4/10/13

Love, Lies


Hai kamu.

Aku masih juga kaget sampai hari ini. Sebelum dan sejak kamu meminta untuk menyudahi hubungan kita, aku banjir air mata. Menangis tanpa henti. Insecure. Ketakutan. Tapi lihat sekarang, aku tertawa. Tidak ada sedikitpun air mata yang keluar sejak akhirnya kita sama-sama sepakat untuk menyudahi.

Kurasa aku lega. Bukannya aku tidak pernah sama sekali menyukaimu. Tentu aku sangat menyukaimu, kalau tidak aku tidak akan pernah meminta untuk memulai denganmu. Aku sangat menyukaimu entah sejak kapan, sepertinya sejak aku ribut dengan pacarku yang sebelumnya. Kupikir kamu manis dan pintar, terlebih kamu teman yang menyenangkan. Meski secara fisik dan usia kamu bukan tipeku, aku tetap menargetkanmu setelah putus dengan pacarku dulu.

Lalu kita mencoba untuk menjadi lebih dari teman. Kamu menyenangkan, baik hati, bahkan memperlakukanku dengan layak melebihi pria manapun yang pernah kukenal dan jadi pacarku. Aku bahagia. Sayangnya kebahagiaanku terganggu dengan bisikan-bisikan hatiku. 

'Benarkah aku mencintaimu?'

'Benarkah aku tidak lari dari mantan pacarku?'

'Benar atau tidakkah hubungan ini kujalani?'

Sejak awal sampai akhir hubungan, pertanyaan-pertanyaan itu kerap menghantui benakku. Untuk mengatasinya, kuabaikan dengan terus bersamamu. Kupikir karena kamu tetap memperlakukanku dengan layak, aku akan bisa belajar mencintaimu dan mempertahankan hubungan itu. Aku membuat investasi. Aku pun memperlakukanmu dengan tidak kalah layaknya sebagai balasannya. Aku berkali-kali mengatakan mencintaimu.

Berkali-kali.

Itulah tanda bahwa aku tidak pernah mencintaimu.

Bila benar aku mencintaimu, aku akan sulit menyatakannya. Sebelum mengatakannya aku akan kesulitan dulu untuk mengatasi jantungku yang berdebar sangat cepat. Pernyataan cinta tidak pernah tidak membuatku gugup. Lagipula aku cenderung baru akan menyatakan itu setelah mendengar pasanganku mengatakannya padaku. 

Dan seperti yang kusampaikan padamu, aku mengatakan mencintaimu bukan untukmu. Mungkin untukmu, tapi juga untukku sendiri. Aku meyakinkan diriku bahwa itulah perasaanku. Aku sedang merapal mantra kepada diriku sendiri agar bisa mencintaimu. Kenapa? Karena kamu layak dicintai.

Tapi andai perasaanku itu benar cinta, aku tidak perlu lagi meyakinkan diriku untuk mengatakannya, atau mengatakannya untuk meyakinkan diriku. Karena aku sudah merasakannya. Aku hanya akan butuh momen dan keberanian besar untuk mengatakannya.

Entah apa kesalahanmu sampai aku tidak bisa mencintaimu. Kamu sempurna sebagai pasangan ideal, terlepas dari usiamu yang belum siap untuk menaiki jenjang pernikahan. Kamu tidak pernah salah. 

Karenanya, ketika semalam kamu dengan jujur menyampaikan bahwa selama ini kamu tidak pernah mencintaiku, hanya menjalani hubungan karena merasa sendirian, dan hanya untuk bersenang-senang, aku kecewa tapi sekaligus lega. Aku yang tadinya sudah memendam banyak air mata, tiba-tiba merasa ditampar dan disadarkan bahwa perasaanku kepadamu pun sama: tidak ada. Aku semakin lega ketika kamu mengatakan tidak pernah marah bila aku menyebut-nyebut mantan pacarku selama ini, apalagi ketika kamu mengatakan bahwa kamu bohong saat mengatakan mencintaiku juga.

HHH.

Entah apa yang kita lakukan. Yang aku lakukan. Aku tidak pernah berbohong ataupun berpura-pura selama ini, tapi nyatanya kulakukan. Padamu. Bersamamu. 

Namun bagaimanapun juga, perasaanku yang menyukaimu karena kamu manis, pintar, dan menyenangkan bukan bohong. Aku mungkin bisa saja mencintaimu andai kamu balas mencintaiku dan berusaha membuatku mencintaimu. Sayangnya kamu tidak punya perasaan itu, jadi aku pun tidak punya alasan untuk berjuang bukan? Tapi aku sungguh-sungguh menyukaimu, itu bukan bohong. Hanya saja kupikir...itu bukan cinta.

Aku sedikit berharap kita masih punya kesempatan sekali lagi. Kali ini untuk benar-benar jatuh cinta. Dan kali ini untuk benar-benar jatuh cinta karena cinta itu yang memilih kita. Karena kamu merasakannya, begitu juga denganku. Bukan karena merasa kesepian. Bukan karena butuh tempat pelarian. Bukan karena kamu layak dicintai atau aku layak dicintai, karena layak ataupun tidak, kita akan tetap saling mencintai saat cinta itu ada.

Kita melewati hari-hari yang menyenangkan berdua tanpa saling mencintai. Kupikir akan jauh lebih menyenangkan bila kita saling mencintai suatu hari nanti, entah kapan, dan entah akan terjadi atau tidak.

Someday, if we were written to be together, I hope we can be ourselves. No lies, no pretending, just the way we are, falling in love with each other.

Sekian dariku. Terima kasih untuk hari-hari yang sangat menyenangkan. Terima kasih sudah menyukaiku dan memperlakukanku dengan sangat layak. Untuk selanjutnya, mari kita menjadi teman baik, karena kode etik profesi kita mensyaratkannya, bukan?

HAHAHA.

0 comments:

Post a Comment

Feel free to drop anything! Thank you!