Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

12/23/16

Bukan Arifin Putra

Kuhampiri engkau meski kau jauh
Sendiri ku tempuh
Hanya 'tuk bertemu denganmu
.
Kau tak pernah tahu
Betapa hati yakin untukmu

(Intuisi - Yura)

How can there be a song which lyrics represent my own condition this perfectly? Did Yura read my Plurk timeline or what?

LOL.

Di postingan gue yang ini, gue pernah nulis soal gue naksir cowok gara-gara The Raid.  Dia suka karakter Uco-nya Arifin Putra, sebagaimana halnya gue yang sampe saat ini masih belum bisa memikirkan ide fanfiction selain The Raid khususnya kisah Uco. Dan dia waktu itu doodling gambar Uco yang menurut gue wow banget, secara biasanya cowok-cowok yang nonton The Raid kalo nggak cuma peduli sama action-nya ya fokusnya memuja Rama, si Iko Uwais cinta sejatinya Uco yang emang master silat.

Sepertinya waktu nulis postingan yang lama itu gue lupa sebut kalo di salah satu thread Plurk ada temennya yang komen ke dia kalo dia itu pas banget suka sama Uco, karena dia sendiri juga mirip Arifin Putra.

W.O.W banget nggak sih.

Terlepas dari ini orang beneran mirip Fin apa enggak, kayaknya waktu itu gue langsung nge-add dia jadi temen. Apa waktu itu gue sempet cek dulu ya? Duh, lupa juga gue.

Intinya, sih, pasti ada pengecekan lah. Dia itu, 'kan, kebanyakan temen-temennya temenan sama gue di Plurk dan Facebook. Jadi channel gue buat nge-stalk dia juga lumayan banyak, dan terbuka lebar hahahaha. Pas akhirnya gue nemu fotonya, hmmm...

Yaaa...

Nggak mirip Fin, sih. Ada garis muka yang sekilas punya kesamaan, tapi sekilas doang, cuma ya intinya oke sih menurut gue ahahahahaha yaaa selera gue, lah. 

Oke, cukup bahas fisiknya. Karena meskipun awalnya gue nge-add dia jadi temen dan jadi lumayan akrab karena kemudian kita temenan di Path, ketemuan, add LINE karena dia mau kerja di luar jadi nomer Indonesianya yang gue simpen udah nggak berguna, dan ketemuan cuma berdua yang gue ceritain di postingan sebelumnya itu gara-gara kata temennya dia mirip Fin, akhirnya yang bikin gue beneran jadi demen sepenuhnya adalah kepribadiannya.

Ya, kepribadian bagus ditambah fisik, otak, dan pekerjaan bagus, lah. Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk.

I never met someone whom I can't get my conversations off of before. I never talked to my crush, or even my boyfriend, so excitingly that I was so hard to leave the table just to place a food order first or even to check my phone. And, I think it was not just me. If it was me, I would be tired after the date meeting because my energy was drained just to please him with my one-sided conversation. But it was far from such condition, since he also talked sooo much that I can't contain, about everything I knew until what I never knew.

I think, I want him for the rest of my life.

Or, if it was impossible, it must be someone like him.

Gue rasa nggak aneh kalo gue menginginkan sisa hidup gue ditemani oleh orang yang bisa ngobrol sama gue 25/8. Not anymore 24/7. Hubungan jarak dekat maupun jarak jauh berani gue tempuh kalo pasangan gue adalah orang seperti dia. Kalo di hubungan jarak dekat aja kita bisa ngobrol nggak selesai-selesai, bayangin kalo kita ketemuan pas hubungan jarak jauh. I can even imagine the thrill.

Meskipun perasaan gue ke dia emang nggak romantis.

I mean, like, I don't write cheesy poems, or some sweet words on social media status. I did, a few times, but they were all less romantic that what I did when I fell in love emotionally before. My heart did not even beat fast until I must hold my breath or even felt hard to speak. Not at all.

But, I love the colors he paints on me. I love how his cheerfulness being so contagious to me.
 
Bulan lalu, gue akhirnya memutuskan untuk pergi liburan ke kota di mana dia tinggal dan bekerja. Ini sebetulnya rencana tahun lalu, cuma tahun lalu gue batalin karena satu dan lain hal. Salah satunya karena dia punya gebetan kayaknya. Wkwkwk. Iya, gue baper.

Gue nggak lama ketemu dia, dan nggak sendiri pun karena emang gue perginya bertiga dari sini. Tapi dari gue cuma dapet kesempatan ngobrol sama dia di tengah-tengah dia juga mesti ngobrol sama temen-temen gue, gue merasa nggak ada yang berubah. He is still the same colorful person I met two years ago. He is still someone whose conversation I want to have forever with. He is still the one that I want.

And, he smelled like my husband.

Wait, no, I mean he used nice perfume.

Hahahahaha. No kidding. Waktu kita semua lagi jalan mau ke stasiun, dia bilang ke gue coba kalo gue dan temen-temen gue, tapi anggep aja gue doang nginepnya di sekitaran tempat kita ketemuan itu, seharusnya kita bisa ketemuan lebih lama dan nggak perlu buru-buru ngejar kereta. Dan dari obrolan begitu aja, topik kita bisa melebar ke sampe jam berapa kota masih aktif dan siapa aja yang bakal dipandang wajar dan aneh kalo masih berkeliaran tengah malem.

I wish I could change my ticket home.

Aaand, it was done there. 

Oh, ya, ada satu hal yang bikin gue sebel banget pas sebelum ketemuan sama dia. Jadi, gue tuh hari itu yakin banget gue udah masukin EDT vanilla gue ke pouch Zootopia yang fan-merch, bukan official wkwk tempat gue naro charger dan power bank. Tapi pas gue di toilet mall tempat ketemuan, somehow itu EDT hilang aja gitu. Nggak ada di pouch dan di tas padahal udah gue ubek-ubek. Akhirnya gue ketemuan sama dia tanpa parfuman dong, padahal badan udah bau tujuh rupa kali soalnya gue berangkatnya udah dari pagi. 

Gue kira itu EDT hilang, eh pas besok paginya packing gue cek lagi di pouch...ternyata ADA.

Bodo amat.

p..s: my friend tried to tease my when looking at a photo I took with him, like it was unusual that I smile in a photo. I know it was just a tease, but maybe, maybe he really brought up my positive energy. Not a new thing to know, though. LOL. 

2/2/15

Berat Jodoh, Kenapa?

Siapa yang lagi nyari jodoh? Ayo, angkat tangannya...

*angkat tangan sendiri*

Iya, gue sendiri salah satu yang lagi nyari. Tapi postingan ini bukan bertujuan mempromosikan diri gue sendiri demi menyukseskan misi tersebut, kok. Gue lagi mau ngebahas kesulitan menemukan si jodoh. Atau mungkin jodoh agak berat dan berlebihan ya, menemukan 'pasangan' aja deh. Pacar, gitu.




Gue mau memulai dengan satu cerita sederhana. Jadi sekitar 2 minggu lalu gue sidang, dan di sidang tersebut gue di pihak tergugat. Selain gue, ada beberapa tergugat lainnya yang udah hadir juga, dan lagi ngobrol2 sembari nunggu penggugat yang nggak juga muncul. Nah, salah satu tergugat ini punya kuasa hukum yang cantik banget. Cantik sih emang soal selera ya, tapi cewek ini menurut gue memenuhi segala kriteria kecantikan yang dianut oleh masyarakat, yaitu tinggi, putih, langsing, struktur muka tidak berantakan, dan pandai merias wajah. 

Cewek cantik ini duduk di sebelah gue di lobi pengadilan. Tiba-tiba dia nanya gue udah punya pacar apa belum, dan ketika gue tanya dia balik dia juga bilang belum. Kaget lah gue, cewek secantik itu single. Nah usut punya usut ternyata dia itu maunya sama pria Timur Tengah, dan maunya hanya sama sekitaran Iran, Persia, dan sejenisnya. So, Indonesia jelas out of her league. Furthermore, Saudi Arabia juga out of her league.

Kebayang lah ya, ada berapa sih pria Persia yang berkeliaran di Indonesia? Yang gue tau mah di Puncak banyaknya Arab yang hobi kawin itu. Dia itu nyarinya paling via dating online web, semacam Tinder. Ya wajar, karena memang di dunia nyata sehari-hari sekitarnya, pria yang dia cari itu hampir nggak ada. Dan ini tuh emang seleranya dia, soalnya dia bilang nggak suka sama bule karena sama-sama putih.

Di sini, gue paham kesulitan dia mendapatkan pasangan, yaitu karena kelangkaan 'outer'. Dan gue sulit menyalahkan dia karena, pertama, itu selera. Kedua, dia cantik, pintar, dan kaya raya, jadi ya sulit dibayangkan sih kalo dia mencari pria sembarangan yang rate-nya di bawah dia yang konon katanya sih malah pada minder mau PDKT.

Nah, lalu bagaimana dengan saya?

BWAHAHA.

Pertama, kecantikan gue dibandingkan cewek ini bagaikan butiran asap kendaraan. Kedua, ...

Nggak, nggak, gue bukan mau minder di sini.

Oke, kita serius. Kalo menurut pengamatan gue sih, gue sulit mendapatkan pasangan karena kelangkaan 'inner'. Kalo si cantik tadi itu sulit karena kelangkaan outer, gue karena inner.

Kenapa gue bermasalah dengan kelangkaan inner, adalah karena gue tidak ada masalah dengan outer. Selera gue nggak sesulit itu dicari, nggak perlu pria Kutub Utara yang begitu menjejakkan kaki di Jakarta langsung cari kulkas. Gue juga nggak ada masalah dengan bule barat (Eropa, Amerika, Australia, dll) meskipun warna kulit gue tidak gelap. Pribumi atau bukan, tidak masalah. 

Tapi mungkin ada sedikit masalah outer, di mana gue tidak mau dengan cowok-cowok yang menggunakan atribut agama. Ustad? Skip. Pastor? Skip. Bikshu? Skip. Oke, ini sekedar disclaimer yang sebenarnya berhubungan dengan kelangkaan inner.

Gue, berhubung ini syarat dari orang tua, mencari pria yang beragama Islam. Udah? Belum. Syarat turunannya adalah dia harus Islam KTP. Jadi, gue nggak mau sama cowok-cowok yang religius, yang dikit-dikit omongannya ngutip kitab suci. Yang dikit-dikit nyuruh gue nutup aurat. Yang bisa-bisa suatu hari nanti minta kawin lagi supaya gue dijamin surga. Pret. Gue nggak mau. SKIP.

Susah, 'kan? Mau yang beragama, tapi nggak mau yang religius. Kalaupun ada yang seperti itu, mereka tidak berserakan di lingkungan pergaulan gue, atau sudah sold out

Kemudian, gue mencari pria yang sebetulnya tidak terlalu menjadi favorit ibu-ibu, yaitu pria yang fisiknya cenderung kurus, dan kalau bisa berkacamata. TAPI eh tapi, kalo gue nemu pria macam ini lalu dia mengejar-ngejar gue dengan membabi-buta (tiap detik chat, SMS, telepon, dsj) gue bakalan ketakutan. Iya, ketakutan. Gue takut, loh, dideketin secara agresif sama cowok. Walaupun gue tau cewek-cewek lain lebih suka seperti itu ketimbang mereka harus mulai duluan. Gue juga tidak selalu suka mulai duluan, tapi beneran deh, kalo dikejar-kejar dengan intens, astaga, gue pengen pindah planet aja rasanya (._.).

Intinya, seperti apapun bentuknya, kalo cowok ini tipe ngejar-ngejar, gue nggak bisa.

Susah, 'kan?

Sedangkan konon katanya pria itu punya naluri pemburu. Lah, gue malah ketakutan pas diburu. Ya pantes aja lah susah dapet pasangan.

Belum lagi syarat-syarat lainnya. Contoh lagi, gue suka sama pria cerdas, apalagi kalo cerdas akademis (karena gue oon akademis). TAPI eh tapi gue nggak suka pria yang superior, dominan, dan cenderung membodoh-bodohi orang lain karena mereka lebih pintar. NAH. SUSAH 'KAN? Padahal 'kan kalo orang itu punya kelebihan dibanding orang lain, orang tersebut biasanya akan cenderung bersikap superior dan dominan, dan itu manusiawi. 

Tapi 

gue 

nggak 

suka. 

Nah loh.

Ya mungkin kita bisa menyederhanakan kesulitan karena kelangkaan ini dengan kalimat sakti yang ampuh, yaitu: YAH, EMANG BELUM KETEMU AJA.

Atau mungkin jodohnya cewek.


11/18/14

Love, Mental Issue, and Decision

Jadi tadi gue abis nonton Interstellar dan gue melihat banyak pasangan yang nonton film itu juga. Eaaa.

Gue emang belakangan ini lagi males-malesnya nyari cowok, jatuh cinta, dan sejenisnya. Bukan apa-apa. I have a mental issue, where I'm an overly attached person to someone I have crush on/love. Jadi ya gue pikir selama penyakit mental ini masih belum sembuh, gue nggak usah dulu lah mikirin jatuh cinta apalagi pacaran soalnya nanti ujung-ujungnya nggak enak kayak yang udah-udah.

Tapi hari ini pemikiran itu sedikit berubah.

Harus gue akui bahwa sendirian itu enak. Bebas. Bisa melakukan apa aja tanpa harus khawatir dilarang pacar, apalagi nggak perlu minta izin segala buat hal printilan kayak potong rambut atau pergi ke mana. Nggak bakalan ada yang ngelarang dengan dalih khawatir, sayang, dan sejenisnya, yang menurut gue bullshit tingkat tinggi karena itu cuma insecurity si pria aja pada akhirnya. Nggak ada yang jadi beban pikiran kapan dia mau nikah sama gue, dia serius apa enggak sama gue, orangtua dia setuju apa nggak dia sama gue, orangtua gue suka nggak sama dia, dan sejenisnya. I'm free. And I love it. 

And I don't feel like leaving this comfort zone.

However, whenever I saw people look happy with their partner, I start to change my mind. I start to think that it's not so bad to fall in love and have someone to share about anything with. They look happy and comfortable, and I've been there too, I know it was delighting. I felt completed and secure to have someone who falls in love with me, whom I fall in love with as well.

It's great being alone, but it's not too bad to have someone to share with.  

Memang pasti bakal nggak enak dan ribet, banyak pikiran, but I think things in life are created that way. You get some, you lose some. Single enak, tapi khawatir kok nggak juga punya partner. Punya partner enak, tapi banyak pikiran. Well, I think both worth the result. Hidup kan nggak melulu tentang hal-hal yang menyenangkan, banyak juga hal-hal menyebalkan dan menyedihkan yang mesti dialami manusia.

Tentang mental issue gue, sepertinya gue nggak akan pernah tau itu bisa sembuh atau tidak selama gue masih tidak bersama siapa-siapa, karena gejalanya baru timbul ketika gue bersama seseorang. Lagipula, sepertinya gue sudah menemukan solusinya sih. Tapi nggak mau gue bahas di sini ah, nanti jadi nggak seru dong. *lah dikira apaan*  

And that way, I think I want to fall in love. Again. 

Or should I say I already do? Pffft.


This is not important, but I'd love to share a little bit of it. Since around April, when my favorite The Raid 2: Berandal was still airing on the cinema, I had a crush on someone I haven't met back then, who loves that movie and loves Uco like I do (although not in a fangirling mode like me). I forgot why and when I exactly started to stalk about him and asked his friends about him, but afterwards things didn't go smooth. 

Gue nggak pernah bisa serius suka sama orang ini. Alasannya, pertama dia waktu itu suka sama orang lain (yang sepertinya gue tau dan tipenya beda banget sama gue), kedua dunia kita sangat sangat berbeda jauh, ini yang menurut gue menentukan. Pergaulan kita nggak satu irisan (ya satu irisan pun bukan yang sering ketemu), selera musik kita beda jauh (selera musik buat gue kayak agama, harus sama), selera film mungkin masih sama tapi tetap ada perbedaan lumayan jauh. Dan yang pasti pekerjaan dan lingkungan pekerjaan kita 100% nggak ada nyambung-nyambungnya.

Tapi di luar dugaan, suatu hari kita ngopi-ngopi cantik berdua, dan kita yang berbeda dunia ini ngobrol non-stop sampai gue susah mau jawab SMS dan WhatsApp dari klien dan rekanan, bahkan begitu kita ketemu gue sempat susah mau beranjak untuk place an order saking begitu ketemu kita langsung ngobrol non-stop. Begitu gue mau beranjak pulang pun susah.

Gue kaget aja karena dua orang yang berbeda dunia kok bisa ngobrol kayak steker dan stop kontak yang kalo nggak dicabut paksa atau dimatiin PLN maka listriknya ngalir terus. 

So I think, in accordance with my current decision, he's my beginning. Will he be my end? I don't know. But all I know is we'll be fine no matter he becomes my end or not.

And after all, I won't hesitate to fall in love.

10/23/13

How Audio?


How audio are you?



Katanya pria itu makhluk visual. Wanita itu makhluk audio. Pria menyukai hal-hal yang enak dilihat, sedangkan wanita menyukai hal-hal yang enak didengar. Itu mengapa pria menyukai wanita cantik (bagi yang straight) dan wanita menyukai pria yang pandai merayu (ya, bagi yang straight juga tentunya).

Katanya.

Benarkah? Seberapa benar?

Mungkin secara garis besar itu memang benar. Sebagaimana wanita yang merupakan makhluk audio, gue memang senang mendengar perkataan indah. Bukan dalam bentuk kata-kata puitis dan kalimat berbunga, karena bagi gue yang juga seorang penyair-wannabe itu hanya akan terdengar sebagai gombalan tidak berarti. Tidak perlu juga sampai menciptakan lagu cinta untuk gue, karena andai gue bisa memainkan alat musik, gue juga pasti sudah menciptakan lagu cinta entah berapa banyak. 

Lalu apa yang senang gue dengar?

Mungkin perkataan yang menenangkan. Mengejutkan. Disampaikan secara tidak terduga. Tidak puitis, tapi lebih kepada lugas dan mudah gue tangkap. Sebagaimana pernah gue tulis di postingan sebelumnya, gue tidak pandai membaca kode. Gue suka berburu, tapi tidak pandai membaca isyarat yang diberikan oleh buruan gue, sekalipun isyarat itu adalah untuk menangkapnya. Kurang lebih sama seperti gue senang jalan-jalan, traveling, tetapi gue tidak bisa membaca arah alias buta arah.

Yah, gue memang menyukai tantangan yang seperti itu.

Dan ternyata ada hal lain yang senang gue dengarkan selain perkataan yang menenangkan dan mengejutkan, yaitu penjelasan yang disampaikan oleh pria dengan tingkat intelektualitas tinggi. Tidak disampaikan dengan menggunakan istilah-istilah teknis suatu bidang, melainkan menggunakan kalimat dalam deskripsi yang bisa gue, atau orang awam, terima. Penjelasan yang tidak membuat gue merasa bodoh, melainkan membuat gue merasa ruang-ruang pengetahuan gue yang kosong akhirnya terisi.

Intinya, gue memang lemah dengan pria cerdas. Dengan para penangkap hati yang  kecerdasannya membuat gue ingin berlari memburu mereka.

Pria cerdas yang pandai bicara, meski bukan berarti pandai bergaul dan social butterfly, biasanya akan berinteraksi sangat baik dengan gue melalui obrolan. Dan tidak ada yang membuat gue ingin memburu seseorang lebih dari obrolan yang menyenangkan, yang membuat gue ingin dan ingin lagi melakukannya, bila perlu dalam 24/7/365. Setampan-tampannya pria, se-ideal apapun bentuk dan ukuran tubuhnya, tidak akan ada artinya jika dia tidak bisa menjaga obrolan yang menyenangkan dengan gue.

Jadi benar, gue memang makhluk audio. Makhluk audio pemburu pria cerdas yang bisa diajak mengobrol sepanjang waktu, obrolan mana tidak akan pernah membosankan karena selalu dan selalu ada bermacam topik baru yang bisa kita bicarakan.

Berangkat dari pemikiran gue tentang topik di atas, gue terinspirasi menulis puisi baru tentang penangkap hati yang gue sebutkan di atas. Here it goes.

I was about to text you 'good morning'
Yet your long messages blew it away
About BBM for Android you kept texting
Drowned in long talk as we've been this way

One month passed without we notice
We passed by, remembering all these

We were both strangers to each other
While our places have been the same forever
Who knew we turn to share every laughter
And the songs we sing have made it better?

I studied where you did, live where you do
Like peas in one pod, we are that same two
Patapoko puzzle that now you're so into
Did you play it for you know I love to?

I was afraid you'd kidnap me when we meet
Instead, your speech got my heart abducted

Your eyes stole mine when you slash Microsoft
I asked questions like kissing your sight
Line Offline locked us in our own croft
Into cakes and ale tying us tightly side by side

Clovers you sent now are not enough
Heartcaptor, in my world you're turning rough

(Heartcaptor, October 22, 2013)

8/27/13

(Akhirnya) Puisi Baru Lagi


YAHOOOO!

Tadinya gue mengira gue udah nggak bisa lagi menulis puisi. Terakhir gue buat itu sekitar awal April pasca dramatic break-up terakhir gue, itu pun semacam...yaaah, formalitas. Isinya kurang emosional.

TAPI!

Ternyata kejadian lucu di pesta pernikahan sahabat gue minggu malam kemarin malah membuat gue terinspirasi. Bukan, bukan pernikahannya yang menginspirasi, tapi siapa yang gue temui dan bagaimana kami semua berinteraksi kemarin. Yah, tidak penting untuk menyebut detil pernikahan siapa dan siapa saja yang gue temui, pokoknya seperti itulah.

Mungkin gue ingin mengutip sepatah dua patah lirik dari lagu Whitney Houston yang kebetulan baru gue ketahui pada saat mendengarkan Glee cast menyanyikannya.

I get so emotional, Baby
Everytime I think of you
I get so emotional, Baby
And it's shocking what love can do

Ya, gue akui, setiap berinteraksi dengan orang ini gue selalu merasa emosional. Entah dalam artian positif atau negatif, karena kebetulan gue sudah pernah merasakan keduanya. Tapi kali ini gue merasakan emosi positif, makanya gue bisa mengeluarkan frasa baru yang sangat gue suka hingga gue jadikan status di BBM: Last Puzzle Piece.


Berangkat dari tweet siang tadi yang tidak mencapai 140 karakter, yang juga mengandung frasa itu, gue tertarik untuk sekali lagi mencoba berpuisi. Sayangnya mungkin hasilnya tidak...sesuai. Maksudnya antara isi dan judulnya tidak sinkron. Yah, tadinya gue berencana untuk membuat kerangka tema dengan mem-breakdown kata dan kalimat apa saja yang harus muncul, tapi ternyata gue keburu malas. Keburu memegang BlackBerry dan membuka aplikasi NotePad untuk menulis puisi baru.

Last Puzzle Piece sebenarnya ingin menyampaikan bagaimana seseorang, dengan caranya yang tidak dapat diterka logika, menjadi potongan puzzle yang melengkapi sebuah gambar puzzle, dalam hal ini melengkapi hati dan hidup si subyek pertama dalam puisi. Sayangnya sepertinya gue terlalu asyik bermain pada sisi historis kedua subyek puisi, sehingga 'cara yang tidak dapat diterka logika' tersebut tidak sempat terungkap. Yah, memang gue sendiri nggak punya ide untuk mengungkapkan itu. 

Memang menyedihkan kalau punya bakat nanggung. Ah bakat apaan, ini kan hanya coretan iseng untuk mengisi waktu luang (T_T)

Ya sudah, selamat menikmati Last Puzzle Piece. Do you like it or hate it?

It has been more than one year ago
More than the day that we first met
I have not forget how you choose to go
Leaving a hole in my earth like a comet

But nothing changes since that day
We never really said hello to goodbye

I burned all the pictures of us to ashes
Hatred overwhelmed us to stab each other
While in the ocean we failed to find fishes
Inseparably we were stuck with each other

I saw you again as I caught your eyes
Every dispute disappeared in one single blink
As if you brought the last of my puzzle pieces
When you were near, you kept my ship sink

This is the moment to admit honestly
We never really moved out of you and me

Farewell to pretendings we committed
I watch you from here, acknowledging my love
Singing my lullaby loud for you to be kept
Through your heartpod, creep into your cave

With you within, my life is whole
The empty space is filled by your role

(Last Puzzle Piece - August 26th '13)

7/25/13

Jodohmu, Makanan Favoritmu


Dulu pernah ada teman yang bilang begini:

'Daerah asal makanan favoritmu bisa menjadi acuan petunjuk dari daerah mana jodohmu akan berasal'.

Yeah sure, Dude, you already married him.

Tapi mungkin bisa jadi benar. Si teman ini memberi contoh yaitu kakaknya sendiri, yang sangat suka dengan Pempek Palembang dan akhirnya menikah dengan pria Palembang. Contoh berikutnya adalah si teman sendiri, yang sangat suka dengan Bakso Malang dan akhirnya menikah dengan pria Malang.

*sebentar, gue mau ngikik dulu*

Beralaskan cerita teman gue itu, gue mencoba meyakini bahwa mungkin memang jodoh gue bisa ditelusuri dari makanan favorit. Gue sempat berpacaran dengan pria Minang, dan saat itu gue menyadari bahwa gue memang sangat menggilai Nasi Padang, dan gue memiliki kekaguman tersendiri pada detil bumbu pada kuliner asal Sumatra Barat. Saat itu gue berpikir 'oh, benar juga nih' terhadap teori teman gue, mungkin saja 'kan, si pacar waktu itu memang berjodoh dengan gue.

Tapi akhirnya toh kita putus, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda akan kembali baik dalam waktu dekat maupun waktu yang akan datang. 

Setelah itu gue berpacaran dengan pria Cirebon. Alright, Dude, you are so right, karena gue sejak kecil sangat suka dengan udang yang notabene populer dibudidayakan di Cirebon. Setelahnya gue baru mengetahui pula bahwa Empal Gentong yang membuat gue jatuh cinta pada jilatan pertama di acara pernikahan teman gue yang lain juga ternyata berasal dari Cirebon. Fix, jodoh gue pasti pacar gue.

Tapi nyatanya kita putus juga, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kita berjodoh. 

Lalu dari mana jodoh gue akan berasal?

Tentunya gue harus bisa menjawab dulu pertanyaan 'apa makanan favorit gue?'. Sayangnya sampai sekarang gue masih belum bisa menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang tegas ( T _ T )  Terlalu banyak makanan yang gue sukai. Gue suka nasi Padang, udang, telur, cokelat, sushi, pasta, pizza, sandwich, hamburger, soto, sate, gorengan, jeroan, dan masih banyak lagi makanan yang belum bisa disebutkan di sini.

( T _ T )

Sepertinya teori teman gue itu nggak bisa diterapkan untuk gue, hanya bisa untuk dia dan keluarganya. Atau mungkin bisa untuk orang yang punya hanya satu makanan favorit yang benar-benar favorit.

Ngomong-ngomong, gue suka cokelat, seperti halnya nama blog ini, chocofit, nama yang gue ambil dari karakter Sanrio, ChocoCat, kali ini dengan menggabungkan nama salah satu makanan favorit gue dengan nama panggilan gue.




Apa mungkin gue akan mendapat jodoh dari tempat di mana cokelat berasal atau diolah? Mungkin dari Belgia? Atau...dari daerah yang menganggap cokelat adalah makanan para dewa, Suku Inca? :|

6/20/13

Denial


The ones that hurt you are the ones that needed you the most.

Kalimat itu gue baca di postingan text seorang teman di Path. Gue diem waktu baca kalimat itu. Pertama, itu mungkin benar. Kedua, itu tidak masuk di logika gue.

Gue mulai dari alasan nomor dua: tidak masuk di logika. Hello, kalo emang lo butuh kenapa lo nyakitin orang itu? Apa lo berpikir bahwa meski disakitin, orang itu akan selalu ada dan selalu memaafkan lo? Selalu kembali ke elo? Nggak, bro! Setiap manusia punya keterbatasan, dalam hal ini batas kesabaran. Akan ada saatnya mereka muak disakitin sama lo. Oke, kecuali orang tua, keluarga. Tapi dalam pertemanan, percintaan, pekerjaan, lo nggak bisa seperti itu. Lo suka, lo butuh, ya lo perlakukanlah orang sebagaimana mestinya. Nggak usah denial, buat apa denial? Apa akan membuat keadaan jadi lebih baik? Apa akan menunjukkan progress? Menunjukkan kemunduran iya.

Alasan nomor satu: itu mungkin benar. Terkadang cinta yang besar malah bisa berbalik menjadi kebencian, atau penyangkalan (denial). Jujur, gue pernah mengalami ini. Gue punya pacar yang gue cinta banget, bahkan sampai setelah putus, mungkin sampai sekarang saat gue menulis portingan ini. Apa yang gue lakukan? Denial. Berusaha mengusir cinta gue. Waktu putus, gue bertekad gue harus move on segera. Gue sampaikan itu ke seluruh dunia. Kenapa? Karena gue nggak rela punya perasaan cinta buat dia. Gue merasa cinta itu harus lenyap. Akhirnya gue punya pacar baru. Lalu apakah gue move on? Tidak.

Yang gue lakukan selama periode pacaran dengan si pacar baru adalah mem-bully si mantan dengan memamerkan pacar baru gue dan menyindir lewat quote lirik lagu. Itulah bukti gue tidak move on. Bukti gue masih cinta. Si mantan masih menginap di relung hati dan benak gue, meski sebagai obyek kebencian. Aksi-aksi kebencian gue pun sebagai bentuk penyangkalan bahwa gue masih cinta dia dan perasaan gue nggak cukup kuat ke si pacar baru.

Tapi yang gue lakukan murni penyangkalan. Bukannya gue butuh dia. 

Untuk pernyataan 'butuh', gue punya contoh lain, yaitu si mantan yang gue bicarakan di atas. Dulu sempat terjadi clash antara gue dan dia pasca putus, dimana gue me-remove dia dari medsos, phonebook, dan BBM contact. Ternyata dia kebakaran jenggot lalu mengerahkan dua sahabatnya (yang juga teman2 baik gue) untuk melobi gue supaya dia balik lagi ke medsos gue, which was also kedok untuk balikan. Akhirnya gue kembalikan dia ke medsos dan hape, lalu kita berusaha menyelesaikan clash itu. Setelahnya gue coba membangun komunikasi yang baik lagi, tapi tanggapan dia nggak ada perubahan dari sebelumnya. Pernah gue ajak dia kumpul2 sama temen2, dia nggak bisa, gue bilang ya udah, eh dia marah2 seolah2 gue bete dia ga bisa. Ya kaliii -_- pernah juga kejadian gue iseng nyapa dia randomly, eh dia jawab lagi nggak mood. Nah, moment 'lagi nggak mood' itu gue jadikan titik akhir pencarian jalan balik, lalu gue pacaran dengan si pacar baru.

Ternyata selama gue pacaran dengan si pacar baru, si mantan labil ini suka nanya2in kabar gue ke temen2 gue dan sering posting2 kata2 atau lagu2 galau di Path. Aih...keliatan banget gagal move on, padahal dulu clash-nya sama gue itu karena dia deket sama cewek lain (sampai foto mesra gandeng2an tangan). AIIIH. Lalu setelah gue putus dengan si pacar baru, gue coba lah bangun komunikasi sama dia. Gak juga loh berubah. Gue tanya nomer hapenya yang notabene hilang karena gue save di BlackBerry yang dihilangin sama service center, jawabnya apa? Dia bilang gue delete nomer dia, dan dia nggak peduli sama penjelasan gue. MATIK.

I know he acts that way to deny that he still loves me. He needs me. It's obvious. 

Meanwhile, I'm a fact-minded. Kalo tindakan nyata tidak mencerminkan apa yang diinginkan, ya gue akan anggap dia tidak menginginkan hal itu. So, I walk away and for the second time remove him from all social medias and BBM contact. Perlakuannya ke gue udah gue anggap melewati batas kewajaran dan gue bisa sinting kalo tetap membiarkan dia ada di dunia gue.

So, it might be true that the ones who hurt you most are the ones who need you most. But to me, that kind of statement will be statement, because what I need is action to show that I'm needed, and not anything backwards.

6/9/13

Dua Kaki


Love is a ruthless game unless you play it good and right

Gue setuju sama penggalan lirik State of Grace-nya Taylor Swift di atas. Cinta itu kejam, tinggal tergantung attitude kita terhadapnya.


Belakangan ini entah kenapa gue lihat banyak orang yang 'bermain di dua kaki'. This is not a new term, I guess, but maybe not everyone figure it out. Jadi ini adalah kondisi di mana seseorang yang sudah berpacaran dengan satu orang mengaburkan statusnya untuk mendekati orang lain yang ia sukai.

Gue pribadi memandang ini bukan hal yang seratus persen salah, karena namanya masih pacaran artinya belum ada ikatan yang legal seperti halnya menikah. Gue juga tidak bisa menilai ini hal yang salah, ketika kedua orang yang sepakat untuk berpacaran membuat 'kesepakatan lain' untuk tidak saling mengikat satu sama lain, just in case di tengah-tengah hubungan salah satu atau keduanya akan bertemu dengan orang yang lebih baik.

Tapi, apakah gue setuju?

Jawaban gue adalah tidak.

Bagi gue, ketika gue memutuskan untuk berpacaran dengan seseorang, gue berkomitmen dengan dia dan dengan diri gue sendiri. Memang bukan secara hukum, tapi memangnya setiap komitmen harus dilakukan secara hukum? Gue berkomitmen bahwa dengan gue menjadikan dia pacar gue, gue memberi kesempatan kepada dia dan diri gue sendiri untuk berbagi apa yang tidak kita bagi dengan orang lain. Bahkan dalam kasus gue, gue berhenti memohon, katakanlah berdoa, agar dipertemukan dengan jodoh gue. Kenapa? Karena gue sedang memberi kesempatan kepada pacar gue. Siapa tau pacar gue inilah jodoh gue. Jadi redaksional permohonan/doa gue berubah sedikit, menjadi permohonan agar jalan gue bertemu jodoh dilancarkan.

Jadi, kalau gue menemukan orang yang sudah berpacaran tapi masih mendekati orang lain, ya gue cukup tau aja. Of course I'm going to lack respect, but only in relationship issue, bukan berarti gue berhenti berteman dengan orang itu. 

Dan bagaimana kalau yang didekati oleh orang yang sudah berpacaran itu adalah gue?

Tiada ampun. Bahkan apabila dia dengan pacarnya sudah membuat 'kesepakatan lain' sekalipun. Jangan coba-coba sama gue sebelum dia selesaiin urusannya sama pacarnya.

Bermain di dua kaki boleh-boleh aja. Tapi tempatkan kedua pijakan di posisi yang sama. Satu pijakan aja udah berada di posisi yang lebih tinggi, itu namanya berkhianat. Jujur, gue pernah bisa dibilang melakukan permainan dua kaki ini. Tapi posisi kedua pria itu waktu itu sejajar: bukan pacar gue. Salah satu dari mereka mantan gue, dan satunya lagi semacam target baru. Si target baru ada di sekitar gue dan sering ketemu gue tapi jarang berkomunikasi via alat komunikasi, sedangkan si mantan jauh dari gue dan lebih banyak berkomunikasi via BBM. Posisi mereka sama, tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi, tidak ada yang lebih gue sukai, tidak ada yang lebih gue harapkan. Yang manapun yang nanti jadi pacar gue tergantung pada kejelasan dan ketegasan sikap mereka.

Akhirnya si target baru-lah yang jadi pacar gue karena dia lebih tegas dan jelas. Si mantan harus gue tinggalkan. See? Seperti itulah seharusnya permainan dua kaki dilakukan. Pemain harus berada dalam kondisi tidak berbohong, tidak perlu berbohong, dan tidak masalah bila berbohong. Zero area. Gue tidak berbohong, karena tidak ada yang bertanya. Gue tidak perlu berbohong, karena kondisi gue saat itu sedang sendiri sehingga gue bebas melakukan apa pun. Dan sekalipun gue berbohong, tidak boleh ada yang mempermasalahkan karena gue tidak terikat.

This is a state of grace
This is a worthwhile fight
Love is a ruthless game
Unless you play it good and right

4/10/13

Love, Lies


Hai kamu.

Aku masih juga kaget sampai hari ini. Sebelum dan sejak kamu meminta untuk menyudahi hubungan kita, aku banjir air mata. Menangis tanpa henti. Insecure. Ketakutan. Tapi lihat sekarang, aku tertawa. Tidak ada sedikitpun air mata yang keluar sejak akhirnya kita sama-sama sepakat untuk menyudahi.

Kurasa aku lega. Bukannya aku tidak pernah sama sekali menyukaimu. Tentu aku sangat menyukaimu, kalau tidak aku tidak akan pernah meminta untuk memulai denganmu. Aku sangat menyukaimu entah sejak kapan, sepertinya sejak aku ribut dengan pacarku yang sebelumnya. Kupikir kamu manis dan pintar, terlebih kamu teman yang menyenangkan. Meski secara fisik dan usia kamu bukan tipeku, aku tetap menargetkanmu setelah putus dengan pacarku dulu.

Lalu kita mencoba untuk menjadi lebih dari teman. Kamu menyenangkan, baik hati, bahkan memperlakukanku dengan layak melebihi pria manapun yang pernah kukenal dan jadi pacarku. Aku bahagia. Sayangnya kebahagiaanku terganggu dengan bisikan-bisikan hatiku. 

'Benarkah aku mencintaimu?'

'Benarkah aku tidak lari dari mantan pacarku?'

'Benar atau tidakkah hubungan ini kujalani?'

Sejak awal sampai akhir hubungan, pertanyaan-pertanyaan itu kerap menghantui benakku. Untuk mengatasinya, kuabaikan dengan terus bersamamu. Kupikir karena kamu tetap memperlakukanku dengan layak, aku akan bisa belajar mencintaimu dan mempertahankan hubungan itu. Aku membuat investasi. Aku pun memperlakukanmu dengan tidak kalah layaknya sebagai balasannya. Aku berkali-kali mengatakan mencintaimu.

Berkali-kali.

Itulah tanda bahwa aku tidak pernah mencintaimu.

Bila benar aku mencintaimu, aku akan sulit menyatakannya. Sebelum mengatakannya aku akan kesulitan dulu untuk mengatasi jantungku yang berdebar sangat cepat. Pernyataan cinta tidak pernah tidak membuatku gugup. Lagipula aku cenderung baru akan menyatakan itu setelah mendengar pasanganku mengatakannya padaku. 

Dan seperti yang kusampaikan padamu, aku mengatakan mencintaimu bukan untukmu. Mungkin untukmu, tapi juga untukku sendiri. Aku meyakinkan diriku bahwa itulah perasaanku. Aku sedang merapal mantra kepada diriku sendiri agar bisa mencintaimu. Kenapa? Karena kamu layak dicintai.

Tapi andai perasaanku itu benar cinta, aku tidak perlu lagi meyakinkan diriku untuk mengatakannya, atau mengatakannya untuk meyakinkan diriku. Karena aku sudah merasakannya. Aku hanya akan butuh momen dan keberanian besar untuk mengatakannya.

Entah apa kesalahanmu sampai aku tidak bisa mencintaimu. Kamu sempurna sebagai pasangan ideal, terlepas dari usiamu yang belum siap untuk menaiki jenjang pernikahan. Kamu tidak pernah salah. 

Karenanya, ketika semalam kamu dengan jujur menyampaikan bahwa selama ini kamu tidak pernah mencintaiku, hanya menjalani hubungan karena merasa sendirian, dan hanya untuk bersenang-senang, aku kecewa tapi sekaligus lega. Aku yang tadinya sudah memendam banyak air mata, tiba-tiba merasa ditampar dan disadarkan bahwa perasaanku kepadamu pun sama: tidak ada. Aku semakin lega ketika kamu mengatakan tidak pernah marah bila aku menyebut-nyebut mantan pacarku selama ini, apalagi ketika kamu mengatakan bahwa kamu bohong saat mengatakan mencintaiku juga.

HHH.

Entah apa yang kita lakukan. Yang aku lakukan. Aku tidak pernah berbohong ataupun berpura-pura selama ini, tapi nyatanya kulakukan. Padamu. Bersamamu. 

Namun bagaimanapun juga, perasaanku yang menyukaimu karena kamu manis, pintar, dan menyenangkan bukan bohong. Aku mungkin bisa saja mencintaimu andai kamu balas mencintaiku dan berusaha membuatku mencintaimu. Sayangnya kamu tidak punya perasaan itu, jadi aku pun tidak punya alasan untuk berjuang bukan? Tapi aku sungguh-sungguh menyukaimu, itu bukan bohong. Hanya saja kupikir...itu bukan cinta.

Aku sedikit berharap kita masih punya kesempatan sekali lagi. Kali ini untuk benar-benar jatuh cinta. Dan kali ini untuk benar-benar jatuh cinta karena cinta itu yang memilih kita. Karena kamu merasakannya, begitu juga denganku. Bukan karena merasa kesepian. Bukan karena butuh tempat pelarian. Bukan karena kamu layak dicintai atau aku layak dicintai, karena layak ataupun tidak, kita akan tetap saling mencintai saat cinta itu ada.

Kita melewati hari-hari yang menyenangkan berdua tanpa saling mencintai. Kupikir akan jauh lebih menyenangkan bila kita saling mencintai suatu hari nanti, entah kapan, dan entah akan terjadi atau tidak.

Someday, if we were written to be together, I hope we can be ourselves. No lies, no pretending, just the way we are, falling in love with each other.

Sekian dariku. Terima kasih untuk hari-hari yang sangat menyenangkan. Terima kasih sudah menyukaiku dan memperlakukanku dengan sangat layak. Untuk selanjutnya, mari kita menjadi teman baik, karena kode etik profesi kita mensyaratkannya, bukan?

HAHAHA.

4/7/13

With or Without Hopes?


'but I can't promise you anything in these near years'

what would you do if your lover told you that? he or she currently has no intentions to marry you due to many reasons that you consider as logical. Meanwhile there has never been any problems during your relationship and your lover is adorable.

will you just break up?

what if the condition is a contrary, your lover promised to marry you, to introduce you to his or her parents, to somehow get you two there...but in the end you two just end up separated? in the end you two break up and there is never such a thing like marriage happens to you two?

I think both conditions are not so different.

I think it's normal, especially for young people, to spend much time before thinking to upgrade a loving relationship to the higher stage. I think to consider that we want to marry someone could not be decided quickly, as we need time to know each other so that we could finally decide whether this person is worth a marriage or not.

You can say I'm naive, but I really consider those two things abovementioned, like which one is better. And maybe we better walk a loving relationship without empty hopes instead of with hopes that could not be fulfilled in the end.