5/5/13

The Sign


Aku bukan orang yang religius. Sama sekali bukan.

Aku liberal, berpikir sesuka hatiku. Aku tidak pernah berpedoman pada nilai-nilai religi yang kuanggap tidak bertemu dengan logikaku. Aku beragama, beribadah, tetapi jauh dari apa yang disebut taat, apalagi religius. Dan kamu tahu itu.

Tapi pagi ini terjadi sesuatu yang kurang lebih berunsur religi.

Sejak sekitar tiga bulan yang lalu, aku mengisi tempat kosong untuk les mengaji di rumahku. Tadinya aku tak ikut karena malas, tapi karena memang tidak ada kerjaan di hari minggu pagi, aku setuju. Memasuki bulan ketiga, aku sampai pada surat An-Nisa. Tepat di bulan ini pula aku lagi-lagi mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan. Ya, aku terpaksa menyetujui permintaanmu untuk berteman saja, karena aku tidak sampai hati untuk memaksamu tetap berperan menjadi lebih dari temanku. 

Pada saat aku memasuki surat An-Nisa, guru ngajiku mengatakan hal yang membuatku hanya bisa tersenyum miris.

"Nanti mbak baca surat ini pas menikah," katanya.

Aku tidak berkomentar selain "oh ya?" lalu tertawa kecil. Lucunya, sepertinya ucapan itu terus melekat di benakku hingga setiap hari minggu pagi saat membaca surat itu, aku tidak pernah tidak menangis. Aku tidak paham mengapa menangis, tapi kurang lebih aku pasti merasa ironis membaca surat yang harus kubaca di hari pernikahanku nanti, sedangkan seseorang baru saja menyatakan tidak bisa menjadi lebih dari temanku.

Sampai pada sesi mengaji pagi tadi, aku masih juga membaca surat An-Nisa. Lalu aku sedikit tergelitik pada saat menemukan namamu dalam surat itu. Tentu tidak kusengaja, karena aku menemukannya sambil melafalkan satu ayat yang setelahnya baru kusadari aku mengucapkan namamu. Entah apa artinya, aku tidak ingin menginterpretasikannya lalu berharap dan kecewa. 

But if it's me reading the signs...

Hahaha. Tidak, tak akan kulakukan. Aku hanya ingin mengutip line dalam drama Hollywood favoritku, Silver Linings Playbook.

Tapi kuakui, aku kacau semenjak resmi hanya menjadi temanmu. Aku bisa hidup tanpamu, tapi yang kujalani seperti bukan hidup yang kupilih. Entah ini hanya post-breakup syndrome atau apa. Aku merasa seperti menjalani hidup sekedar karena hidup harus berjalan terus. Mungkin seperti lagu Anang, aku merasa separuh jiwaku pergi.

Benarkah yang kamu katakan bahwa kamu tidak jatuh cinta padaku selama ini?

Awalnya aku percaya, dan akhirnya malah mengeluarkan pengakuan bahwa akulah yang selama ini tidak mencintaimu. Tapi kemudian aku berpikir dan mengingat. Lalu aku sampai pada pemikiran bahwa selama ini yang kulihat dan kurasa adalah kamu mencintaiku. Kamu mencintaiku dan membuatku merasa bersalah setiap hari hingga satu-satunya penebusan rasa bersalah yang dapat terpikir olehku hanyalah dengan kebaikan hati. 

Ya, kebaikan hati yang katamu entah kenapa tak membuatmu jatuh hati.

Tentu saja. Kebaikan hati tanpa cinta yang tulus tak akan bisa menjatuhkan hatimu.

Mungkin aku lebih mempercayai cintamu daripada acuhmu dengan mata yang melihat senyummu lebih nyata daripada engganmu, dengan telinga yang mendengar detak jantungmu lebih jelas daripada hela nafasmu, dan dengan hati yang menerima ketulusanmu lebih banyak daripada harapan yang katamu tak sanggup kamu beri. Mungkin itulah mengapa saat kamu tidak ada, hatiku seolah mati.

Aku mencintaimu. Meskipun ternyata tidak, akan kubangun cinta untukmu meski harus menghabiskan seluruh sisa hidupku. Dan aku lebih memilih untuk hidup dalam ketidakpastian bersamamu daripada tanpamu.  

4/18/13

Bolehkah Aku Merindu?


Bolehkah aku merindu?

Padamu yang pernah beri warna di hari-hariku.


Sebut aku labil, atau panggil saja aku dengan istilah apapun yang kamu tahu. Karena aku tidak peduli katamu. Apa yang kurasa tak dapat berubah hanya dengan hinamu. Aku rindu. Aku merindu. Aku ingin kembali pada kita di saat itu.

Tak sampai satu tahun kamu di sisiku maupun aku di sisimu. Aku datang tak jauh sebelum pergimu, satu per satu. Pedih menguasaiku. Perpisahan tak pernah menjadi momen favorit dalam hidupku. Saat aku mulai pahamimu dan kau mulai menerimaku, aku dipaksa untuk menerima bahwa kau tak putuskan untuk tetap di sisiku. 

Bolehkah aku merindu?

Pada kita yang jalani hari bersama dalam waktu.

Lalu datang lagi dirimu yang baru. Dalam luka kuterima dan kucoba persembahkan cintaku. Aku tak pernah lupa senyummu. Tak sedikitpun kamu pernah kecewakanku. Rasa yang kuberi dengan keretakan hati kau terima tanpa syaratmu.

Namun kali itu giliranku. Bertahan di sana semakin mustahil bagiku. Ini bukan tentang dirimu. Bukan juga tentang rasaku padamu. Kepergian adalah satu-satunya pilihan bagiku. Dan aku tak bisa menunggu. Meski sungguh, adamu menahan langkahku. Betapa ingin aku tetap di sampingmu, lewati waktu. 

Bolehkah aku merindu?

Padaku di sisimu, dan padamu di sisiku.

Karena kini kita terpisah, tak lagi satu. 

Karena kini kita terurai menjadi serpihan debu.

Bolehkah aku merindu?

p.s: untuk kalian yang tak sampai setahun bersamaku di sana, menemani hari-hariku, beri mentari pada mendungku, menjadi pelangi setelah hujanku.

4/10/13

Love, Lies


Hai kamu.

Aku masih juga kaget sampai hari ini. Sebelum dan sejak kamu meminta untuk menyudahi hubungan kita, aku banjir air mata. Menangis tanpa henti. Insecure. Ketakutan. Tapi lihat sekarang, aku tertawa. Tidak ada sedikitpun air mata yang keluar sejak akhirnya kita sama-sama sepakat untuk menyudahi.

Kurasa aku lega. Bukannya aku tidak pernah sama sekali menyukaimu. Tentu aku sangat menyukaimu, kalau tidak aku tidak akan pernah meminta untuk memulai denganmu. Aku sangat menyukaimu entah sejak kapan, sepertinya sejak aku ribut dengan pacarku yang sebelumnya. Kupikir kamu manis dan pintar, terlebih kamu teman yang menyenangkan. Meski secara fisik dan usia kamu bukan tipeku, aku tetap menargetkanmu setelah putus dengan pacarku dulu.

Lalu kita mencoba untuk menjadi lebih dari teman. Kamu menyenangkan, baik hati, bahkan memperlakukanku dengan layak melebihi pria manapun yang pernah kukenal dan jadi pacarku. Aku bahagia. Sayangnya kebahagiaanku terganggu dengan bisikan-bisikan hatiku. 

'Benarkah aku mencintaimu?'

'Benarkah aku tidak lari dari mantan pacarku?'

'Benar atau tidakkah hubungan ini kujalani?'

Sejak awal sampai akhir hubungan, pertanyaan-pertanyaan itu kerap menghantui benakku. Untuk mengatasinya, kuabaikan dengan terus bersamamu. Kupikir karena kamu tetap memperlakukanku dengan layak, aku akan bisa belajar mencintaimu dan mempertahankan hubungan itu. Aku membuat investasi. Aku pun memperlakukanmu dengan tidak kalah layaknya sebagai balasannya. Aku berkali-kali mengatakan mencintaimu.

Berkali-kali.

Itulah tanda bahwa aku tidak pernah mencintaimu.

Bila benar aku mencintaimu, aku akan sulit menyatakannya. Sebelum mengatakannya aku akan kesulitan dulu untuk mengatasi jantungku yang berdebar sangat cepat. Pernyataan cinta tidak pernah tidak membuatku gugup. Lagipula aku cenderung baru akan menyatakan itu setelah mendengar pasanganku mengatakannya padaku. 

Dan seperti yang kusampaikan padamu, aku mengatakan mencintaimu bukan untukmu. Mungkin untukmu, tapi juga untukku sendiri. Aku meyakinkan diriku bahwa itulah perasaanku. Aku sedang merapal mantra kepada diriku sendiri agar bisa mencintaimu. Kenapa? Karena kamu layak dicintai.

Tapi andai perasaanku itu benar cinta, aku tidak perlu lagi meyakinkan diriku untuk mengatakannya, atau mengatakannya untuk meyakinkan diriku. Karena aku sudah merasakannya. Aku hanya akan butuh momen dan keberanian besar untuk mengatakannya.

Entah apa kesalahanmu sampai aku tidak bisa mencintaimu. Kamu sempurna sebagai pasangan ideal, terlepas dari usiamu yang belum siap untuk menaiki jenjang pernikahan. Kamu tidak pernah salah. 

Karenanya, ketika semalam kamu dengan jujur menyampaikan bahwa selama ini kamu tidak pernah mencintaiku, hanya menjalani hubungan karena merasa sendirian, dan hanya untuk bersenang-senang, aku kecewa tapi sekaligus lega. Aku yang tadinya sudah memendam banyak air mata, tiba-tiba merasa ditampar dan disadarkan bahwa perasaanku kepadamu pun sama: tidak ada. Aku semakin lega ketika kamu mengatakan tidak pernah marah bila aku menyebut-nyebut mantan pacarku selama ini, apalagi ketika kamu mengatakan bahwa kamu bohong saat mengatakan mencintaiku juga.

HHH.

Entah apa yang kita lakukan. Yang aku lakukan. Aku tidak pernah berbohong ataupun berpura-pura selama ini, tapi nyatanya kulakukan. Padamu. Bersamamu. 

Namun bagaimanapun juga, perasaanku yang menyukaimu karena kamu manis, pintar, dan menyenangkan bukan bohong. Aku mungkin bisa saja mencintaimu andai kamu balas mencintaiku dan berusaha membuatku mencintaimu. Sayangnya kamu tidak punya perasaan itu, jadi aku pun tidak punya alasan untuk berjuang bukan? Tapi aku sungguh-sungguh menyukaimu, itu bukan bohong. Hanya saja kupikir...itu bukan cinta.

Aku sedikit berharap kita masih punya kesempatan sekali lagi. Kali ini untuk benar-benar jatuh cinta. Dan kali ini untuk benar-benar jatuh cinta karena cinta itu yang memilih kita. Karena kamu merasakannya, begitu juga denganku. Bukan karena merasa kesepian. Bukan karena butuh tempat pelarian. Bukan karena kamu layak dicintai atau aku layak dicintai, karena layak ataupun tidak, kita akan tetap saling mencintai saat cinta itu ada.

Kita melewati hari-hari yang menyenangkan berdua tanpa saling mencintai. Kupikir akan jauh lebih menyenangkan bila kita saling mencintai suatu hari nanti, entah kapan, dan entah akan terjadi atau tidak.

Someday, if we were written to be together, I hope we can be ourselves. No lies, no pretending, just the way we are, falling in love with each other.

Sekian dariku. Terima kasih untuk hari-hari yang sangat menyenangkan. Terima kasih sudah menyukaiku dan memperlakukanku dengan sangat layak. Untuk selanjutnya, mari kita menjadi teman baik, karena kode etik profesi kita mensyaratkannya, bukan?

HAHAHA.

4/7/13

With or Without Hopes?


'but I can't promise you anything in these near years'

what would you do if your lover told you that? he or she currently has no intentions to marry you due to many reasons that you consider as logical. Meanwhile there has never been any problems during your relationship and your lover is adorable.

will you just break up?

what if the condition is a contrary, your lover promised to marry you, to introduce you to his or her parents, to somehow get you two there...but in the end you two just end up separated? in the end you two break up and there is never such a thing like marriage happens to you two?

I think both conditions are not so different.

I think it's normal, especially for young people, to spend much time before thinking to upgrade a loving relationship to the higher stage. I think to consider that we want to marry someone could not be decided quickly, as we need time to know each other so that we could finally decide whether this person is worth a marriage or not.

You can say I'm naive, but I really consider those two things abovementioned, like which one is better. And maybe we better walk a loving relationship without empty hopes instead of with hopes that could not be fulfilled in the end.

4/5/13

Rekan Semeja


-Pukul 13.30 waktu kantor-

Ya, kantorku seperti punya zona waktu sendiri, yang sepertinya melenceng dari Waktu Indonesia bagian Barat. Membosankan.

Kumundurkan kursiku menjauh dari keyboard komputer, lalu kuhela napas. Aku muak mengerjakan dokumen sidang yang entah kapan akan selesai ini. Sidangnya, bukan dokumennya.

Kukerlingkan mata ke arah serong kiri, ke sudut kubikel. Kamu masih juga duduk di sana, di hadapan komputer, mengetik dokumen yang bukan urusanku, associate di bagian litigasi. Kamu yang datang ke hadapanku saat aku tidak sendiri. Dan kini, saat aku kembali sendiri namun belum sepenuhnya move on, tiap kali melihatmu aku merasa bodoh bila tidak move on juga.

Aku tersenyum geli. Otakku sudah rusak. Usiamu lebih muda empat tahun dariku. Aku sudah harus menikah, tidak seharusnya aku menargetkanmu. Seumur hidupku, seluruh mantan kekasihku pun lebih tua dariku, termasuk yang terakhir. Tapi kamu pintar, lebih dari pria manapun yang pernah kukenal, bahkan yang lebih tua. Pikiranmu terbuka, jiwamu bebas. Kamu tidak akan menghakimi orang selain karena perbuatannya. 

Mana bisa aku tidak jatuh cinta padamu? 

Kutinggalkan kubikelku, aku menuju ruang komputer yang khusus tersambung internet. Ya, sudah kubilang kantorku gila, komputer kami tidak tersambung internet. Aku mengobrol dengan teman-temanku yang juga sedang berkumpul di sana. Lagi-lagi aku menghela napas.

Aku berencana meninggalkan kantor ini pada akhir Januari. Kantor lain sudah menungguku di awal Februari. Tapi bagaimanapun gilanya, aku menyukai teman-temanku di sini. 

Aku juga belum berhasil mendapatkanmu. Setidaknya memastikan perasaanmu padaku.

Kutengok ruang kerja. Holy shit, si managing partner masuk ke ruang kerja kami. Dia tampak mondar-mandir melakukan entah apa di sana, membuatku dan teman-temanku tidak ingin kembali ke ruang kerja. Tapi aku tahu tidak mungkin terus-menerus di sana, lagipula aku penasaran kenapa dia mondar-mandir di sekitar kubikelku tadi. Kulangkahkan kakiku melintasi kubikel demi kubikel.

'Hey...' 

Mendengar suaramu, aku menoleh. Kamu tersenyum canggung.

'Ya?' tanyaku sambil tersenyum. Kamu, dengan senyummu yang canggung, menggerakkan kepalamu seolah ingin menunjukkan sesuatu kepadaku. Aku mengernyit, menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Kamu dengan senyum canggungmu tetap mengarahkan kepalamu ke tempat yang sama. Kulihat diriku sendiri. Tidak ada yang aneh dengan pakaianku.

'Eh, elo pindah ke mana?'

Kudengar suara beberapa temanku saling menanyakan pertanyaan itu. Lalu kulihat managing partner masih sibuk menempelkan sesuatu pada kubikel kami. Aku terkesiap. Kudekati mejamu perlahan, kulihat sisi kubikel tempat inisial nama karyawan ditempelkan.

'Oh!' pekikku. Ada namaku di sana. Di sebelah namamu.

Aku menjadi teman sekubikelmu. Teman semejamu. Deskmate. 

Aku yang selama ini bekerja jauh darimu, hanya bisa memandangimu dari sela-sela komputer teman semejaku, akhirnya datang ke sisimu. Kulirik wajahmu, dan kamu masih tetap dengan senyummu yang canggung. Lalu aku kembali ke kubikelku, duduk. Terbayang di depanku hari-hari kerja yang akan menjadi jauh lebih menyenangkan di kantor gila ini.

-Pukul 14.00 waktu kantor-
 
Andai pengunduran diriku belum kuputuskan...

p.s: Dari kisah nyata pengalaman pribadi tanggal 26 Desember 2012 yang ditulis dalam rangka suatu trimester.


Postingan ini belum selesai. Jangan panggil aku Fitria kalau puas hanya dengan cerita dan gambar. Aku juga sudah menyiapkan puisi dari kejadian yang sama. Tadinya ada dua puisi, satu berjudul Desk & Mate yang kutulis kalau tidak salah di hari kejadian atau sehari setelah kejadian, aku lupa. Satunya lagi baru kutulis, judulnya Suddenly Deskmate. Untuk postingan ini kupilih yang terbaru karena lebih menggambarkan kondisi pada cerita di atas. 

I saw the wicked boss entered main room
I moved away, running from her sight

Bored, thinking of my last months in gloom
While most of my friends were on my side

Time was up, I walked to my chair
As you called my name, I nervously fixed my hair

You said your 'hey' and nodded awkwardly
I had no idea, turned my head anywhere around
As wicked boss sticked something carefully
I moved to your desk, made an 'oh' sound

So we were pronounced as mates of a desk
As you picked me up in the locker next day
Side by side we both lost questions to ask
As time slowly tangled us into the right way

A fateful day turned my days better
I came to work like it did not matter
 

The typed keyboard blended with heartbeat
Was all I heard since we were suddenly deskmates
Your smiling eyes just turned up the heat
As if the air cooked raw meat in my plates

I doubted myself to resign much earlier
While hoping for office hour to be forever