukan seniman. Aku hanya pekerja biasa, yang tidak memerlukan kreatifitas. Pun perlu, bukan secara artistik. Mengapa bukan diriku saja yang kamu sukai? Mengapa kamu melihatku hanya sebagai sumber daya manusia, bukan sebagai wanita?
Sudahlah.
Salahku sendiri yang terlambat menyadari keberadaanmu.
I first met you while having my tea
You called, came, smiled at me
It happened unplanned but naturally
You took me to a world where you used to be
I once stated I never fell for you
I guess everyone noticed, including you
Kind of sure what I believed was true
Until this morning I listened to you
I am just a fangirl passing by
I have nothing for you to give a try
But a small thought of you made me fly
This time, I resist to say goodbye
Like a fool, I feel this so suddenly
A love I feel, too late for you to see
I see how I'll fight with this hopelessly
For I know we're never meant to be
You taught me how to create serenade
As I listened carefully right at your side
I remember every moment you made
Through your words, it was me that you guide
You once made my dream came true
Now that it was done, I want you too
I hear your voice, I feel hugged by you
Out of every vocal, I only sense you
Slowly I write, I open my two eyes
I drink my tea again and realize
Out of reach, still it's you I recognize
So I close my book to stop the paralyze
I am just a fangirl passing by
Just a talent you knew worth to try
After it was wrapped, you said goodbye
As I stay, wiping tears of late regret I cry
Teruntuk kalian yang sedang atau pernah jatuh cinta kepada sang idola
P.s: Suddenly Love is the title of the poem herein
0 comments:
Post a Comment
Feel free to drop anything! Thank you!