10/23/13

How Audio?


How audio are you?



Katanya pria itu makhluk visual. Wanita itu makhluk audio. Pria menyukai hal-hal yang enak dilihat, sedangkan wanita menyukai hal-hal yang enak didengar. Itu mengapa pria menyukai wanita cantik (bagi yang straight) dan wanita menyukai pria yang pandai merayu (ya, bagi yang straight juga tentunya).

Katanya.

Benarkah? Seberapa benar?

Mungkin secara garis besar itu memang benar. Sebagaimana wanita yang merupakan makhluk audio, gue memang senang mendengar perkataan indah. Bukan dalam bentuk kata-kata puitis dan kalimat berbunga, karena bagi gue yang juga seorang penyair-wannabe itu hanya akan terdengar sebagai gombalan tidak berarti. Tidak perlu juga sampai menciptakan lagu cinta untuk gue, karena andai gue bisa memainkan alat musik, gue juga pasti sudah menciptakan lagu cinta entah berapa banyak. 

Lalu apa yang senang gue dengar?

Mungkin perkataan yang menenangkan. Mengejutkan. Disampaikan secara tidak terduga. Tidak puitis, tapi lebih kepada lugas dan mudah gue tangkap. Sebagaimana pernah gue tulis di postingan sebelumnya, gue tidak pandai membaca kode. Gue suka berburu, tapi tidak pandai membaca isyarat yang diberikan oleh buruan gue, sekalipun isyarat itu adalah untuk menangkapnya. Kurang lebih sama seperti gue senang jalan-jalan, traveling, tetapi gue tidak bisa membaca arah alias buta arah.

Yah, gue memang menyukai tantangan yang seperti itu.

Dan ternyata ada hal lain yang senang gue dengarkan selain perkataan yang menenangkan dan mengejutkan, yaitu penjelasan yang disampaikan oleh pria dengan tingkat intelektualitas tinggi. Tidak disampaikan dengan menggunakan istilah-istilah teknis suatu bidang, melainkan menggunakan kalimat dalam deskripsi yang bisa gue, atau orang awam, terima. Penjelasan yang tidak membuat gue merasa bodoh, melainkan membuat gue merasa ruang-ruang pengetahuan gue yang kosong akhirnya terisi.

Intinya, gue memang lemah dengan pria cerdas. Dengan para penangkap hati yang  kecerdasannya membuat gue ingin berlari memburu mereka.

Pria cerdas yang pandai bicara, meski bukan berarti pandai bergaul dan social butterfly, biasanya akan berinteraksi sangat baik dengan gue melalui obrolan. Dan tidak ada yang membuat gue ingin memburu seseorang lebih dari obrolan yang menyenangkan, yang membuat gue ingin dan ingin lagi melakukannya, bila perlu dalam 24/7/365. Setampan-tampannya pria, se-ideal apapun bentuk dan ukuran tubuhnya, tidak akan ada artinya jika dia tidak bisa menjaga obrolan yang menyenangkan dengan gue.

Jadi benar, gue memang makhluk audio. Makhluk audio pemburu pria cerdas yang bisa diajak mengobrol sepanjang waktu, obrolan mana tidak akan pernah membosankan karena selalu dan selalu ada bermacam topik baru yang bisa kita bicarakan.

Berangkat dari pemikiran gue tentang topik di atas, gue terinspirasi menulis puisi baru tentang penangkap hati yang gue sebutkan di atas. Here it goes.

I was about to text you 'good morning'
Yet your long messages blew it away
About BBM for Android you kept texting
Drowned in long talk as we've been this way

One month passed without we notice
We passed by, remembering all these

We were both strangers to each other
While our places have been the same forever
Who knew we turn to share every laughter
And the songs we sing have made it better?

I studied where you did, live where you do
Like peas in one pod, we are that same two
Patapoko puzzle that now you're so into
Did you play it for you know I love to?

I was afraid you'd kidnap me when we meet
Instead, your speech got my heart abducted

Your eyes stole mine when you slash Microsoft
I asked questions like kissing your sight
Line Offline locked us in our own croft
Into cakes and ale tying us tightly side by side

Clovers you sent now are not enough
Heartcaptor, in my world you're turning rough

(Heartcaptor, October 22, 2013)

8/27/13

(Akhirnya) Puisi Baru Lagi


YAHOOOO!

Tadinya gue mengira gue udah nggak bisa lagi menulis puisi. Terakhir gue buat itu sekitar awal April pasca dramatic break-up terakhir gue, itu pun semacam...yaaah, formalitas. Isinya kurang emosional.

TAPI!

Ternyata kejadian lucu di pesta pernikahan sahabat gue minggu malam kemarin malah membuat gue terinspirasi. Bukan, bukan pernikahannya yang menginspirasi, tapi siapa yang gue temui dan bagaimana kami semua berinteraksi kemarin. Yah, tidak penting untuk menyebut detil pernikahan siapa dan siapa saja yang gue temui, pokoknya seperti itulah.

Mungkin gue ingin mengutip sepatah dua patah lirik dari lagu Whitney Houston yang kebetulan baru gue ketahui pada saat mendengarkan Glee cast menyanyikannya.

I get so emotional, Baby
Everytime I think of you
I get so emotional, Baby
And it's shocking what love can do

Ya, gue akui, setiap berinteraksi dengan orang ini gue selalu merasa emosional. Entah dalam artian positif atau negatif, karena kebetulan gue sudah pernah merasakan keduanya. Tapi kali ini gue merasakan emosi positif, makanya gue bisa mengeluarkan frasa baru yang sangat gue suka hingga gue jadikan status di BBM: Last Puzzle Piece.


Berangkat dari tweet siang tadi yang tidak mencapai 140 karakter, yang juga mengandung frasa itu, gue tertarik untuk sekali lagi mencoba berpuisi. Sayangnya mungkin hasilnya tidak...sesuai. Maksudnya antara isi dan judulnya tidak sinkron. Yah, tadinya gue berencana untuk membuat kerangka tema dengan mem-breakdown kata dan kalimat apa saja yang harus muncul, tapi ternyata gue keburu malas. Keburu memegang BlackBerry dan membuka aplikasi NotePad untuk menulis puisi baru.

Last Puzzle Piece sebenarnya ingin menyampaikan bagaimana seseorang, dengan caranya yang tidak dapat diterka logika, menjadi potongan puzzle yang melengkapi sebuah gambar puzzle, dalam hal ini melengkapi hati dan hidup si subyek pertama dalam puisi. Sayangnya sepertinya gue terlalu asyik bermain pada sisi historis kedua subyek puisi, sehingga 'cara yang tidak dapat diterka logika' tersebut tidak sempat terungkap. Yah, memang gue sendiri nggak punya ide untuk mengungkapkan itu. 

Memang menyedihkan kalau punya bakat nanggung. Ah bakat apaan, ini kan hanya coretan iseng untuk mengisi waktu luang (T_T)

Ya sudah, selamat menikmati Last Puzzle Piece. Do you like it or hate it?

It has been more than one year ago
More than the day that we first met
I have not forget how you choose to go
Leaving a hole in my earth like a comet

But nothing changes since that day
We never really said hello to goodbye

I burned all the pictures of us to ashes
Hatred overwhelmed us to stab each other
While in the ocean we failed to find fishes
Inseparably we were stuck with each other

I saw you again as I caught your eyes
Every dispute disappeared in one single blink
As if you brought the last of my puzzle pieces
When you were near, you kept my ship sink

This is the moment to admit honestly
We never really moved out of you and me

Farewell to pretendings we committed
I watch you from here, acknowledging my love
Singing my lullaby loud for you to be kept
Through your heartpod, creep into your cave

With you within, my life is whole
The empty space is filled by your role

(Last Puzzle Piece - August 26th '13)

7/25/13

Jodohmu, Makanan Favoritmu


Dulu pernah ada teman yang bilang begini:

'Daerah asal makanan favoritmu bisa menjadi acuan petunjuk dari daerah mana jodohmu akan berasal'.

Yeah sure, Dude, you already married him.

Tapi mungkin bisa jadi benar. Si teman ini memberi contoh yaitu kakaknya sendiri, yang sangat suka dengan Pempek Palembang dan akhirnya menikah dengan pria Palembang. Contoh berikutnya adalah si teman sendiri, yang sangat suka dengan Bakso Malang dan akhirnya menikah dengan pria Malang.

*sebentar, gue mau ngikik dulu*

Beralaskan cerita teman gue itu, gue mencoba meyakini bahwa mungkin memang jodoh gue bisa ditelusuri dari makanan favorit. Gue sempat berpacaran dengan pria Minang, dan saat itu gue menyadari bahwa gue memang sangat menggilai Nasi Padang, dan gue memiliki kekaguman tersendiri pada detil bumbu pada kuliner asal Sumatra Barat. Saat itu gue berpikir 'oh, benar juga nih' terhadap teori teman gue, mungkin saja 'kan, si pacar waktu itu memang berjodoh dengan gue.

Tapi akhirnya toh kita putus, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda akan kembali baik dalam waktu dekat maupun waktu yang akan datang. 

Setelah itu gue berpacaran dengan pria Cirebon. Alright, Dude, you are so right, karena gue sejak kecil sangat suka dengan udang yang notabene populer dibudidayakan di Cirebon. Setelahnya gue baru mengetahui pula bahwa Empal Gentong yang membuat gue jatuh cinta pada jilatan pertama di acara pernikahan teman gue yang lain juga ternyata berasal dari Cirebon. Fix, jodoh gue pasti pacar gue.

Tapi nyatanya kita putus juga, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kita berjodoh. 

Lalu dari mana jodoh gue akan berasal?

Tentunya gue harus bisa menjawab dulu pertanyaan 'apa makanan favorit gue?'. Sayangnya sampai sekarang gue masih belum bisa menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang tegas ( T _ T )  Terlalu banyak makanan yang gue sukai. Gue suka nasi Padang, udang, telur, cokelat, sushi, pasta, pizza, sandwich, hamburger, soto, sate, gorengan, jeroan, dan masih banyak lagi makanan yang belum bisa disebutkan di sini.

( T _ T )

Sepertinya teori teman gue itu nggak bisa diterapkan untuk gue, hanya bisa untuk dia dan keluarganya. Atau mungkin bisa untuk orang yang punya hanya satu makanan favorit yang benar-benar favorit.

Ngomong-ngomong, gue suka cokelat, seperti halnya nama blog ini, chocofit, nama yang gue ambil dari karakter Sanrio, ChocoCat, kali ini dengan menggabungkan nama salah satu makanan favorit gue dengan nama panggilan gue.




Apa mungkin gue akan mendapat jodoh dari tempat di mana cokelat berasal atau diolah? Mungkin dari Belgia? Atau...dari daerah yang menganggap cokelat adalah makanan para dewa, Suku Inca? :|

6/20/13

Denial


The ones that hurt you are the ones that needed you the most.

Kalimat itu gue baca di postingan text seorang teman di Path. Gue diem waktu baca kalimat itu. Pertama, itu mungkin benar. Kedua, itu tidak masuk di logika gue.

Gue mulai dari alasan nomor dua: tidak masuk di logika. Hello, kalo emang lo butuh kenapa lo nyakitin orang itu? Apa lo berpikir bahwa meski disakitin, orang itu akan selalu ada dan selalu memaafkan lo? Selalu kembali ke elo? Nggak, bro! Setiap manusia punya keterbatasan, dalam hal ini batas kesabaran. Akan ada saatnya mereka muak disakitin sama lo. Oke, kecuali orang tua, keluarga. Tapi dalam pertemanan, percintaan, pekerjaan, lo nggak bisa seperti itu. Lo suka, lo butuh, ya lo perlakukanlah orang sebagaimana mestinya. Nggak usah denial, buat apa denial? Apa akan membuat keadaan jadi lebih baik? Apa akan menunjukkan progress? Menunjukkan kemunduran iya.

Alasan nomor satu: itu mungkin benar. Terkadang cinta yang besar malah bisa berbalik menjadi kebencian, atau penyangkalan (denial). Jujur, gue pernah mengalami ini. Gue punya pacar yang gue cinta banget, bahkan sampai setelah putus, mungkin sampai sekarang saat gue menulis portingan ini. Apa yang gue lakukan? Denial. Berusaha mengusir cinta gue. Waktu putus, gue bertekad gue harus move on segera. Gue sampaikan itu ke seluruh dunia. Kenapa? Karena gue nggak rela punya perasaan cinta buat dia. Gue merasa cinta itu harus lenyap. Akhirnya gue punya pacar baru. Lalu apakah gue move on? Tidak.

Yang gue lakukan selama periode pacaran dengan si pacar baru adalah mem-bully si mantan dengan memamerkan pacar baru gue dan menyindir lewat quote lirik lagu. Itulah bukti gue tidak move on. Bukti gue masih cinta. Si mantan masih menginap di relung hati dan benak gue, meski sebagai obyek kebencian. Aksi-aksi kebencian gue pun sebagai bentuk penyangkalan bahwa gue masih cinta dia dan perasaan gue nggak cukup kuat ke si pacar baru.

Tapi yang gue lakukan murni penyangkalan. Bukannya gue butuh dia. 

Untuk pernyataan 'butuh', gue punya contoh lain, yaitu si mantan yang gue bicarakan di atas. Dulu sempat terjadi clash antara gue dan dia pasca putus, dimana gue me-remove dia dari medsos, phonebook, dan BBM contact. Ternyata dia kebakaran jenggot lalu mengerahkan dua sahabatnya (yang juga teman2 baik gue) untuk melobi gue supaya dia balik lagi ke medsos gue, which was also kedok untuk balikan. Akhirnya gue kembalikan dia ke medsos dan hape, lalu kita berusaha menyelesaikan clash itu. Setelahnya gue coba membangun komunikasi yang baik lagi, tapi tanggapan dia nggak ada perubahan dari sebelumnya. Pernah gue ajak dia kumpul2 sama temen2, dia nggak bisa, gue bilang ya udah, eh dia marah2 seolah2 gue bete dia ga bisa. Ya kaliii -_- pernah juga kejadian gue iseng nyapa dia randomly, eh dia jawab lagi nggak mood. Nah, moment 'lagi nggak mood' itu gue jadikan titik akhir pencarian jalan balik, lalu gue pacaran dengan si pacar baru.

Ternyata selama gue pacaran dengan si pacar baru, si mantan labil ini suka nanya2in kabar gue ke temen2 gue dan sering posting2 kata2 atau lagu2 galau di Path. Aih...keliatan banget gagal move on, padahal dulu clash-nya sama gue itu karena dia deket sama cewek lain (sampai foto mesra gandeng2an tangan). AIIIH. Lalu setelah gue putus dengan si pacar baru, gue coba lah bangun komunikasi sama dia. Gak juga loh berubah. Gue tanya nomer hapenya yang notabene hilang karena gue save di BlackBerry yang dihilangin sama service center, jawabnya apa? Dia bilang gue delete nomer dia, dan dia nggak peduli sama penjelasan gue. MATIK.

I know he acts that way to deny that he still loves me. He needs me. It's obvious. 

Meanwhile, I'm a fact-minded. Kalo tindakan nyata tidak mencerminkan apa yang diinginkan, ya gue akan anggap dia tidak menginginkan hal itu. So, I walk away and for the second time remove him from all social medias and BBM contact. Perlakuannya ke gue udah gue anggap melewati batas kewajaran dan gue bisa sinting kalo tetap membiarkan dia ada di dunia gue.

So, it might be true that the ones who hurt you most are the ones who need you most. But to me, that kind of statement will be statement, because what I need is action to show that I'm needed, and not anything backwards.

6/9/13

Dua Kaki


Love is a ruthless game unless you play it good and right

Gue setuju sama penggalan lirik State of Grace-nya Taylor Swift di atas. Cinta itu kejam, tinggal tergantung attitude kita terhadapnya.


Belakangan ini entah kenapa gue lihat banyak orang yang 'bermain di dua kaki'. This is not a new term, I guess, but maybe not everyone figure it out. Jadi ini adalah kondisi di mana seseorang yang sudah berpacaran dengan satu orang mengaburkan statusnya untuk mendekati orang lain yang ia sukai.

Gue pribadi memandang ini bukan hal yang seratus persen salah, karena namanya masih pacaran artinya belum ada ikatan yang legal seperti halnya menikah. Gue juga tidak bisa menilai ini hal yang salah, ketika kedua orang yang sepakat untuk berpacaran membuat 'kesepakatan lain' untuk tidak saling mengikat satu sama lain, just in case di tengah-tengah hubungan salah satu atau keduanya akan bertemu dengan orang yang lebih baik.

Tapi, apakah gue setuju?

Jawaban gue adalah tidak.

Bagi gue, ketika gue memutuskan untuk berpacaran dengan seseorang, gue berkomitmen dengan dia dan dengan diri gue sendiri. Memang bukan secara hukum, tapi memangnya setiap komitmen harus dilakukan secara hukum? Gue berkomitmen bahwa dengan gue menjadikan dia pacar gue, gue memberi kesempatan kepada dia dan diri gue sendiri untuk berbagi apa yang tidak kita bagi dengan orang lain. Bahkan dalam kasus gue, gue berhenti memohon, katakanlah berdoa, agar dipertemukan dengan jodoh gue. Kenapa? Karena gue sedang memberi kesempatan kepada pacar gue. Siapa tau pacar gue inilah jodoh gue. Jadi redaksional permohonan/doa gue berubah sedikit, menjadi permohonan agar jalan gue bertemu jodoh dilancarkan.

Jadi, kalau gue menemukan orang yang sudah berpacaran tapi masih mendekati orang lain, ya gue cukup tau aja. Of course I'm going to lack respect, but only in relationship issue, bukan berarti gue berhenti berteman dengan orang itu. 

Dan bagaimana kalau yang didekati oleh orang yang sudah berpacaran itu adalah gue?

Tiada ampun. Bahkan apabila dia dengan pacarnya sudah membuat 'kesepakatan lain' sekalipun. Jangan coba-coba sama gue sebelum dia selesaiin urusannya sama pacarnya.

Bermain di dua kaki boleh-boleh aja. Tapi tempatkan kedua pijakan di posisi yang sama. Satu pijakan aja udah berada di posisi yang lebih tinggi, itu namanya berkhianat. Jujur, gue pernah bisa dibilang melakukan permainan dua kaki ini. Tapi posisi kedua pria itu waktu itu sejajar: bukan pacar gue. Salah satu dari mereka mantan gue, dan satunya lagi semacam target baru. Si target baru ada di sekitar gue dan sering ketemu gue tapi jarang berkomunikasi via alat komunikasi, sedangkan si mantan jauh dari gue dan lebih banyak berkomunikasi via BBM. Posisi mereka sama, tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi, tidak ada yang lebih gue sukai, tidak ada yang lebih gue harapkan. Yang manapun yang nanti jadi pacar gue tergantung pada kejelasan dan ketegasan sikap mereka.

Akhirnya si target baru-lah yang jadi pacar gue karena dia lebih tegas dan jelas. Si mantan harus gue tinggalkan. See? Seperti itulah seharusnya permainan dua kaki dilakukan. Pemain harus berada dalam kondisi tidak berbohong, tidak perlu berbohong, dan tidak masalah bila berbohong. Zero area. Gue tidak berbohong, karena tidak ada yang bertanya. Gue tidak perlu berbohong, karena kondisi gue saat itu sedang sendiri sehingga gue bebas melakukan apa pun. Dan sekalipun gue berbohong, tidak boleh ada yang mempermasalahkan karena gue tidak terikat.

This is a state of grace
This is a worthwhile fight
Love is a ruthless game
Unless you play it good and right