9/23/12

Persistently Stay

Where should I start writing this post?

If I wrote the real condition that inspires this new poem I made, I feel like it's not fair. I feel like I'm bitchier than the bitchiest bitch, I will feel so cruel. Because overall I will write about the condition one-sidedly, which is so not fair for the other side.

But I might be giving the big picture. So this is it. Somebody is now in his hardest condition of his life, and in such a condition he seems to decide to keep me away without quitting being someone in my life. Maybe waiting for me to leave first? I don't know, though. And since I'm not kind of person who leaves first, but I feel uneasy everyday, I decide to go back to the real me: writing a poem in any conditions.

So, this is the poem. I titled it 'Stay' to represent my persistence, to represent myself who stubbornly resists to leave. Because until I know that I must, until I know that my leaving is the best thing to happen, I will not go anywhere.

Do you like it or hate it? I was firstly confused of what I wrote, but when I read it twice, I fell in love. I feel like writing well the persistence and strong heart through this poem.

It's raining outside and you're standing there
Within a cruel cold you can barely bear
You cry, surrender for anything to care
As the water slowly runs down through your hair

I wonder why you don't let me in
I thought we were stronger than we're seen
You choose to face alone the life so keen
While I'm here clueless, not knowing what I mean

But if you ask me to leave, I won't
I live to see all the broken pieces you count

Go run faster and fly higher
Make all your dreams truer and clearer
As you know the world will slap you harder
That you'll get hurt, drown in pain deeper

This is your life, a choice that you made
The way you wish to get kind of high grade
But whenever you feel you're going to fade
Come home to me, somewhere you're no shade

I will be staying when the rest leaves
So that you know where your direction leads

Don't try to give up or even think about it
Either on me, on us, on whatever you hit
Give all your best even there's just a little bit
And let what's left of you slowly finish it

Here I am to persistently stay
As I think of you, lift my hands and pray

9/9/12

Nervous

Jarum detik di jam dinding, yang berjarak tiga kubikel dari meja tempatku saat ini duduk, kini terdengar lebih jelas. Seolah sealun dengan bunyi keyboard yang kuketik untuk mengerjakan terjemahan laporan yang kamu buat. 

Mengapa?

Aku belum lama berada di sini. Aku juga belum mengenalmu lebih jauh dari rekan satu tim. Frekuensi berbicara denganmu mungkin bisa kuhitung dengan jari. Tapi kamu yang saat ini duduk di sampingku sambil sibuk dengan BlackBerry di tanganmu, menungguku menyelesaikan terjemahanku, membuat pusing kepalaku dan memacu laju debar jantungku.

Hanya dengan duduk di sampingku. Ya, hanya itu. Duduk di sampingku, menunggu terjemahanku, seolah menemaniku.


Kepalaku terasa berputar. Tuhan...apa bahasa Inggris 'gugatan'? Astaga, sudah berjuta kali aku menerjemahkan dokumen-dokumen dengan kata 'gugatan' di dalamnya, bagaimana mungkin aku melupakannya? 

'Oh, ya, 'LAWSUIT'!'

Segera kembali kuketik kata itu, kutimbulkan lagi suara keyboard yang berbunyi cepat. Dan kamu masih juga sibuk dengan BlackBerry-mu. Semoga kamu tidak menyadari kebodohanku barusan, yang terjadi gara-gara kamu ada di sini. 

'Duh, kenapa kamu harus ada di sini? Bukankah nanti pasti akan kuberi tahu bila sudah selesai?'

Tapi mana bisa aku mengusirmu dengan kata-kata itu. Dudukmu nampak nyaman, apalagi dengan ponsel pintar yang sejak tadi sibuk kamu mainkan itu. Ditambah lagi...yah, aku memang tidak ingin kamu ke mana-mana.

Bodoh memang. Kurasa aku bertepuk sebelah tangan lagi. Biarlah, setidaknya waktu yang singkat ini terasa cukup menyenangkan. 

Akhirnya kuselesaikan terjemahanku. Kuberitahu kamu, lalu kamu beranjak dari meja untuk mengambil buku yang berisi daftar nomor surat. Aku menghela nafas. Akhirnya debar di jantungku berhenti berlarian cepat. Gila. Bagaimana bisa seorang kamu, yang belum lama kukenal, bahkan jarang mengobrol denganku, membuat otak dan hatiku jungkir balik seperti orang bodoh?

Kamu kembali dengan dua buah buku, duduk lagi di sampingku. Kualihkan pandanganku kembali ke monitor agar tak menatapmu, karena debar jantungku sedang bersiap untuk berlari cepat lagi. 

"Lho, kok gue ambil buku supir, sih?"

Pertanyaan yang kamu ajukan kepada dirimu sendiri dengan nada kaget bercampur bingung itu membuatku menoleh kaget.

"Hah?"

Hanya itu yang sempat kukatakan sebelum kamu beranjak lagi untuk mengambil buku yang benar. Aku terkikik geli. Rupanya kamu salah mengambil buku, malah buku daftar pemakaian supir kantor yang kamu bawa tadi. Senyum puas perlahan terukir di wajahku selagi kamu pergi.

Sepertinya yang gugup bukan hanya aku.

8/25/12

Kubikel

Pernah jatuh cinta pada rekan kerjamu? Yaaa lebih spesifiknya: teman sekantormu?

Bila kamu bekerja pada kantor yang cukup besar yang di dalamnya terdapat banyak lawan jenis berbentuk rekan kerja, kemungkinan ini tidak kecil. Terlebih bila peraturan perusahaan tidak melarang adanya hubungan asmara antara para karyawannya.

Sebentar, jangankan kantor besar. Dulu saya pernah bekerja di kantor yang sangat kecil dengan jumlah karyawan tidak lebih dari tujuh orang, dan saya ternyata bisa jatuh cinta dengan salah satunya. Dengan mengesampingkan fakta bahwa memang si karyawan ini tipe kesukaan saya dan single. Intinya, memang percintaan di dunia perkantoran tidak menuntut kantor besar atau kecil. Itu terjadi begitu saja.

Ah, yaaah cinta memang selalu terjadi begitu saja. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada notifikasi, warning, atau peringatan, apalagi somasi pertama dan kedua. 

Jangankan peringatan, seringkali objeknya pun tidak terduga. 

Kembali ke cerita saya di atas, cerita cinta saya di kantor kecil itu tidak berakhir indah. Saya malah bertengkar habis-habisan dengan si karyawan yang saya taksir itu, karena saya jengkel dengan sifatnya. Berbekal pengalaman itu, saya bertekad untuk sebisa mungkin menghindari percintaan di kantor. Karena saya yakin, seprofesional apapun saya berusaha, pada akhirnya hubungan emosional itu akan mempengaruhi kinerja saya (dan mungkin dia).

Tekad itu yang saya bawa ketika saya bekerja di kantor baru yang kebetulan besar, dengan jumlah karyawan hampir 30 orang, dan tidak melarang hubungan asmara antar karyawan. Saya pada awalnya bahkan kaget karena ada beberapa pasangan yang sampai menikah. Dengan kondisi seperti itu, saya yang saat itu berstatus single dan berada dalam kondisi 'digantung' oleh seorang teman pria yang saya taksir, hanya bisa pasrah pada kemungkinan saya akan jatuh cinta pada satu atau lebih rekan kerja pria saya.

Saya membidik beberapa rekan kerja pria yang potensial untuk saya sukai, mulai dari segi wajah, kepandaian, postur tubuh, dan cara mereka memperlakukan wanita. Saya adalah satu-satunya wanita yang ditempatkan di divisi saya, sisanya pria. Dan akhirnya, seingat saya, tidak perlu memakan waktu sampai satu bulan, saya menetapkan target pada salah seorang rekan kerja pria yang duduk di kubikel seberang kiri saya, yang sama sekali bukan salah satu dari pria-pria yang saya duga. 

Mungkin 'menetapkan target' adalah istilah yang kurang tepat juga, karena saya hanya secara alami mulai mengamatinya.

Dan itu menyenangkan. Menyukai rekan kerja ternyata adalah salah satu motivasi untuk saya, untuk kita, datang ke kantor ketika sedang tidak ada hal lain yang menjadi motivasi.

Saya terinspirasi dari kondisi 'menyukai rekan kerja' ini untuk menulis puisi baru. Ada cerita lucu di balik penulisan puisi ini. Awalnya, karena sedang mengobrol dengan sahabat saya di BlackBerry Messenger, saya coba menulisnya di notepad iPod saya. Tapi entah kenapa baru dua baris pertama saya merasa mual sendiri membaca apa yang saya tulis, akhirnya saya putuskan untuk menulis di notepad BlackBerry saya. Dan ternyata saya jauh lebih puas. Entah kenapa menulis puisi di notepad BlackBerry jauh lebih bisa memuaskan saya dibanding di media manapun. Aneh.

Jadi inilah puisinya. Karena lokasinya adalah kantor, saya sejak awal memang ingin memberinya judul 'Cubicle'. Dan entah kenapa jadinya malah konyol, padahal awalnya saya ingin menulis yang lucu dan manis. LOL.

Why does the clock still show 10AM in morning?
As a word pops up in my mind: boring!
How long I should do this thing called typing
While all I want to do is only screaming?

So I look to the left, turn my head around
Damn, why is it you again to be found?
All those pieces of cuteness I can't compound
Bury me in this cubicle, not the ground

Okay, now you're looking back at me
Catching myself drowning in stupidity
Fine, get that printer machine and stay busy
So I can pass you by, pretending to get coffee

Oh, no, the boss wants to get my copy
I go back to my desk, being busy suddenly
Wait, why do you come and now help me
Like I didn't know your indifference clearly?

And here we are now, trapped in a meeting
The hell with else, at you my eyes are glancing
Your voice is the only thing I'm listening
All those concepts, strategies you're explaining

I get my coffee to be brought to my desk
You come to this pantry, now where's my mask?
As you have your tea, I list questions to ask
Seeing your crooked smile, I wish were my task

Cubicle again, hello, I'm back
Typing again, yes, on the screen of this Mac
Now I know that this boredom I can crack
As I feel your sight at me behind my back

Oh ya, karena saya ada waktu, kemarin saya sempat streaming beberapa video klip di YouTube dan menemukan lagu original Alex Goot ini. Sesuai dengan pembahasan mengenai jatuh cinta pada teman sekantor, sepertinya video klip ini mewakili.



8/24/12

Parameter Maaf

Tidak ada yang tidak baik dari memberi dan meminta maaf.

Memang tidak. Memberi maaf itu mulia, meminta maaf itu ksatria. Alangkah baiknya bila setiap manusia saling berbuat salah kemudian saling meminta maaf kepada satu sama lainnya. Saya juga berpendapat sama, tidak kurang dan tidak lebih.

Tapi sebagaimana setiap manusia itu berbeda dan unik, setiap permasalahan pun demikian. Saya berpendapat tidak ada yang salah dengan memberi dan meminta maaf. Namun di sisi lain saya juga berpendapat bahwa hanya keledai yang bisa dua kali jatuh ke lubang yang sama.

Sampai di mana maaf perlu diminta dan diberi?


Setiap orang memiliki parameter berbeda. Pun saya sebagai salah satu manusia yang tidak sempurna. Bagi saya memberi maaf itu mudah, tapi jangan pernah berharap saya meLUPAkan apa yang telah saya terima.

Sebutlah saya pernah melakukan sebuah kesalahan, yang sebetulnya menurut logika saya pun saya tidak mengerti di mana salahnya. Pokoknya SALAH, karena kenyataannya seseorang tersinggung dengan perbuatan saya. Kemudian saya berusaha meminta maaf dan memperbaiki keadaan, namun ternyata yang bersangkutan menolak memperbaiki, hanya bersedia memaafkan. Saya tidak keberatan dan tidak bisa memaksa, memang siapa saya? Sampai di sana, seharusnya masalah selesai.

Tapi kemudian apa perlu saya kembali meminta atau memberi maaf, atau berusaha memperbaiki keadaan ketika dimana seharusnya masalah sudah selesai, yang bersangkutan malah mengungkit-ungkitnya dengan menghina-dina saya, bahkan mengajak orang-orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah untuk membenci saya? 

Keputusan saya bulat: tidak perlu. Saya tidak tolol, bodoh, apalagi idiot. Hanya keledai yang dua kali jatuh ke lubang yang sama.

Mungkin saya egois dan arogan, tapi akal sehat dan hati nurani saya sudah memutuskan hal yang sama. Entah mau berapa kali Idul Fitri berlalu. Baiklah, saya MEMANG egois dan arogan. 

Lalu?

Manusia adalah makhluk dengan segala keterbatasan. Termasuk saya. 

Meminta dan memberi maaf adalah dua tindakan yang tidak ada salahnya, dan betapa mulia dan ksatrianya saya bila menyanggupi keduanya. Tapi seperti manusia lainnya, saya juga punya parameter.  Dan orang dalam cerita di atas saya kategorikan TIDAK LAYAK untuk saya beri maupun mintakan maaf.

Saya manusia, bukan keledai.

8/22/12

Untukmu yang Tak Maju Lebih Dulu

21 Agustus 2012

Kepada Mentari yang Terbit Terakhir
di
Labirin


Bila boleh kuingatkan kembali setiap puing yang tertinggal sejak setahun lalu, pun aku tidak mampu menghitungnya. Terlalu banyak yang terjadi. Bukan dalam kata yang kau ucap kepadaku atau apa yang kusampaikan dalam lisan kepadamu.

Sebagaimana namamu, kau terbit di langitku. Tak kalah dari bintang manapun, termasuk yang bersinar lebih terang darimu. Kau selalu ada, bercahaya, karena aku selalu memenangkanmu meski kamu mentari yang tak biasa. Mentari yang dingin menyerupai gunung es. 

Tapi duniaku selalu melihatmu.

Aku percaya dinginmu akan mencair. Esmu akan meleleh bila aku tak pernah menyerah. Kucoba mencipta apa yang bisa kurangkai dalam kata, bahkan entah bagaimana kubuat pula dalam nada. Semuanya untukmu, semuanya ada karena adamu. 

Ya, aku pernah mencintaimu seperti itu.

Kupintai helaian hari dengan menantimu menginginkanku. Menunggumu mengucap rasa yang sama, memintaku mendampingimu selamanya. Seraya melihatmu berubah dari bongkahan es menjadi cahaya, aku pernah yakin hanya akulah yang gerakkan apa yang kau sebut dunia. Aku menantimu selamanya, dan bahwa kau genggam rasa yang sama aku percaya.

Namun selamanya mulai kurasa terlalu lama. Menunggumu seumur hidup mulai terasa tidak nyata. Aku takkan mau, takkan bisa habiskan waktuku menanti cintamu yang maya. Sementara kulihat cahaya kecil di balik jendela rumah di ujung sana. Sebagaimana aku ingin menantimu, tak kuasa aku menahan kakiku untuk tak melangkah. Aku ingin pulang. Ya, aku lelah mengembara. Bila yang kucari ada di depan mata, haruskah kuabaikan itu demi menantimu? 

Meski mungkin hanya aku yang mampu selamatkan duniamu?

Maaf. 'Tidak' adalah jawabku.

Kucoba sampaikan kepadamu rasaku, namun terhalang oleh waktu. Kucoba meminta lagi waktu kepadamu, namun katamu tak perlu. Maka kuputuskan untuk tidak lagi menantimu. Kubiarkan kau berlalu, tak lagi sinari langitku. Sementara tertatih kucoba susuri jalan pulang, kembali ke mana seharusnya aku berada. Ke tempat dimana tak hanya ada satu rasa, namun dua. 

Kulihat engkau kembali ke dalam labirinmu. Kembali pada dinginmu, kehilangan cahayamu. Kau tertawa, namun bukan yang sesungguhnya. Bila kutanya apakah kau bahagia, dapatkah kau menyambut tanyaku dengan jawabmu?

Bukan aku menghakimimu, karena aku pun tak sempurna. Namun bila kau temukan lagi apa yang kau rasa terhadapku, yang tumbuh dari apa yang kutanamkan dalam duniamu, kumohon jangan lagi kau endapkan tanpa pinta. Tiada satu pun di dunia yang dapat kau miliki tanpa kau ungkap inginmu lewat kata. 

Bila mungkin, ungkaplah pula lewat suara. 

Jangan lagi kau biarkan ia lewat di depan mata tanpa pernah kau meraihnya. Jangan serahkan ia kepada siapapun, berjuanglah untuknya. 

Berjuanglah untuk dirimu.

Terima kasih untuk satu tahun bersama. Tidak milikimu tak menjadi sesal bagiku, begitu banyak yang berharga telah kudapat meski bukan cintamu. Terima kasih telah ajariku mencinta cacat di balik sempurna. Terima kasih untuk nada yang kau lepaskan untuk menjawab pergiku. Terima kasih untuk waktu yang tak pernah kau berikan lagi kepadaku, yang telah mengantarku pulang ke rumah.


Salam,
Aku


p.s: cinta tak dapat menunggumu selamanya, cobalah kau melangkah untuk menggapainya.