Sahabat menyampaikan kenyataan meski menyakitkan demi menyelamatkanmu
Setujukah?
Aku setuju.
Memang butuh teknik penyampaian yang baik agar usaha penyelamatan itu dapat diterima dengan semestinya. Karena mana ada manusia yang senang menerima berita menyakitkan? Mana ada kabar menyakitkan yang bisa diterima manusia dengan hati lapang? Kalaupun ada, kabarnya pasti sudah basi atau yang menerimanya bukan manusia.
Tapi se-menyakitkan apapun, lebih baik mengetahui kenyataan daripada, seperti kata Rumor dalam lagunya Butiran Debu, terus-menerus tenggelam dalam lautan luka dalam. Setidaknya pasti itu yang terpikir oleh salah seorang sahabatku ketika ia menunjukkan padaku file beberapa foto yang kemudian menjadi titik balik penyelesaian masalah percintaanku dengan salah satu mantan pacarku.
Ceritanya kurang lebih seperti ini. Aku pada saat itu belum lama putus dan bertekad untuk move on secepatnya. Sayangnya tekadku itu seperti hanya sebatas kata, karena nyatanya aku tetap berkoar-koar tentang mantanku itu di Twitter, entah dalam bentuk nasihat, sindiran, caci-maki, dan lain-lain. Sampai suatu hari sahabatku ini, yang memang sebelumnya adalah rekan kerja mantanku, pergi berlibur dengan mantanku dan mendapati mantanku ini langsung dekat dengan salah satu peserta tour cewek yang baru dia kenal. Mereka berfoto dengan pose-pose mesra yang menurutku di luar batas wajar untuk lawan jenis yang baru saling mengenal. Aku berprinsip bahwa lawan jenis, selain keluarga, hanya akan berfoto mesra bila mereka adalah 1) sahabat yang sudah sangat dekat, atau 2) pasangan kekasih. Sahabatku itu juga menceritakan bahwa mantanku itu memang melakukan manuver-manuver untuk mendekati cewek itu. Kemudian dia menunjukkan foto-foto itu kepadaku, dan pada saat itu aku sepenuhnya sadar bahwa yang harus kulakukan memang hanya satu: move on.
Terlepas dari benar atau tidaknya cerita sahabatku, rekayasa atau bukan foto-foto yang ditunjukannya padaku, atau apa motif sebenarnya di balik dia menunjukkan foto-foto itu kepadaku, aku tidak peduli. Aku tidak bisa melihat motif buruknya, meskipun kabarnya (dan menurut ceritanya sendiri) dia memang memutuskan hubungan rekanan dengan mantanku dengan alasan ketidaknyamanan bekerja. Dan berdasarkan pengakuannya, dan juga menurut pendapatku, dia memang melakukannya UNTUK MEMBUATKU MOVE ON SEPENUHNYA. Hanya itu. Dia berpikir bahwa aku tidak seharusnya membelenggu diriku dalam masa lalu dengan mantanku itu, dan bahwa mantanku itu tidak layak diharapkan olehku karena aku layak untuk kesempatan baru yang lebih baik.
Dan itu cukup bagiku untuk memasukkan namanya dalam daftar sahabat.
Aku tidak pernah tahu maupun bertanya apakah dia juga menganggapku sahabat, tapi sejauh ini hubungan pertemanan kita baik. Dan aku tidak peduli hal itu, karena bagiku sahabat bukan orang yang juga menganggapku sahabat. Sahabat bukan kekasih, perasaan itu tidak perlu dua arah. Cukup bagiku dengan tindakannya menarikku dari lautan luka dalam saat itu, dan dengan selalu berusaha ada untukku dan juga sebaliknya, mengandalkanku.
Lalu seberapa berani kamu menyampaikan kenyataan yang menyakitkan demi menyelamatkan temanmu?
Sejujurnya bila pertanyaan itu ditujukan kepadaku, aku akan menjawab aku belum cukup berani. Daripada membuatnya mengetahui kenyataan yang menyakitkan, aku lebih suka bergerilya di belakangnya untuk mencarikan jalan keluar lain sehingga akhir kisah temanku tidak akan terlalu menyakitkan.
Maka bersyukurlah kamu bila memiliki teman yang mau memikirkanmu, meski harus dengan cara menyakitimu. Dan dengan menyakitimu itu dia tahu mungkin kamu akan membencinya, asalkan kamu keluar dari penderitaanmu. Sungguh, bersyukurlah.
Berpikirlah.

Adakalanya kita bertemu dgn seseorang untuk mendapatkan pelajaran dr suatu cerita hidup dan ada jg yang dtg hanya untuk sekilas saja dan dia pun prgi.tp apapun itu,yg namanya sahabat gk akan pernah menjatuhkan kita kejurang.dia akan membawa dan menarik kita dr yg namanya kesulitan.pesannya berhati2lah berteman..krna suatu hari nnt sahabat itu bs menjadi boomerang untuk kita dan musuh bisa menjadi malaikat untuk kita :)
ReplyDelete^ memang. tapi bukan berarti gak menghargai teman yang ada loh ~\( ^-^)/
ReplyDelete